
Victor menjemput Syafira pulang kuliah. Sepanjang perjalanan mereka terus berbicara dan bercerita hingga tibalah Victor dan Syafira di kediaman keluarga Erlangga. Victor menghentikan mobilnya di garasi.
Cuaca di luar masih hujan deras sementara jarak garasi dengan teras cukup jauh. Jika mereka berdua berlari menerjang hujan maka mereka akan basah. Namun jika mereka tetap berada di dalam mobil. Sampai kapan hujan akan reda?
“Syafira Aku mencintaimu eh— maaf maksudku. Ayo kita turun,” ajak Victor.
“Om Victor menyukaiku?” tanya Syafira memastikan. Sejenak ia merasa apa yang baru saja di dengarnya hanya khayalan.
“Iya, aku menyukaimu Syafira!” jawab Victor dengan tegas.
“Lantas?” tanya Syafira berharap Victor menembaknya. Menyatakan cinta, dan memintanya sebagai seorang kekasih.
“Aku menyukaimu, aku tidak ingin kita hanya pura-pura pacaran, aku ingin kita berkencan dan mengenal lebih jauh. Kemudian, aku akan menikahimu Syafira!” tutur Victor.
Degh!
Om Victor membahas menikah lagi? Jujur pikiran Syafira belum sejauh itu.
“Kenapa Syafira? Apa kamu tidak ingin menikah denganku?” tanya Victor. Ia memutar kunci mobil, lalu mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.
“Emmm ...,” gumam Syafira, ragu untuk menjawab.
“Itu risiko Syafira, karena kamu mencintai Om-Om yang berstatus duda itu artinya kamu harus siap di ajak menikah dalam waktu dekat! Minimal setelah kamu selesai semester satu, aku sanggup dan akan berusaha menunggu. Bagaimana?” tutur Victor. Sudah cukup baginya bermain-main.
“Emmm ...,” Syafira benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Hening. Victor menunggu jawaban dari Syafira.
“Kamu tidak harus menjawabnya sekarang Syafira! Satu atau dua minggu lagi kita bicarakan mengenai hal ini lagi. Paham!” ujar si Om.
“Iya Om!”
Victor turun dari mobil. Berjalan memutar, membuka pintu untuk Syafira.
“Pakai ini! Aku tidak ingin Pak Joko atau pelayan pria yang lain melihatnya!” ucap Victor mengarah ke dada Syafira. “Warnanya hitamkan!” imbuhnya sembari membuka pintu mobil.
“Bukan hitam!” sahut Syafira menyilangkan kedua tangannya.
“Hitam, jelas aku melihatnya!” kekeh Victor.
__ADS_1
“Bukan hitam tapi navy!” ujar gadis itu.
Victor meraih tangan Syafira dan mengajaknya berlari menerjang hutan. Agar Nyonya Hani tidak curiga. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar masing-masing.
Syafira memutuskan untuk mandi di kamar mandi lantai bawah. Xander dan Nyonya Hani tidak tampak di mana pun. Rumah sangat sunyi.
Pun begitu dengan para pelayan yang tak terlihat batang hidungnya.
Syafira membiarkan air dingin yang mengalir, membasahi tubuhnya. Kini ia mulai gila. Saat menutup mata pun, ia melihat Victor di depannya. “Apa ini yang namanya cinta?” gumam Syafira tersenyum sendiri. Ya, ini memang cinta. Itu yang sudah ia rasakan bertahun-tahun. Mencintai dalam diam.
Lima belas menit adalah waktu yang cukup bagi Shafira untuk menyelesaikan semua ritual mandinya. Dia sudah mengenakan baju hangat. Keluar dari kamar mandi melangkah ke dapur berniat membuat coklat untuk menghangatkan tubuhnya.
Di dapur sepi, tak ada siapa pun. Gadis itu menuang coklat bubuk, kemudian di sedu dengan air hangat. Agar bisa segera di minum.
Tap..
Tap..
Tap..
Terdengar suara langkah mendekat. Syafira menoleh ke belakang dan mendapati Victor yang tengah berdiri di belakangnya.
“Boleh!” jawab pria itu. Terus mengamati Syafira. Bau harum sabunnya menguar membuatnya ingin berada di dekat Syafira.
“Sebentar, Syafira buatkan satu untuk Om?” sahutnya.
“Tidak perlu Syafira, aku punya cara lain untuk meminumnya!” Victor meraih pinggang Syafira lalu menciumnya. Bibir strawberry itu kini beraroma coklat.
Kedua netra Syafira membelalak. Tidak menyangka Victor terlalu berani. Menciumnya di dapur dan bisa saja ada pelayan bahkan Nyonya Hani yang akan melihatnya.
Victor menghentikan ciumannya. Mereka saling bertatap. Sebelum Syafira sempat protes Victor kembali menguasai bibir Syafira dalam kecupannya. “Kau milikku Syafira!” lirihnya.
Duaaar ...
Terdengar suara petir. Membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka. Lantas masuk ke dalam kamar masing-masing. Belum siap jika orang rumah mengetahui hubungan mereka. Terutama Nyonya Hani dan Pak Jaya.
Victor tiba di kamarnya, begitu pun dengan Syafira. Karena masih ingin mengobrol dengan Syafira Victor memutuskan untuk menelepon gadis itu
Ponsel Syafira berdering. Ada panggilan dari Victor.
__ADS_1
Gadis itu pun segera menggeser ikon warna hijau di layar ponselnya.
“Halo Om!” sapa Syafira. Baru saja ia menutup pintu kamar.
“Halo, Syafira. Kamu takut petir?” tanya pria itu.
“Aku lebih takut Nyonya Hani dari pada petir!” sahut Syafira.
“Mamaku tidak menakutkan itu, Sayang. Seharusnya malam ini kita bisa pergi Syafira, bagai mana kalau kita pergi besok saja?” tawar Victor.
“Iya, Om, di luar hujan deras dan tak kunjung reda! Aku lebih suka di kamar dan bersembunyi di balik selimut hangat ini!” ucap Syafira. Menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut.
“Kamu dingin?” tanya pria itu.
“Iya, kan aku mandi pakai air dingin, di kamar mandi bawah tidak ada hitter water seperti di kamar mandi yang ada di kamar Om Victor!” jelas Syafira.
“Apa aku perlu ke kamarmu sekarang?” tawar Victor.
“Mau ngapain?” Syafira terkesiap.
“Menghangatkanmu!” goda si Om.
“Tidak Om tidak usah!” tolak Syafira.
“Iya, aku hanya bercanda!” ujar Victor.
“Emm...”
“Ya sudah Syafira, kamu istirahat ya!” titah Victor. Ia akan menelefon Juna untuk mengetahui informasi dari kliennya tadi.
“Iya, Om?!”
“See you!”
“See you, too!”
Panggilan telefon berakhir.
To be Continue...
__ADS_1