Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Insiden


__ADS_3

Hari berikutnya, sepulang kuliah Syafira sudah membuat janji pada Arsyan untuk menerima tawarannya. Rencananya, hari ini akan menjadi hari pertama Syafira berangkat kerja di Kafe AX, milik keluarga Arsyan.


Arsyan dan Aleta, tengah menunggu Syafira yang sedang mengumpulkan tugas. Mereka berdua sibuk makan kuaci karena cukup lama menunggu Syafira.


“Aku lihat kemarin Syafia menangis, dia kenapa?” tanya Arsyan membuka percakapan. Ini kesempatan mencari tahu apapun tentang Syafira dari sumbernya langsung. Aleta, pasti mengetahui segala sesuatu tentang Syafira. Sudah pasti!


“Biasa tentang Om Victor,” sahutnya. Ya, dia menganggap Arsyan teman baik, yang selalu perhatian dengan Syafira. Tak ada masalah, sedikit bercerita mengenai Syafira terhadap teman lawan jenisnya itu.


“Memangnya kenapa? Apa Om Victor kasar dengannya?” selidik Arsyan yang tidak bisa berprasangka bak dengan si Om.


“Bukan begitu, sepertinya Om Victor sudah menolak Syafira!” terang Aleta begitulah yang ia tangkap dari curhatannya dengan Syafira kemarin.


“Seberapa dekat mereka?” tanya Arsyan. Sepertinya ia ikut andil, dalam tangisan Syafira kemarin. Ia yang telah meminta Om Victor untuk tidak menerima perasaan Syafira. Ia ingat betul, perihal permintaannya itu terhadap Om Victor.


“Sangat dekat, sangat dekat tetapi Syafira salah mengartikan perhatian dari om Victor. Itulah yang membuat Syafira patah hati ketika tidak mendapat balasan cinta dari pria itu!” jelas Aleta.

__ADS_1


“Oh.” Hanya itu yang keluar di bibir Arsyan. Ada sesuatu yang menghunjam hatinya, ya rasa cemburu mendengar kedekatan Syafira dengan Victor.


Syafira yang datang tiba-tiba, membuat Arsyan tidak bertanya lagi. Padahal masih banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Aleta. Terpaksa menundanya, lalu menanyakannya lain waktu. Atau bisa bertanya via telefon atau pesan.


“Hayo kalian lagi ngobrol apa?” Syafira menepuk pundak Aleta mengagetkan keduanya.


“Lagi ngobrolin kamu, bakal betah enggak kerja di Kafe,” sahut Arsyan.


“Aku bisa, aku pasti betah. Kalau enggak kerja aku enggak bisa menabung. Uang dari Om Victor selalu aku sisihkan, tetap saja kalau aku enggak bekerja aku enggak bisa mandiri dan akan selalu mengandalkan uang bulanan yang diberikan Om Victor.” Syafira mengulum senyum, setiap menyebut atau mengingat nama itu, hatinya masih saja bergetar.


“Siap!” Syafira segera membonceng Arsyan, naik motor ninja miliknya. Sementara Aleta bersiap untuk pulang.


Arsyan, mulai melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang menuju Kafe milik keluarganya. Ia tahu Syafira masih sedih, ia memilih diam dan tidak membahas Victor, yang hanya akan membuatnya merasa sedih.


Namun, tanpa di sangka dan tanpa di duga. Hal naas terjadi. Sebuah mobil menabrak motor Arsyan dari belakang dan memuat Syafira terjatuh.

__ADS_1


Arsyan yang tidak mengalami luka sama sekali segera menepikan motornya yang hancur di bagian belakang. Ia berjalan menghampiri Syafira yang terjatuh dari motornya .


“Syafira!” teriak Arsyan melihat bagian kaki kiri Syafira yang terluka. Darah segar keluar dari bagian lututnya. Dengan tubuh yang sudah gemetar, Arsyan terus memacu kedua kakinya untuk melihat keadaan Syafira.


Syafira dalam keadaan tak sadarkan diri. Beberapa kali ia menyebut dan meneriakinya, tapi Syafira hanya diam saja. Beberapa pengguna jalan ada yang turun dan membantu Arsyan membawa Syafira ke tepi.


“Sya,” pekik Arsyan.


Syafira diam dan tidak merespons. Darah juga keluar dari pelipisnya. Arsyan semakin khawatir.


Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Syafira, pasti ia yang akan di salahkan!


Komentarnya!


To be Continue.

__ADS_1


****


__ADS_2