
Syafira bangun lebih pagi dari biasanya. Ia pergi ke dapur dan bergegas untuk membantu Mbok Atun dan Anik memasak. Entah mengapa ia ingin sekali membantu mereka memasak karena ia tidak punya kegiatan di pagi hari.
Tampak Mbok Atun sedang memasak lauk sementara Anik membantu mengupas dan memotong sayuran.
“Mau coklat hangat tawar Anik?” Kadang-kadang Syafira bangun pagi dan meminta Coklat hangat dan juga cemilan untuk dikonsumsinya di pagi hari sebelum sarapan.
“Tidak perlu Mbak Anik, aku disini untuk membantu kalian menyiapkan sarapan pagi,” jawab Syafira ia mencari pisau di rak. Kemudian memilih duduk bersama Mbak Anik untuk membantu mengupas dan memotong sayur.
“Nona, Nona Syafira tidak perlu membantu kita di dapur. Nanti Nyonya Hani dan Tuan Victor akan marah kalau sampai tangannya terluka.
“Mbok Atun sama Mbak Anik, aku hanya tidak bisa diam saja di kamar, jadi izinkan aku untuk tetap membantu," pinta Syafira penuh harap.
Sebenarnya Mbok Atun maupun Mbak Anik , tidak suka jika harus melihat Syafira membantu mereka di dapur. Namun ia tidak bisa melarang , walau bagaimanapun Syafira adalah anggota keluarga Erlangga dan akan tetap tinggal di rumah ini.
“Mbak Anik aku sepertinya tidak bisa memotong bawang merah dan bawang putih, mataku berair,” Syafira mengusap matanya yang berkaca-kaca.
“Nona Syafira ingin membantu kita di dapur?” tanya Mbok Atun.
“Iya aku ingin membantu, selama aku di sini,” jawabnya antusias.
“Kalau Nona ingin membantu sebaiknya nona menyiapkan piring, sendok, dan garpu saja. Satu lagi sama gelas kosong lalu taruh di meja makan,” jelas Mbok Atun. Ia juga tidak bisa bebas memasak kalau ada Syafira berada di dapur.
"Baik Mbok." Syafira mulai menyiapkan piring sendok dan garpu, sesuai arahan dari Mbok Atun.
Dalam sekejap Syafira sudah menyeleaaikan tugas yang diarahkan oleh Mbok Atun. Ia kembali.lagi ke dapur dan bersiap membantu.
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki mendekat.
“Syafira,” panggil Om Victor yang saat ini sudah berdiri di belakangnya.
Syafira tidak segera menyahut.
“Syafira, Apa kamu tidak menjawabnya? Apa kamu tidak mendengarku?" lirih Om Victor dengan ekspresi manja. Mbok Atun dan Mbak Anik segera membuang muka karena malu melihat keromantisan sang majikan datang. Tak biasanya Victor ke dapur di pagi hari.
__ADS_1
“Ada apa Om, katakan apa yang Om Victor mau, kopi atau susu?” tawar Syafira.
“Buatkan aku kopi dan bawalah ke sana,” pinta Om Victor menuju suatu tempat di samping kolam renang yang berada di belakang rumah mereka.
“Iya Om, aku akan membuatkan kopi.”
“Jangan lama-lama ya,” pinta Om Victor dengan mengerlingkan mata menggoda pacar bohongannyam
“Iya tenang saja aku akan segera ke sana. Setelah selesai membuat kopi ,” balasnya dengan cekatan. Syafira mengambil gelas berniat membuat kopi untuk Om Victor. Sementara dua pelayan yang lain hanya diam dan sibuk dengan tugas masing-masing.
“Bawakan kue ini juga Non, Tuan Victor suka dengan kue kering,” kata mbok Atun sambil mengulurkan kotak kecil berisik kue dengan selai strawberry.
“Makasih Mbok." Syafira menerimanya lantas membawa secangkir kopi dan camilan yang di atas nampan, segera Syafira melangkah kaki ke taman belakang. Memberikan segelas kopi dan juga camilan untuk Om Victor.
“Mas Om Victor ini kopi dan ini kuenya,” ujar Syafira seraya menaruh dua makanan itu di atas meja.
“Terima kasih sayang,” ucap Om Victor yang menatap si gadis dengan tatapan yang berbeda. Menggoda dan tanpa berkedip.
Perlakuan Om Victor berhasil membuat Syafira salah tingkah. Syafira segera berbalik ia ingin kembali ke dapur dan membantu kedua pelayannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Om Victor dengan pandangan penuh selidik.
“Tunggu jangan melangkahkan kaki ke mana pun, memangnya siapa yang menyuruh istriku bekerja? Memangnya siapa yang mengizinkan Syafira ku ini kembali ke dapur! Sini duduk sini,” pinta si om.
Syafira mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hanya ada satu kursi di sana satu-satunya kursi itu sudah diduduki oleh Om Victor.
“Sayang kursinya hanya satu dan aku— Lagian aku harus mengupas buah apel dan juga semangka ,” kekeh Syafira terus berdalih.
“Kursinya memang hanya ada satu dan sudah aku duduki, memangnya siapa yang menyuruhmu untuk duduk di kursi! Duduk di sini!” Om Victor menepuk paha bagian kanannya. Berharap Syafira mau menuruti perintahnya untuk duduk di pangkuannya.
“Tidak sayang di dapur ada Mbok Atun dan Mbak Anik, aku malu pada mereka dan sebentar lagi mama juga keluar dari kamarnya. Apa kejadian semalam tidak membuatmu cukup sadar agar tidak melakukan hal-hal romantis di tempat umum?” protes Syafira.
“Syafira, Siapa bilang ini tempat umum ini rumah kita!”
“Tidak sayang aku harus kembali ke dapur,” pinta Syafira tidak ingin digugat.
“Tunggu sayang Jangan menarikku seperti itu,” tolak Victor.
Namun kali ini Om Victor tidak diam saja yang menarik tangan Syafira, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan. Tidak peduli dengan dua pelayan yang sibuk di dapur. Mungkin saja mereka sudah mencuri pandang ke arah Syafira dan Om Victor. Mengamati kegiatan yang sedang dilakukan majikannya.
__ADS_1
“Om, tolong lepaskan aku, aku malu sama Mbok Atun dan Anik,” pinta Syafira.
"Kalau ketahuan bagaimana!"
“Sayang jangan protes Kenapa kamu suka sekali membantahku duduk saja dan diam aku ingin seperti ini sejenak saja,” bisik Om Victor memeluk Syafira dengan kedua lengan kekarnya membuat istrinya tak bisa berkutik. Syafira tidak bergerak. Ia duduk di pangkuan si Om. Percuma juga melawan atau berusaha untuk melepaskan diri, tenaganya benar-benar tidak seberapa jika dibandingkan oleh tenaga Victor.
“Sayang,” panggil Om Victor dengan lembut.
“Iya ada apa sayang,” sahut Syafira meniru nada yang sama seperti saat Om Victor memanggil namanya.
“Mulai pagi ini setiap pagi kamu harus menemaniku di sini!” tutur Om Victor rasanya tiap detik yang ia habiskan bersama Syafira sangatlah berharga. Ia mengingat beberapa minggu terakhir ini ia harus pulang malam maka pagi hari adalah waktu yang tepat bagi dirinya dan Syafira untuk menghabiskan waktu bersama.
“Om lepaskan aku, aku takut Xander dan Nyonya Hani terbangun dan melihat kita seperti ini.” Syafira berusaha melepaskan pelukan dengam sekuat tenaga.
“Kenapa kamu takut dengan mama, mama bukan hantu, dia juga bukan pencuri,” balas Om Victor tahu betul jika Syafira sangat takut dengan hantu.
“Sayang lepasin, aku enggak takut tapi aku malu, itu Mbok Atun dan Anik lihatin aku, sebentar lagi pak Joko juga datang.
“Oke baiklah Mari kita buat kesepakatan kamu akan duduk di pangkuanku sampai nanti jam 07.00 atau kamu harus ikut denganku ke kantor pagi ini, bagaimana?” tawar Om Victor dengan mata berbinar rasanya hari ini ia ingin mengerjai Syafira. Walau Hanya Sekejap.
“Tidak bisa Om, aku tidak bisa ke kantor setelah ini aku mau pergi belanja dengan Aleta!" tolak Syafira.
“Oh jadi kamu mementingkan berbelanja daripada mementingkan aku, lebih memilih berbelanja dengan Aleta daripada menemaniku pergi ke kantor?” ancam Om Victor.
“Tidak Om, tapi aku sudah membuat janji dengan Aleta,” jelas Syafira.
“Ya sudah kalau begitu pagi ini kamu pergi ke kantor bersamaku dan siang nanti aku akan mengantar kamu dan Aleta pergi belanja. Sekarang kamu mandi dulu aku juga harus mandi, kita akan bersama kamu ikut aku ke kantor lalu berbelanja.”
“Baik Om,” jawab Syafira menurut.
“Hai kamu mau ke mana?” tanya Om Victor menghentikan langkah Syafira.
“Aku mau mandi!"
“Siapa bilang kita mandi sendiri-sendiri ayo kita mandi bersama.” Victor tidak sedang bercanda.
“Tidak Om, aku mau mandi sendiri saja,” tolak Syafira.
Victor menggeleng, ternyata Syafira tak seberani yang ia kira.
__ADS_1
To be continue....