
Hari ini Syafira sudah bisa berangkat kuliah seperti biasa. Seusai makan pagi bersama, Xander berangkat sekolah diantarkan Mbok Atun dan Nyonya Hani.
Ya, siang nanti Elena akan berangkat, sehingga ia tidak bisa mengantar Xander ke sekolah. Sementara Victor, mengantar Syafira berangkat kuliah. Kemudian, berangkat kerja dan siang nanti ia akan menjemput Xander, lalu mengantar Elena ke bandara.
Kini di ruang makan hanya ada Syafira dan Elena. Victor tengah mengobrol via telepon dengan sekretarisnya. Pak Jaya sibuk dengan piaraannya di taman belakang. Ia memiliki ikan hias dengan harga ratusan juta rupiah yang dikoleksi, ada di bagian belakang rumah ini.
Syafira sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Namun, ia masih menunggu Victor yang belum juga selesai melakukan panggilan telepon dan kesempatan ini digunakan Elena untuk berbicara empat mata dengan gadis itu.
“Syafira ada yang mengganggu hatiku. Entahlah, aku merasa aku perlu mengkonfirmasinya sebelum aku berangkat ini mengenai hubunganmu dengan Victor.” Elena menghentikan ucapannya dan memfokuskan pandangan hanya melihat ke arah lawan bicaranya.
“Mengenai hubunganku dengan Om Victor?” Syafira membalas tatapan Elena dengan ekspresi penuh tanya. Apa yang membuat Tante Elena, curiga dengan hubungannya bersama Si Om.
“Apa kalian memiliki hubungan spesial?” tanya Elena to the point sesekali ia melihat ke arah Victor, takut mantan suaminya itu diam-diam berjalan ke arah mereka.
“Kenapa Tante Elena bertanya seperti itu ,apa Tante Elena masih memiliki perasaan dengan Om Victor?” Syafira memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Lantas, membalik keadaan, kini ia yang bertanya mengenai perasaan Elena terhadap Victor. Bisa jadi perempuan itu berubah pikiran.
“Tentu saja tidak, kalau pun aku menjaga hubungan baik dengan Victor itu semata karena Xander, bukan karena aku memiliki perasaan padanya,” elak wanita itu.
“Tante yakin tidak memiliki perasaan apapun pada Om Victor?” desak Syafira ia perlu memastikan lagi untuk mengambil langkah selanjutnya. Ya, di lain sisi ia curiga, Elena melihatnya masuk ke dalam kamar Victor.
__ADS_1
“Ya. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Victor untuk saat ini. Bagaimana denganmu? Apa kamu menyukai papanya Xander?” insting Elena mengatakan bahwa semalam ia melihat Victor dan Syafira sama-sama masuk ke dalam kamar. Ia perlu mengkonfirmasi pada Syafira.
Safira menggeleng pelan. Tidak mungkin ia mengiyakam tuduhan dari Elena.
“Syafira lebih baik kamu jujur, semalam aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu masuk ke kamar Victor. Apa kamu ingin merebut mantan suamiku?” tanya Elena tiba-tiba naik pitam ketika melihat Syafira dengan kepolosannya berpura-pura tidak tahu.
“Tidak!” elak Syafira.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan itu adalah langkah kaki Victor yang sudah selesai berbicara di telepon dengan sekretarisnya. Pria itu berdiri di sebelah Elena. Menatap tajam ke arah mantan istrinya. “Elena apa yang sedang kamu lakukan, kamu tidak punya hak untuk bertanya atau mendesak Syafira menjawab pertanyaan tuduhan darimu. Mau Syafira masuk ke kamarku, atau aku masuk ke kamar Syafira. Itu bukan urusanmu kita sudah bercerai. Kamu sendiri yang menggugatku. Apa kamu lupa? Dan aku dengar kamu sedang dekat dengan pria lain, tidak sepatutnya kamu bertindak kasar pada Syafira apalagi memaksanya untuk menjawab mengakui apa yang tidak dia lakukan!” bela Victor. Kemudian, ia melihat ke arah Syafira. “Ayo aku akan mengantarmu sekarang juga!” ajak pria itu.
Syafira melihat ke arah Elena. Ia tidak berpura-pura baik pada wanita itu. Bagaimanapun, ia tidak suka apa yang telah dilakukan Elena tadi. Lantas, ia memilih untuk berbalik dan meninggalkan wanita itu. Melangkah mengikuti Victor yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
Syafira dan Victor masuk ke dalam mobil. Pria itu duduk di belakang kemudi sementara Syafira duduk di sebelahnya.
Syafira masih saja bungkam ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Jelas sekali kemarin Tante Elena mengatakan tidak ingin rujuk dengan Om Victor. Namun, tadi ia menuduh Syafira merebut pria itu. Bukankah itu sangat menjengkelkan?
“Kenapa kamu diam saja Sya. Apa kamu marah dengan Elena?” selidik Victor.
“Aku khawatir, aku khawatir Tante Elena mengadu pada Nyonya Hani,” jawab Syafira. Bisa jelek reputasinya jika Nyonya Hani mengetahui, semalam ia masuk ke kamar Victor.
__ADS_1
“Kamu takut ketahuan, apa kamu cemburu?” goda Victor. Ia juga ingin tahu bagaimana reaksi Syafira ketika merasa cemburu.
Syafira bungkam tebakan Viktor benar. Ia khawatir ssmekaligus merasa cemburu. Cemburu jika Victor masih menyimpan rasa pada mantan istrinya.
Melihat gelagat Syafira. Victor tahu apa yang harus ia lakukan. Lantas, tanpa menunda lagi, pria itu segera memberi pengertian pada gadis itu.
“Syafira Kekasihku yang cantik, dengar ya. Aku tidak mungkin rujuk dengan Elena. Dia memang ibunya Xander dan mamaku juga berharap aku dan Elellna bisa bersama, tapi itu tidak mungkin! Kenapa? Karena aku memang tidak berniat untuk rujuk dengan Elena. Apa yang terjadi dengan dirinya dan aku, membuat aku menyerah dan memilih melupakannya!” jelas Victor. Pria itu sedang mendalami perannya sebagai pacar pura-pura bagi Syafira.
Victor menghentikan ucapannya. Ia kembali fokus mengemudi, meski terkadang ia juga menatap Syafira. Penasaran dengan ekspresi gadis itu, ketika Ia menceritakan mantan istrinya.
Mendengar penjelasan dari Victor Syafira merasa sedikit lega.
Selanjutnya, pria itu menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus dengan posisi menepi.
“Semangat ya Om, kerjanya. Nanti siang saat mengantar Tante Elena ke bandara Om Victor harus hati-hati. Om tidak lupakan kalau saat ini Om adalah pacar aku. Jadi, aku berharap Om tidak macam-macam. Tidak menggoda atau tergoda dengan wanita lain!” pesan Syafira, penuturan itu berasal dari hati yang terdalam.
“Kamu juga ya semangat kuliahnya. Jangan lirik cowok sana sini. Untuk siang nanti aku akan hati-hati saat mengantar Elena dan kamu siang nanti Pak Kardi akan menjemputmu oke,” jawab Victor
“Iya Om.” Syafira mengulurkan tangan kanan, lalu menjabat tangan kanan si om dan mencium punggung tangan pria itu. “Aku turun sekarang Om,” pamitnya.
__ADS_1
Victor tidak segera melepas jabat tangan dari Syafira. Ia menarik pelan tangan gadis itu. Kemudian, sebelum Syafira sempat membuka pintu. Ia menangkup dagu kekasihnya. Dengan tangan kiri ia meraih dagu Syafira. Lalu ia mencium gadis itu. Kamu tahu candu itu apa? Candu itu yang Victor rasakan saat ini. Ia merasa bibir Syafira seperti madu menjadi candu. Yang harus ia cium setiap saat, setiap ada kesempatan.
To be Continue.