Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Bimbang.


__ADS_3

Victor turun dari mobil. Dengan bersenandung ria ia berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian, ia menaiki tangga menuju lantai dua, segera bertemu putranya.


“Xander,” panggil pria itu seraya membuka pintu kamar putranya. Xander yang tengah beramin dengan diteman Mbak Arum, salah satu pelayan di rumah itu. Segera menghampiri sang papa. Menghambur ke dalam pelukannya.


“Papa baru pulang?” tanya putranya itu bergelendot manja di leher Victor.


“Iya, papa baru pulang, kamu dari tadi ngapain saja?” tanya Victor melihat tempat bermain anaknya yang berantakan duduk di sofa untuk sejenak menghabiskan waktu bersama putranya.


“Tadi Xander sekolah, oh ya kata Oma sebentar lagi Xander ulang tahun, bolehkah Xander meminta sesuatu?” Kedua bola mata anak kecil itu menatap sang papa dengan penuh harap.


“Tentu saja apa yang kamu inginkan Xander?” Victor membalas tatapan mata putranya. Ia tahu I belum bisa menghadirkan seorang mama yang dibutuhkan dan inginkan Xander, minimal ia bisa memberikan suatu benda atau mainan yang diinginkannya.


“Aku rindu mama , Pa, apa Papa bisa membawa mama pulang. Kata Oma, Mama sedang di Afrika. Bisakah papa ke sana untuk menjemput mama,” tanya Xander dengan harapan bisa benar-benar bertemu dengan sang mama. Di sekolah, ia melihat teman-temannya selalu diantar dan ditunggui mamanya, sementara dirinya hanya di jemput oleh Mbak Arum dan pak Kardi saja. Tidak ada sosok mama yang mendampinginya.


“Jangan bersedih, nanti papa akan coba hubungi mama, ya Nak! Kalau biasa papa akan membawa mama pulang!” ujar Victor melihat ke arah jam dinding sudah hampir setengah tujuh malam harus segera bersiap dan segera menjemput Syafira.


“Janji,” desaknya.


“Janji, papa akan berusaha membujuk agar mama pulang di ulang tahunmu yang ke lima!” jawab Victor mendaratkan ciuman di pipi kanan putranya. “Ya sudah kamu lanjut main ya, papa mau mandi sekarang,” izin Victor.


“Baik Pa.” Xander kembali berlari ke tumpukan mainannya, menghampiri Mbak Arum yang masih menunggu sejak tadi.


Kemudian, Victor berjalan menuju kamarnya sendiri. Segera masuk ke kamar mandi, harus mandi bersih sebelum bertemu dengan Syafira. Dalam waktu sepuluh menit pria itu sudah selesai mengakhiri ritual mandinya. Kini ia sedang mematut di depan cermin seraya memilih baju yang akan ia kenakan. Tidak ada pilihan karena semua bajunya di dominasi warna hitam dan putih. Kebanyakan warna gelap dan jarang sekali mempunyai warna terang di deretan baju yang biasa di pakainya.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan jeans warna hitam dan kaus berlengan sedang berwarna merah maron yang sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Tak lupa Victor menata rambut cepaknya disisir ke sebalah kanan. Dan parfum aroma mint menguar menjadi parfum yang ia pilih malam ini.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar suara ketukan pintu. Tepat ketika Victor bersiap berangkat.


“Ya, sebentar,” sahutnya seraya membuka pintu. Di hadapannya berdiri sang mama yang menatapnya dengan pandangan tak biasa.


“Kamu mau ke mana? Wangi sekali?” tanya Nyonya Hani menerobos masuk ke kamar putranya.


“Aku ada acara makan dengan kenalanku Ma,” jawabnya tidak mungkin memberitahu kalau dirinya ada makan malam special dengan Syafira. Tidak! Tidak, untuk sekarang.


“Bukan dengan Syafira kan?” pandangan mata Nyonya Hani semakin tajam penuh selidik.


“Sebelumnya maaf kalau mama curiga, tadi mama sempat memeriksa CCTV dan mama mendapati kamu masuk ke kamar Syafira dan baru keluar jam sepuluh malam. Apa yang kalian lakukan? Kamu tidak sedang menjalin hubungan dengan anak itu kan?” tanya Nyonya Hani.


“Oh itu, jadi semalam aku itu bingung mau bilang atau enggak tentang hubungan dengan Natasha ke mama, dan Syafira sudah tahu kalau hubungan kami sudah berakhir, jadi semalam aku memberitahu Syafira biar aku saja yang memberitahu mama,” cerita Victor dengan datar, ia tidak ingin sang mama curiga.


“Mengobrol seperti itu sampai jam sepuluh malam, dan kenapa harus bersembunyi saat ada mama di sana!” Nyonya Hani tidak percaya begitu saja. Sebagai seorang mama ia tahu gelagat putranya ketika berbohong atau berusaha menutupi sesuatu.


“Semalam Syafira, masih berharap aku dan Natasha bisa bersatu kembali. Ia kekeh ingin merahasiakan apa yang terjadi sebenarnya pada mama, jadi kami berdebat sebentar. Sebelum aku menjelaskan kalau aku dan Natasha memang tidak mungkin bersama,” terangnya dengan tenang. Meski hatinya berdebar takut ketahuan.


“Oh begitu, Mama kira kamu dan Syafira ada hubungan special!” ujarnya kemudian.

__ADS_1


“Tidak Ma, aku menyayangi Syafira tapi bukan sebagai kekasih.” Victor ragu dengan ucapannya, tetapi ia tetap mengatakan hal itu agar sang mama percaya.


“Baguslah, lagi pula kalau kamu sampai pacaran atau menikah dengan Syafira mama tidak akan setuju, dan papamu dia pasti akan mengusir Syafira dari sini. Kamu tidak lupa kan bagaimana dulu mama memohon agar papa mengizinkanmu merawat Syafira!” nyonya Hani mencoba mencari kejujuran di sorot mata putranya.


“Ya, Ma, aku ingat. Dulu mama yang memohon sama papa agar mengizinkanku membawa Syafira ke rumah ini.” Bayangan masa mudanya melihat Syafira yang menangis di teras rumah karena sang papa tidak mengizinkannya masuk ke dalam rumah kembali terlintas di benaknya.


“Bagus kalau kamu masih ingat, mama harap kamu tidak menyia-nyiakannya dengan melakukan hal bodoh!” pesan Nyonya Hani. Meski sang putra sudah dengan jelas-jelas mengutarakan bahwa tidak memiliki hubungan apapun dengan Syafira ia masih belum seratus persen percaya.


“Tidak Ma, aku tidak ada hubungan apapun dengan Syafira,” tegas Victor sekali lagi.


Nyonya Hani mengangguk percaya.


“Aku berangkat sekarang Ma,” pamitnya.


“Hati-hati, jangan pulang larut malam!” pesan Nyonya Hani. Dengan perlahan, dan antusias jauh berbeda dadi tadi Victor melangkah menuruni tangga menuju lantai dasar.


Kemudian, ia masuk ke dalam mobil Lamborghini hitamnya yang sudah ia persiapkan untuk berkencan dengan Syafira. Ia duduk di belakang kemudi, dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari gerbang. Menjauh dari rumah dengan kecepatan sedang.


Ia melihat liontin yang sempat ia beli ketika perjalanan pulang tadi. Jika, belum berbicara dengan sang mama barusan. Victor yakin sekali akan memberikan kalung beserta liontinnya pada Syafira nanti. Namun, keraguan kembali merambat di dalam hatinya. Jika ia terus mengikuti keinginannya untuk menjalani hubungan asmara dengan Syafira. Itu berisiko karena sang papa pasti akan mengusir Syafira jika sampai mengetahui hal itu.


Bukankah lebih baik Syafira tetap berada di sisinya, meski tak bisa dimiliki? Dada pria itu terasa berat, ia yang semula tidak sabar ingin segera bertemu dengan Syafira menjadi beringsut. Ada rasa takut yang tiba-tiba mendominasi hatinya.


Komentarnya. Votenya. Hadiahnya. Terima kasih.


To be Contonue.

__ADS_1


* * *


__ADS_2