
Hari berikutnya Arsyan memilih bolos di kuliah, jam pertama. Bukan tanpa alasan, ia ingin pergi ke suatu tempat. Tidak lain dan tidak bukan ia ingin pergi ke ARRA Mall.
Satu yang pasti, ia ingin bertemu dengan Victor. Dan menagih janji pria itu! Tidak peduli Victor lebih tua darinya, tidak peduli pria itu lebih kaya darinya. Yang jelas Victor sudah mengingkari janjinya sendiri untuk menjaga Syafira.
Arsyan menghentikan kendaraan roda empatnya di area parkir ARRA Mall. Mengikuti petunjuk dari Aleta. Pemuda iti bergerak ke lantai dua menggunakan lift, lalu menghubungi Kak Juna yang merupakan sekretaris dari Victor Erlangga. Harus menemuinya saat ini juga untuk memberi perhitungan.
Dengan tangan kanan Arsyan mendekatkan telepon pintarnya ke telinga kanan.
Panggilan telefon terhubung.
“Halo, maaf ini siapa?” tanya suara di seberang.
“Halo Kak Juna, ini saya Arsyan. Teman Syafira sekaligis teman Aleta. Apakah saya bisa bertemu dengan Om Victor ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,” izin Arsya dengan sopan.
“Arsyan?” lirih Juna dari seberang telepon. “Sebentar saya tanya Tuan Victor terlebih dahulu, karena tidak sembarang orang bisa menemuinya sebelum membuat janji terlebih dahulu,” sahut Juna memberi penjelasan.
“Baik saya tunggu,” jawab Arsyan.
Arsyan menunggu tanpa mengakhiri panggilan telepon, hingga menit berikutnya kembali terdengar suara Juna dari seberang telepon.
“Halo Arsyan. Segera naik ke lantai empat. Tuan Victor menunggumu di ruang kantornya,” suruh Juna.
“Baik kak Juna Aku akan segera ke sana!” jawab Arsyan bersemangat. Ia sudah tidak sabar ibgin meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
“Kamu tunggu saja di lantai dua, nanti ada salah satu staf yang akan mengantarmu ke lantai empat,” terang Juna.
“Baik kak saya menunggu di sini,” ujar Arsya. Kemudian ia duduk di lobby yang berada di dekat tangga lantai dua.
Tidak sampai 5 menit Arsyan menunggu, seorang wanita yang merupakan staf karyawan di ARRA Mall menghampirinya.
“Apa benar Anda yang bernama Arsyan?” tanya wanita yang berusia sekitar 30 tahunan itu. Ia berpakaian rapi selayaknya staf karyawan pada umumnya.
“Iya saya Arsyan,” jawabnya seraya beranjak dari duduk.
“Kalau begitu, ikuti saya menuju ke ruangan Tuan Victor.” Wanita yang merupakan staf karyawan ARRA Mall tersebut, berjalan memimpin.
Pintu lift terbuka.
Mereka berdua masuk. Alat transportasi dalam gedung itu mengantar hingga ke lantai empat, di mana ruang kerja Victor berada.
“Ibu bisa kembali bekerja. Saya akan datang ke ruangan Tuan Victor sendiri,” jawab Arsyan tersenyum ramah.
Wanita itu balas tersenyum, lantas kembali berjalan ke ruang kerjanya. Sementara Arsyan, dia melangkahkan kaki menuju tempat yang ditujukan oleh wanita itu itu, yaitu ruang kerja pemilik ARRA mall, Victor Erlangga.
Dengan tangan kanan, Arsyan handle pintu lalu membukanya.
Pintu terbuka, dan Victor sudah duduk di sofa. “Jadi kamu datang ke sini Arsyan?” sapa Victor yang seolah sudah menunggu kedatangan pemuda itu
__ADS_1
Arsyan mengangguk, lantas melangkah maju.
“Duduklah! Kita bisa berbincang dengan santai,” tawar Victor menunjuk ke sofa di sebelahnya. Di mana ia menjamu para tamunya ketika datang ke kantor.
“Tidak Om aku tidak akan berlama-lama di sini, lagi pula aku harus segera berangkat kuliah,” dalih Arsyan.
“Baiklah kalau begitu apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Victor to de point.
“Lepaskan Safira. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi Om! Dan Om—, Om sudah mengingkari janji Om untuk menjaga Syafira. Di sini aku berhak melarang Om. Untuk mendekati Syafira lagi ataupun peduli padanya. Sekarang biarkan aku yang menjaganya. Aku janji aku tidak akan membuatnya menangis seperti tadi malam. Seperti yang Om Victor lakukan!” protes Arsyan. Ia menyampaikan seluruh beban yang ada di dalam hatinya. Berusaha keras untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah pria yang lebih tua darinya itu.
“Tunggu Arsyan! Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu itu!” protes Victor.
“Om kan yang sudah membuat Syafira menangis! Apa Om lupa, dulu Om sudah berjanji untuk menjaga Syafira. Pengecut!” Arsyan mengarahkan pandangannya ke kedua manik mata Victor, yang tengah melihatnya dengan tajam.
Victor terdiam, ia mengaku salah kali ini.
“Aku anggap Om sudah tidak menginginkan Syafira lagi. Aku anggap Om sudah tidak peduli dengan Syafira lagi. Jadi mulai saat ini awas saja kalau Om berani mendekati Syafira. Aku tidak akan tinggal diam.” Arsyan melangkah satu kaki ke depan. Membalas tatapan mata Victor dengan lebih tajam. Kemudian ia berbalik dan meninggalkan pria itu begitu saja.
Jemari tangan Victor terkepal. Emosinya terpancing, tetapi kalau dipikir kembali ia iri dengan Arsyan yang bisa berjuang mendapatkan Syafira tanpa hambatan apapun. Sementara dirinya harus memikirkan banyak hal. Memikirkan hati putranya, memikirkan perusahaan, dan tidak bisa menjadikan Safira sebagai prioritas dalam hidupnya.
“Tuhan Anda tak apa?” tanya Juna yang segera mendekat ke arah Viktor.
“Suruh orang untuk mengikutinya kalau perlu cari tahu semua tentang Arsyan dan keluarganya. Satu lagi pilih orang yang bisa menjaga Syafira, memata-matai setiap gerak-geriknya, dan juga melindunginya!” titah Victor.
__ADS_1
Sang sekretaris hanya bisa mengiyakan. Meski ribuan tanya dan rasa heran membuncah dalam hatinya. Juna ragu menanyakan semua itu. Takut bertanya mengenai Syafira lebih jauh.
To be Continue...