
Mereka berlima berjalan menuju area parkir yang berada di bagian depan halaman rumah sakit. Syafira berjalan sejajar dengan Victor, mereka tampak asyik mengobrolkan sesuatu.
Desi, Aleta, dan Arsyan berjalan di belakang mereka. Aleta, terlihat senang melihat kedekatan Syafira dengan Victor, berbeda dengan Arsyan yang terus menatap dengan perasaan tidak suka.
Victor membuka pintu untuk Syafira, sementara ketiga temannya ia suruh duduk di kursi belakang.
Pria itu duduk di belakang kemudi dan mulai menjalankan kendaraan roda empatnya keluar dari area parkir.
Arsyan yang duduk di belakang Victor selalu mengamati Syafira. Gadis itu, tampak selalu melihat ke arah Victor dan membuatnya merasa cemburu.
“Kalian mau makan dulu kan?” tawa Victor. Tahu jika Syafira dan ketiga temanya belum makan. Dari kampus mereka langsung ke rumah sakit dan menunggui Syafira.
“Tidak Om!” jawab Arsyan berbeda dengan ketiga orang lainnya yang menjawab. “Ya.” Dengan serempak.
“Baiklah aku akan memastikan kalian makan sebelum, mengantar kalian pulang,” ujar Victor. Kemudian, kendaraan roda empat menepi di sebuah area parkir Resto dengan olahan seafood sebagai menu utamanya.
Semuanya, berjalan masuk ke resto. Kemudian, mereka duduk di meja kosong berada di nomor tiga dari kasir.
Ketika duduk, Victor sibuk dengan ponselnya. Sementara Arsyan terus mengawasi Syafira yang selalu saja mencuri pandang ke arah Victor.
Itu membuat dadanya terasa berat, menahan cemburu.
Tunggu! Memangnya Arsyan berhak cemburu??
TIDAK!!
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Lima porsi olahan cumi dan gurami dengan varian rasa berbeda. Ada juga minuman hangat untuk mereka.
Syafira yang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, izin untuk ke toilet. Aleta dan Desi ikut untuk menemaninya.
Kini di meja itu hanya ada Arsya dan Victor. Si Om masih sibuk dengan ponselnya, berbeda dengan Arsyan. Kesempatan ini digunakannya untuk mengatakan hal yang mengganggu hati. Victor harus mengetahuinya agar tidak bertindak lebih jauh dari ini.
"Om Victor, Perkenalkan namaku Arsya," ucap laki-laki muda itu sambil mengulurkan tangannya. Kini ia bisa dengan jelas melihat detail wajah pria dewasa yang menjadi topik pembicaraan Syafira dan Aleta. Pria itu memang tampan dengan proporsi tubuh yang sesuai. Terlihat mapan dan mendekati sempurna. Namun, bagi Arsyan dirinyalah yang terbaik untuk Syafira.
"Namaku Victor," jawab pria itu membalas jabat tangan dari Arsyan. Membalas tatapan tajam, dari pria yang lebih muda darinya itu.
"Langsung saja ya, Om tidak berniat mendekati Syafira kan? Aku dan Syafira sedang dalam tahap pendekatan, aku tidak ingin Om tertarik untuk mendekati gadis pujaanku itu!" tutur Arsya tanpa berkedip ia menatap tajam ke arah Victor. Berharap pria dewasa itu mengerti maksud ucapannya. Dan tidak bertindak jauh lebih dari ini.
"Tenang saja, Nak, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian, Syafira masih muda, dia aku anggap seperti adik, satu lagi dia bukan seleraku!" jawab Victor tegas sengaja memancing bocah itu. Melihat gelagatnya yang selalu menatapnya dengan tajam, Victor merasa sedikit terganggu.
"Baguslah kalau Syafira bukan selera Om, berarti Om belum mengenal pribadi Syafira. Oops, Sudahlah aku takut nanti Om menjadi sainganku!" sahut Arsyan semakin membuat penasaran. Tidak perlu memberi penjelasan bagaimana pribadi Syafira sebenarnya.
Bisa jadi, Victor akan menjadi saingan berat jika pria itu menyukai atau bahkan tertarik dengan Syafira. Dan Arsyan tidak ingin hal itu terjadi.
"Tenang saja aku menganggap Syafira sebagai adik tidak lebih.” Victor mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.
"Aku percaya, aku harap Om Victor akan selalu mendukung hubunganku dengan Syafira,” kata laki-laki muda itu penuh harap.
"Tentu saja!" sahut Victor sembari mengerlingkan matanya. Dalam hatinya tidak ada sedikit pun perasaan cinta untuk Syafira.
"Tapi kalau Syafira menyukai Om Victor? Apa Om akan membalasnya?" selidik Arsyan khawatir. Harap-harap cemas dan was-was jika pria dengan pesona lebih itu juga menginginkan Syafira.
__ADS_1
"Tidak! Aku sudah bilang kan aku menganggap Syafira sebagai adik, aku menyukainya itu hanya sebagai adik tidak lebih! Ingat ya hanya sebagai adik!" tegas Victor kesal. Arsyan terus saja mengoceh tentang Syafira dan mempromosikan seolah dia adalah gadis tercantik di dunia ini.
"Janji Om tidak akan menyukai Syafira sebagai seorang wanita?" desak Arsyan yang mulai tidak percaya diri. Pria di hadapannya sangat berkarisma.
“Ya!” jawabnya.
“Benar ya Om!”
Kali ini Victor tidak menjawab. Ia hanya tersenyum merasa lucu melihat tingkah Arysan yang seolah-olah khawatir jika merebut Syafira dari tangannya.
"Memangnya apa yang kamu sukai dari Syafira?" tanya Victor. Jenuh juga diragukan oleh pria yang lebih muda darinya itu.
"Syafira itu baik, cerdas, dan ceria, wajahnya memang tidak secantik super model, tapi dia manis dan tidak membosankan, buktinya selama tiga tahun ini aku setiap hari menatapnya, bukannya bosan tapi aku semakin tertarik!" cerita Arsyan membeberkan fakta mengenai Syafira. Kedua matanya berbinar saat berkisah tentang gadis pujaannya itu.
Victor menarik kedua sudut bibir, membentuk sebuah senyuman. Tahu apa bocah 17 tahun itu mengenai wanita. Elena istrinya itu cantik, ceria, baik, pintar, manis, tidak membosankan tapi pernikahan yang dibangun dengan sang ilmuwan sudah berakhir begitu saja. Natasha, dia juga cantik, pintar, nyatanya dia tidak bisa setia. Hubungan dengan wanita itu, sudah berakhir bahkan sebelum ke jenjang yang lebih serius.
Kedatangan Syafira, Aleta, dan Desi, membuat Arsyan bungkam. Mereka berlima kembali sibuk dengan menu di hadapannya.
Arsyan melihat ke arah Syafira. Rambutnya di sisir rapi di ikat kuda ke belakang. Bibirnya tampak lembab. Dan alis matanya tampak indah. Masih sama, kedua bola mata gadis itu, memang selalu membuat Arsyan terpesona, dengan pipi merona.
Tadi pipinya belum berwarna pink seperti itu. Setelah, kembali dari toilet, Syafira dan dua gadis lainnya tampak lebih rapi.
Syafira mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, lalu mengunyah dengan pelan.
"Makan yang banyak!" pinta Victor seraya menikmati makanannya sendiri.
"Ya," jawab Syafira antusias.
"Ayo kalian harus pulang sekarang! Sudah kenyang, waktunya kita pulang," ajak Victor. Ia juga perlu pulang dan bertemu dengan putranya.
Formasi di mobil berubah. Arsyan tidak memberi kesempatan Syafira untuk duduk di depan. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
Pertama, ia mengantar Desi dan Aleta. Baru kemudian, mengantar Syafira di asrama.
Tibalah mereka di asrama.
Mobil berhenti di gerbang utama asrama.
"Terima kasih ya Om," ucap Syafira.
“Iya, sama-sama. Kalau ada sesuatu telefon saja ya!” ujar Victor.
“Tentu.” Syafira turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam asrama.
Arsyan melihat punggung Syafira yang berjalan menjauhinya. Ada rasa sesak di dalam dada. Malam ini, ia mengetahui satu hal kalau Syafira ternyata sangat menyukai Om Victor. Untungnya pria yang bernama Victor itu, tidak tahu, dan tidak menyukai Syafira.
"Anda benar-benar tidak tertarik dengan Syafira kan?" tanya Arsyan memastikan.
"Tidak, aku sudah pernah menikah dan meski pernikahanku sudah berakhir, aku tidak mungkin menyukai gadis berusia 18 tahun seumuran denganmu!" jelas Victor mulai bosan dengan apa yang di ucapkan Arsyan, seolah Syafira mempunyai pesona yang luar biasa.
Sampai saat ini, Victor belum mendapatkan satu alasan yang membuatnya tertarik pada Syafira sebagai seorang wanita, hanya menganggap sebagai adik.
__ADS_1
"Maaf Om, apa Om Victor sudah menikah?" lirih Arsya mengatakan kalimat itu.
Victor hanya mengangguk, menyunggingkan senyum tipis. Tampak baik-baik saja meski pun sebenarnya hatinya sedang hancur karena kisah cintanya dengan Natasha baru saja kandas.
"Aku turun di sini saja Om," pinta Arsyan. Dia akan mengambil motornya yang tertinggal di kampus.
"Biarkan aku mengantarmu!" desak Victor.
"Tidak perlu!" tolak Arsyan.
Victor menepikan mobilnya, membiarkan Arsyan turun.
"Terima kasih Om," ucap lelaki muda itu.
"Sama-sama."
Victor kembali menjalankan mobilnya.
"Sial," gumam pria itu ketika melihat ponsel milik Syafira tertinggal di kursi belakang.
Kemudian, Victor terus berjalan mencoba tidak peduli. Itu salah Syafira, karena meninggalkan ponsel di mobilnya.
Sejenak kemudian, pria itu memutar balik mobilnya dan kembali ke asrama! Mengantarkan telepon pintar kepada pemiliknya. Tidak bisa untuk tidak peduli dengan Syafira.
Tiba di depan gerbang utama. Victor segera turun dan izin untuk memasuki asrama putri. Ia berjalan melewati setiap lorong dan menaiki tangga ke lantai dua. Berjalan ke ujung ke kamar Syafira.
Tok.
Tok.
Tok.
Syafira membuka pintu. Memperlihatkan ekspresi wajahnya yang keheranan.
"Iya, ada apa Om?" tanya Syafira, melihat pria tampan itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Ini ponselmu tertinggal.” Victor mengulurkan benda pipih nan canggih itu pada Syafira.
“Terima kasih Om!” Gadis itu tersenyum menampakkan senyum termanisnya.
Degh.
Sejenak Victor terpesona melihat senyuman itu. Benar yang dikatakan Arsyan. Syafira sangat manis, dan ia baru saja menyadari.
Gluk.
Victor menelan ludah, ada sengatan yang membuat jantungnya berdesir.
Tanpa disadari ide Aleta untuk meninggalkan ponsel di mobil si Om berhasil. Nyatanya, Victor sedikit terpesona dengan senyumannya.
* * *
__ADS_1