
Beberapa orang petugas keamanan sudah berada di depan pintu lift. Mereka sedang berusaha membuka pintu lift.
Seketika pintu lift berhasil terbuka, setelah beberapa orang berusaha membukanya dengan paksa.
“Tolong aku!” teriak Victor.
Para petugas dari rumah sakit mendekat. Kemudian, Syafira segera di angkat ke tandu dorong yang sudah di sediakan. Gadis itu sudah tak sadarkan diri dengan peluh membasahi tubuhnya. Mereka segera membawanya menuju rumah sakit terdekat.
“Syafira, bertahanlah!”
Om Victor begitu khawatir. Dia berjalan di samping tandu dorong, setengah berlari. Satu tangannya mengusap pipi Syafira. Berharap gadis itu bisa di selamatkan.
Dia masih diam tak merespon.
Kemudian, gadis itu di bawa masuk ke dalam ambulans. Begitu pun dengan Om Victor yang ikut naik ke dalam alat transportasi darurat itu.
Om Victor terus memandangi wajah Syafira. Ada perasaan menyesal karena tidak membelikannya es krim. Pria itu berjanji. Jika, Syafira selamat ia akan membelikan gadis itu es krim sebanyak yang diminta.
Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Pria itu meraih tangan Syafira. Petugas medis yang duduk di sisi yang lain, sedang memasang infus dan alat bantu pernafasan.
Meski sangat pelan, Syafira terlihat sudah bernafas. Ada denyut lemah di pergelangan tangannya.
Setelah sepuluh menit perjalanan, ambulans tiba di rumah sakit.
Syafira di bawa ke UGD. Lalu dibawa ke ruang rawat inap.
Om Victor dengan setia menjaga dan terus berada di sampingnya.
Ternyata keadaan Syafira tidak terlalu berbahaya. Ia hanya merasa lemas karena kekurangan oksigen. Sudah sadar meski tubuhnya masih terasa lemas.
Victor yang merasa kelelahan, hanya ia tetap menahan matanya agar tetap menunggu Syafira yang saat ini sudah tidur.
Pria itu memperhatikan wajah Syafira yang sedang terlelap. Khawatir karena tiba-tiba wajah Syafira berubah seolah mendapat mimpi buruk. Keringat dingin membasahi pelipis dan bagian keningnya.
"Syafira," panggil Victor khawatir.
Ia berusaha membangunkan gadis itu dengan menepuk pelan pipi kanan dan kirinya.
Mimpi itu datang lagi, mimpi buruk yang menghantui tidur Syafira. Ia bermimpi di tempat gelap dan terus berlari memanggil kedua orang tuanya. Mimpi mengerikan itu selalu datang dan datang lagi.
"Syafira," panggil Om Victor dengan suara lebih keras. Mencoba membangunkannya.
Namun, Syafira tidak memberikan respons sama sekali. Baru setelah Victor menarik lengannya dengan kuat ia terbangun dan refleks memeluk tubuh Victor dengan erat.
“Tenang Sya, aku di sini.” Pria itu membalas pelukan Syafira. Memberikan usapan di punggungnya. Menenangkan gadis itu.
__ADS_1
"Tenanglah itu cuma mimpi," bujuknya yang tiba-tiba menjadi dekat dengan Syafira. Sebelumnya tidak pernah mereka berpelukan seperti itu.
"Aku takut Om," rintih Syafira.
Semakin mendekat dan memeluk Victor.
"Tenang ada aku di sini!" Victor mengusap punggung Syafira dan berusaha untuk menenangkannya.
"Aku takut mimpi mengerikan selalu datang dan datang lagi Om," keluh gadis itu.
“Itu hanya mimpi Syafira!” Victor terus memeluknya dan berusaha menenangkan. Ada rasa lega, ketika bisa berada di sisi ketika gadis itu membutuhkan kehadirannya.
Perlahan Syafira mengurai pelukan Om Victor. Ia kembali merebahkan kepalanya. Dengan tangan kanan ia menyeka air mata yang membasahi pipi.
"Jangan menangis," bujuk Victor. Meraih sapu tangan lalu memberikannya pada Syafira.
“Terima kasih, Om!”
Victor mengangguk, lalu telapak tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipi Syafira. Ikut merasakan ketakutan yang dirasakan gadis ini.
Syafira mengangguk menahan air mata sebagai respons.
"Tidur lagi!" titah Victor menggeser selimut hingga menutup ke dada gadis itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Pria itu merasa hidup Syafira begitu menyedihkan.
Sebatang kara, tak punya apa-apa, dan hanya dirinya lah yang di andalkan gadis itu.
Syafira hanya menurut. Ia pun kembali tertidur. Gadis itu merasa tenang, pelukan dari tangan kekar yang saat ini sedang duduk di sampingnya, benar-benar membuat nyaman. Mampu menghapus ketakutan saat mimpi itu kembali datang.
Om Victor pun terduduk di sofa, lalu ikut terlelap, karena merasa kelelahan. Dengan terus melingkarkan tangannya di atas perut Syafira.
Gadis itu terjaga di tengah malam. Perlahan Ia mengerjapkan mata menyapukan pandangan ke seisi ruangan. Ruang rawat kelas presiden suit, ada satu AC, satu tempat tidur, satu kamar mandi, kulkas, kursi tunggu, meja TV, almari baju, dispenser, sofa, tempat tidur penunggu, ruang keluarga dan satu set meja makan. Ini kali pertamanya, Syafira berada di rumah sakit semewah itu.
Pandangannya beralih pada Om Victor yang tertidur. Kemudian, dia mulai mengingat kejadian saat terjebak di lift. Syafira bernafas lega, tak menyangka dirinya masih hidup.
Ia kembali memperhatikan Om Victor. Merasa senang karena pria itu menggenggam jemarinya. Dia bahkan tersenyum sendiri di tengah malam di ruang sesepi itu. Entah perasaan apa itu, yang jelas Syafira bahagia karena Om Victor masih berada di dekatnya. Bentuk perhatian pada dirinya.
Hingga pagi menjelang, Syafira beberapa kali terjaga. Selalu mengamati tangan si Om. Ia kembali tersenyum ketika mendapati pria itu masih menggenggam tangannya.
Hampir pukul enam pagi. Om Victor terbangun. Sebelum pria menyadari, Syafira berpura-pura memejamkan matanya.
“Syafira.”
Om Victor memanggil dengan suara lembutnya. Mengusap punggung tangan Syafira. Mengamati wajah gadis itu. Kembali khawatir karena belum bangun juga.
Tidak mungkin karena efek obat. Kemudian, ia memutuskan untuk menekan tombol darurat.
“Syafira,” bisiknya di dekat telinga gadis itu.
__ADS_1
Masih tak ada respons.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang. Dia memeriksa keadaan Syafira.
“Bagaimana keadaannya sus?” tanya Victor.
“Pasien, dalam keadaan baik-baik saja, nafas dan detak jantungnya normal. Pasien, hanya sedang tidur.” Wanita berprofesi sebagai perawat itu memberikan penjelasan.
Syafira, yang masih pura-pura tidur mendengarkan dengan saksama percakapan Om Victor dan perawat itu. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka mata. Ya! Tidak mungkin menghindari Om Victor karena pria itu, satu-satunya manusia yang akan mengeluarkannya dari rumah sakit.
“Uhuk,”
Syafira pura-pura terbatuk. Membuka matanya perlahan, bersandiwara sebisa mungkin. Malu sekali mengingat kata-kata terakhir yang Ia ucapkan sebelum pingsan. Secara tidak sengaja Ia telah mengungkapkan perasaannya. Semoga saja Victor tidak mendengarnya.
Om Victor yang sedang berdiri dan merasa putus asa berbalik mendapati Syafira yang sudah sadar. Pria itu bergegas, kembali duduk di samping pasien.
“Syafira.”
Om Victor memanggil nama itu, dengan mata berbinar dan bibir melebar. Hatinya merasa lega. Di pandangnya Syafira dengan lekat.
“Iya,” jawab Syafira sembari mengusap tenggorokannya karena kehausan.
Dengan sigap Victor mengambil air minum yang berada di atas nakas. Memberikannya untuk Syafira. “Ini di minum, pelan saja.”
Syafira meminumnya perlahan. Dengan tangan kanan Victor memegang gelas dan tangan kiri merapikan rambut Syafira yang tampak berantakan, jatuh di keningnya.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?” Victor mengamati setiap sudut wajah Syafira.
Gadis itu, menaruh gelas air minum yang masih sedikit. Kemudian, kedua netranya kembali menatap lekat Syafira.
Victor mengusap pelan pipi Syafira. Merasa bersyukur sekali, bisa mendengar kembali suara perempuan yang ada di hadapannya.
Ia sempat sangat khawatir akan hal buruk yang terjadi padanya.
"Aku sudah membaik Om, aku ingin pergi kuliah," pinta Syafira.
"Tidak! hari ini kamu tetap harus di rawat, aku akan menelefon ke kampus, agar kamu tidak perlu berangkat hari ini," titah pria itu.
“Tapi Om—,”
“Tidak ada tapi-tapian!”
"Baik Om,"
Syafira menurut kembali merebahkan tubuhnya di ranjang rumah sakit.
Dan saat seorang perawat memberikan makan pagi beserta obatnya.
__ADS_1
Syafira sungguh berharap Victor akan menyuapinya.
* * *