Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Tuduhan Nyonya Hani


__ADS_3

Syafira belum keluar kamar sejak pagi tadi. Ia melewatkan makan bersama. Ia juga tidak berniat mengikuti Victor menuju kantornya. Dan satu lagi, ia juga tidak akan meminta si Om untuk mengantar berangkat kuliah.


Apa yang terjadi dengan Syafira sekarang? Hatinya tercabik-cabik. Sedari tadi, sebanyak apapun ia mengusap pipi sebanyak itu pula air terus mengalir dari sudut matanya.


Jam sembilan, ketika alarm ponselnya berdengung. Syafira memutuskan keluar dari kamarnya sekarang juga. Tidak peduli dengan ikatan rambutnya yang tidak rapi, juga matanya yang masih terlihat berkaca-kaca. Gadis itu membuka pintu bergerak menuruni tangga.


Indra penglihatan Syafira, menatap Nyonya Hani sudah menunggunya di ruang tamu. Kedua tangannya menyilang di depan dana seolah sudah lama menanti kedatangannya.


“Syafira,” panggil nyonya Hani.


“Ya, Nyonya,” sahut Syafira.


“Sini, ini ada sedikit uang! Victor bilang ini uang bulanan yang lupa belum ia berikan!” kata Nyonya Hani menyampaikan pesan Victor sebelum putranya itu berangkat kerja.


“Uang dari Om Victor bulan lalu masih ada Nyonya, lagi pula selama ini aku tidak tinggal di asrama, uang yang aku miliki masih bisa untuk keperluanku sebulan ke depan,” tolak Syafira. Selama ini ia memang selalu jujur perihal uang yang dimiliki. “Saya berangkat Nyonya,” pamitnya, menganggukkan kepala sopan, lalu pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.

__ADS_1


Tap.


Tap.


Tap.


Meski gemetar Syafira melangkahkan kakinya ke depan, ke arah pintu.


“Gadis pongah, hentikan langkahmu itu Syafira!” cegah Nyonya Hani begitu Syafira melangkahkan kaki melewati ruang tamu.


Degh.


“Jangan munafik di depanku,” geram Nyonya Hani. Ia berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan Syafira. Menatapnya dengan tajam dan tentu saja dengan pandangan merendahkannya.


“Maaf, Nyonya, saya benar-benar tidak tahu apa maksud ucapan Nyonya,” lirih Syafira menundukkan kepala. Ia ketakutan setengah mati.

__ADS_1


“Jangan berpura-pura tidak tahu dan bertindak seolah tidak tahu apa-apa, aku tahu kamu diam-diam menggoda Victor! Jujur saja kamu Syafira, selam ini kamu berusaha mendekati Victor dan berusaha untuk mencuri hatinya kan!” tuduhnya dengan telunjuk terangkat tepat di wajah Syafira.


Gadis itu terdiam, jangankan membela diri. Bahkan Syafira tidak bisa menggerakkan bibirnya untuk bersuara.


“Kamu, kamu hanya benalu di hidup Victor. Saat itu seandainya Victor bisa saja lepas tangan dan tidak merawatmu! Jadi, sekarang saat kamu sudah hidup di sini, kami rawat, kami besarkan, kami sekolahkan, tapi kamu berniat menggoda Victor! Coba tahu dirilah sedikit Syafira! Victor bukan pria sembarangan, dia adalah pewaris ARRA mall, yang semua keputusan mengenai hidupnya akan berpengaruh untuk orang banyak! Jangan coba-coba memberi perhatian yang tidak terlalu penting! Kamu tahu, itu hanya akan membuang-buang waktumu!” geram Nyonya Hani. Menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan sikap Syafria yang murahan di depan putranya.


“Nyonya Hani, saya minta maaf. Saya akui saya memang menyukai Om Victor, tetapi saya tidak memiliki pikiran buruk atau pikiran sejauh itu. Apa yang saya lakukan, karena saya memang menyukai Om Victor. Bukan karena ada maksud lain. Dan benar, mungkin kalau tidak ada Om Victor aku belum tentu akan baik-baik saja sampai detik ini. Di sini saya juga Cuma menumpang, menumpang makan, menumpang tidur,” akui Syafra sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata.


“Bagus kalau kamu sadar diri, dengan begitu aku tidak terlalu merasa bersalah karena selama ini sudah terlalui mempercayaimu!” ucap Nyonya Hani dengan pandangan mata menatap tajam ke arah Syafira.


“Oh iya, terima kasih untuk semuanya Nyonya, semua kebaikan yang keluarga Erlangga berikan kepada saya tidak akan pernah saya lupakan. Aku janji dalam waktu dekat aku akan pergi dari sini, dan aku pastikan tidak akan bergantung lagi pada Om Victor,” tutur Syafira dengan kesungguhan. Meski ia belum tahu apa yang akan ia lakukan untuk menopang biaya kuliah dan biaya hidupnya.


“Bagus, lakukanlah! Satu lagi, kamu tidak boleh mendekati anak saya lagi!” tegas Nyonya Hani.


“Baik Nyonya.” Syafira yang sudah tidak kuat lagi menghadapi Nyonya Hani bergerak melangkahkan kaki meninggalkan nyonya Hani begitu saja. Ada nyeri di ulu hatinya, terasa berat dan sesak. Rasa sedih memenuhi dadanya.

__ADS_1


Syafira memacu kedua kakinya terus melangkah keluar dari kediaman keluarga Erlangga.


To Be Continue…


__ADS_2