
Victor mendapati Syafira yang tengah berdiri menantinya, sementara Arsyan duduk di atas sepeda motor seraya melihat ke sana dan ke mari berharap segera bertemu dengan Om-Om yang sudah menghancurkan acara kencannya bersama Syafira.
Tampak Victor berjalan mendekat. Seketika Arsyan langsung menampakkan ekspresi tidak sukanya melihat kedatangan Victor. Pun begitu dengan pria itu, semakin was-was karena Syafira suka sekali mengenakan atasan dengan bagian kerah yang terbuka. Arsyan pasti suka sekali melihat belahan dadanya yang melambai.
Victor melepas jas hitamnya. Kemudian, membentangkannya pada tubuh Syafira. “Ini sudah malam, kamu bisa masuk angin kalau seperti ini Sya!” ujar pria itu.
“Ah, iya terima kasih Om!” sahut Syafira dengan kedua manik mata yang berbinar, bagaimana tidak ia selalu menunggu saat-saat dimana ia bisa bertemu dengan si Om.
Arsyan menatap Syafira dengan saksama. Ia bisa merasa kalau gadis itu memiliki rasa yang tak biasa terhadap si Om. Ya, senyuman manis itu, Arsyan tidak pernah melihatnya sedari tadi. Dan Victor mampu menghadirkan senyuman itu hanya dalam kedatangannya yang hanya baru beberapa detik saja.
“Lain kali kalau kalian mau pergi jangan pergi malam hari. Syafira kalau kamu sampai terlambat datang ke asrama kamu mau tidur di mana!” Victor melihat kedua remaja itu bergantian.
“Baik Om!” sahut Syafira dan Arsyan serempak.
“Ya sudah, Syafira akan pulang bersamaku. Arsyan kamu pulangnya hati-hati ya!” ucap Victor mengusir secara halus anak lelaki yang lebih muda darinya itu. Jelas sekali Arsyan sedang dalam misi mendapatkan hati Syafira.
“Kalau OM tidak datang, aku juga akan mengantar Syafira ke asrama Om. Aku tidak mungkin membuat Syafira mendapat masalah! Jadi, Om bisa mempercayakan Syafira padaku,” ucap Arsyan dengan penuh kesungguhan. Ia memang menyukai Syafira, tidak mungkin mencelakainya. Buktinya selama tiga tahun ini ia selalu menjaga Syafira, memperlakukannya dengan baik.
Victor merasakan ketulusan Arsyan. Hanya saja ia tetap tidak bisa mempercayakan Syafira pada Arsyan begitu saja. Apalagi kalau mereka bisa dengan bebas pergi setiap malam. Victor tidak rela hal itu terjadi.
Pria itu memilih untuk tidak menganggapi pernyataan Arsyan. Dengan tangan kanan ia menarik tangan Syafira untuk masuk ke dalam mobil. Lantas, ia segera masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi.
“Arsyan aku pulang dulu ya.” Syafira melambaikan tangan.
Tak berapa lama kendaraan roda empat itu pun bergerak menjauh dari area kafe. Meninggalkan Arsyan yang masih melihat mobil dengan pandangan tidak suka. Ia merasa tidak melakukan kesalahan, tetapi kenapa Om Victor mengacuhkannya begitu saja! Ini sungguh tidak adil.
Di dalam mobil, Syafira memperhatikan Victor yang sedang melajukan mobilnya. Ia tidak tahu mengapa pria itu bersikap ketus pada Arsyan. Perlu menanyakannya lebih jauh.
“Om,” panggil Syafira pelan.
__ADS_1
“Ya,” sahut Victor tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Ada rasa kesal yang tak bisa ia terjemahkan.
“Kenapa Om marah sama Arsyan! Apa salahnya?” tanya Syafira.
“Tidak ada yang salah dengan Arsyan, yang salah itu kamu kenapa mau diajak pergi mala-malam begini. Pokoknya, aku enggak mau dengar lagi kalau kamu keluar mala Sya! Kecuali sama aku atau Aleta!” tegas Victor.
Syafira tidak berani melawan. Memangnya dia punya kekuatan apa Victor bukan orang tuanya yang bisa diajak negosiasi. Victor adalah orang baik yang menolongnya, kalau Syafira tidak menurut Victor bisa saja lepas tangan dan lepas tanggung jawab saat itu juga.
“Kamu juga, suka sekali memakai baju yang terbuka seperti itu. Kalau bisa jangan pakai baju seperti itu, pakailah baju yang setidaknya menutup paha dan juga belahan dadamu! Itu membuat pria nakal tertarik padamu!” seru Victor dengan bibir terkatup rapat. terlihat marah sekali.
“Baik Om, tapi sayang kalau tidak di pakai. Aku sudah membelinya!” ujar Syafira lirih.
“Pakailah saat kamu di rumah, jangan di pakai saat kamu berada di luar rumah!” tegasnya tidak ingin mendapat elakkan dari Syafira.
“Ya, Om!”
“Arsyan yang membayar makan malamku Om,” jawab Syafira jujur.
“kamu sedang tidak bercanda kan Sya! Lain kali jangan biarkan Arsyan membayarkanmu! Apapun itu.” Ada penekanan di kalimat terakhir yang diucapkan si Om.
“Memangnya kenapa?” tanya Syafira yang tidak tahu apa maksud ucapan dari Victor.
Gluk.
Victor menelan ludah. Syafira benar-benar sangat polos. Berbeda dengan dirinya yang sudah sangat hafal dengan tipu muslihat laki-laki. Ya, Victor dulu adalah playboy yang bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang ia inginkan hanya dengan uang yang ia miliki. Dan pria itu, tidak ingin Syafira jatuh ke pelukan Arsyan.
“katakan Om, jangan diam saja kenapa aku tidak boleh menerima bantuan dari Arsyan!” desak Syafira.
“Karena semakin banyak hal yang kamu terima darinya, maka kamu akan semakin sungkan untuk menolak permintaannya!” jelas Victor ia berharap Syafira akan paham tanpa harus ia menjelaskan lebih rinci.
__ADS_1
Syafira terdiam. Benar juga apa yang di katakan Om Victor. Selama ini Om Victor selalu memberikan dirinya banyak hal. Dari mulai uang saku, uang belanja, uang makan, uang pendidikan. Bahkan Om Victor mengajarinya banyak hal dan menganggapnya sebagai saudara sendiri. Dan sampai saat ini Syafira tidak berani menolak apapun permintaan Victor.
“Tapi Om, tidak semua orang seperti itu kan? Buktinya Om Victor tidak seperti itu. Om Victor selalu memberiku banyak hal dan Om Victor tidak pernah meminta sesuatu dariku!” ujar Syafira santai. Ia benar-benar tidak tahu kalau itu adalah cara seorang pria mendekati wanita. Aku beri yang kamu butuhkah, nanti aku akan meminta apa yang aku inginkan.
Victor tidak serta merta langsung menjawab. Ia fokus membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam gerbang utama. Terus menjalankannya dan berhenti di garasi.
Pria itu turun dari mobil diikuti Syafira yang masih menunggu jawaban darinya. Masih sangat penasaran.
“Om,” panggilnya. “Ayo jawab!” desaknya tidak sabar. Terus mengikuti langkah dari Victor.
“Jawa apa?” Victor mengalihkan pandangan dan terus berjalan ke teras.
“Pertanyaanku tadi!”
“Pertanyaan yang mana?”
“Apa Om juga punya maksud lain terhadapku, seperti penuturan Om tadi?” Syafira beringsut, pikirannya penuh prasangka buruk terhadap Victor. “Apa Om memberikan apa yang aku butuh kan dan suatu hari nanti akan meminta apa yang Om inginkan?” lirih Syafira menelan ludah. Ia sudah tahu apa maksud ucapan Victor.
Bukannya menjawab pertanyaan Victor melihat ke arah dada Syafira yang terbuka. Jasnya yang terbuka membuat belahannya semakin nyata. Victor menelan ludah, hatinya goyah.
“Ya, Sya! Aku memberikan apa yang kamu butuh kan dan nanti malam aku akan meminta apa yang aku inginkan!” ucap Victor dengan raut wajah yang serius. Tangan kanannya bergerak menekan bel pintu.
“Memangnya apa yang Om Victor inginkan dariku!”
“Tidur denganmu,” bisik Victor di indra pendengar gadis itu. Membuat Syafira terkesiap, dan sejenak lupa untuk bernafas.
Cie, para readers mulai ngatain Victor muna... 😅😅
* * *
__ADS_1