Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Di ajak menikah


__ADS_3

Tampak ruangan kantor Victor yang luas. Di sisi sebelah kanan ada meja Kak Juna yang merupakan sekretaris pria tampan yang saat ini berdiri di sebelah Syafira. Sementara, singga sana bagi pemilik perusahaan terletak di ujung dengan meja yang luas. Nama Victor Erlangga terpampang, sebagai Managing director.


Juna, pemuda itu keheranan melihat Syafira berdiri di sebelah Bosnya.


“Tuan, bukankah itu Syafira. Biasanya aku melihatnya dengan Aleta, aku agak Shock melihat gadis itu ada di samping Anda?” tanya Juna dengan pandangan mata penuh selidik melihat Victor dan Syafira bergantian. Ya, satu sisi Juna tidak yakin jika Tuan Victor dan Syafira memiliki kedekatan. Mungkinkah Syafira alasan Tuan Victor akhir-akhir ini selalu melamun dan tersenyum sendiri? Jika di telisik lagi, saat ini tidak ada wanita yang sedang dekat dengan Boss-nya?


“Iya, memang ini Syafira,” jawab Victor berjalan menuju sofa dan mengisyaratkan Syafira untuk mengikutinya.


“Emm, kalau boleh tahu memangnya ada keperluan apa?” selidik Juna yang segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa ikut nimbrung dengan kedua orang yang lainnya. Setidaknya ia bisa istirahat sebentar, dari tumpukan dokumen berisi berkas-berkas laporan keuangan bulan ini.


“Tidak ada hal penting, aku hanya ingin mengajak Syafira datang ke ruang kerjaku. Oh iya, aku baru saja mengiyakan permintaan Dino Haris, dari JJ Group untuk bertemu foodcourt mall. Dan aku harap kamu akan ke sana sekarang juga untuk menemuinya!” titah Victor. Sama juga bohong kalau ada Juna di sini. Dirinya dan Syafira juga tidak bisa mengobrol dengan bebas.


Sejenak Juna tertegun dengan perintah dari bosnya. “Baik.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya, tidak bisa melakukan apapun kecuali menurut. Dia, kembali ke meja kerjanya untuk mengambil ponsel lalu segera meninggalkan ruang kerjanya. Meninggalkan bosnya hanya berdua saja dengan Syafira.


Kini di ruangan yang cukup luas, dan terasa dingin karena semua AC yang dibiarkan menyala.


“Sini,” pinta Victor menepuk bagian tempat duduk di sebelahnya.


“Tidak Om, aku duduk di sini saja,” elak Syafira. Jika hanya berdua saja dengan Victor ia harus waspada, mengingat si Om akhir-akhir ini selalu lebih berani dalam melakukan kontak fisik. Om Victor bahkan tidak ragu lagi untuk menciumnya dan meraihnya dalam pelukan.


“Sini atau aku akan—.” Victor menghentikan ucapannya, dia memutuskan untuk mendekat dan duduk di sebelah Syafira. “Baiklah biar aku yang duduk di sampingmu,” ujar Victor beranjak dari duduknya.


Pandangan mata Victor dan Syafira saling bertemu. Cukup lama mereka saling berpandangan. Hingga Victor yang membuka pembicaraan lebih dahulu.

__ADS_1


“Kau tahu kan aku sedang mendapat tekanan dari mama, bukan hanya mama, papa, tapi putraku sendiri juga memaksaku untuk mencari seorang istri!” ucap Victor. Lelah juga terus menerus ditanya kapan menikah dan di suruh untuk segera mencari mama bagi Xander.


“Iya, Om, memangnya kenapa. Nyonya Hani juga tadi membahas agar aku mau membujuk Om kembali rujuk dengan Tante Elena!” balas Syafira, ia semakin tahu apa yang ada di pikiran pria itu.


“Apa kamu ingin aku kembali dengan Elena?” tanya Victor. Saat ini selain Xander, ada Syafira yang secara diam-diam menjadi prioritas baginya. Sengaja Victor bertanya pada Syafira, sempat menyangka jika ungkapan Cinta dari gadis delapan belas tahu itu adalah sesuatu yang bisa ia percaya.


“Apa Om masih mencintai Tante Elena?” Syafira balik bertanya, sebagai seseorang yang hanya berpura-pura pacaran dengan Victor ia tidak berhak melarang jika pria itu ingin kembali rujuk dengan mantan istrinya. Syafira bisa apa.


“Rasa cinta, aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya,” jawab Victor. Pengihanatan Natasha membuatnya melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta. “Kalaupun aku rujuk dengan Elena itu semua demi Xander,” imbuhnya dengan membuang muka. Terbesit luka saat mengucapkan itu di hadapan Syafira.


“Jadi Om, sudah tidak mencintai Tante Elena?” tanya Syafira memastikan.


“Ya, aku sudah move on dari Elena, aku juga sudah berniat menikahi wanita lain. Jadi aku pastikan aku sudah sepenuhnya move on dari mantan istriku!” tegas pria itu dengan ekspresi meyakinkan.


“Ya.”


“Kalau memang Om Victor tidak mencintai Tante Elena lebih baik Om tidak perlu rujuk dengannya, hasilnya sudah bisa diketahui, bisa jadi kalian akan kembali bercerai seperti sebelumnya! Bukankah begitu? Dan kalau sampai itu terjadi, hanya akan menambah luka, menggores lebih dan lebih dalam lagi. Bukan hanya untuk Om, tapi juga untuk Xander.” Kadang saat terdesak, membuat Victor tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan pernikahan tanpa atas dasar cinta. Hanya demi Xander dan Nyonya Hani yang terus memaksa itu bukan hal yang baik untuk Victor. “Bukan Nyonya Hani atau Xander yang akan menjalani pernikahan itu, tapi Om yang akan menjalani, dan status Om sekarang adalah duda, aku hanya tidak ingin Om menjadi duda untuk kedua kalinya!” imbuh Syafira. Di satu sisi ia tidak ingin Victor kembali rujuk dengan Elena. Namun, di sisi lain a juga ingin pria itu tidak mengambil keputusan tanpa pertimbangan lebih dulu.


“Bagaimana denganmu Syafira, kamu pernah bilang kalau kamu mencintaiku! Apa itu hanya sebuah ungkapan tanpa kesungguhan?” tanya Victor. Kedua indra penglihatannya lurus menatap manik mata Syafira.


Degh.


Gluk.

__ADS_1


Syafira menelan ludah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh si Om.


“Jawab!”


“Emm seperti yang OM ketahui sampai saat ini hanya Om yang aku sukai,” jawab Syafira. Ya memang begitu adanya. Entah itu rasa suka , sayang, atau cinta Syafira tidak paham. Yang ia tahu ia hanya ingin merasakan kasih sayang dan perhatian dari pria itu.


“Baik, kalau begitu mari kita akhiri obrolan ini dengan kesepakatan.” Victor menggeser duduknya lebih dekat dengan Syafira.


Syafira menoleh dengan waspada.


“Aku akan memberimu waktu satu bulan untuk mengakhiri sandiwara pacaran kita Sya, mari kita menikah!” ungkap Si Om tanpa memikirkan Syafira.


“Apa?” kedua manik mata Syafira membelalak. Apalagi jarak wajahnya dengan wajah Victor tidak lebih dari satu jengkal.


“Ya, aku akan menjadikanmu istriku! Xander sudah mengenal dan selalu deka denganmu aku rasa dia akan mudah menerimamu menjadi ibu sambungnya. Dan mama aku akan berusaha memberi pengertian padanya,” terangnya.


“Tunggu Om, Om tidak sedang bercanda kan?”


“Tidak Sya, mari kita menikah!” tegasnya lagi. Tidak ada canda di raut wajah si om. Pria itu masih menatap Syafira dengan kesungguhan. “Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal lain, kalau kamu bersedia menikah denganku, aku akan memberi pengertian pada papa, mama dan juga Xander,” ungkap pria itu dengan terus menata Syafira. Tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari wajah Syafira.


To be Continue....


komentarnya dong.

__ADS_1


__ADS_2