Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Penuh Tanya.


__ADS_3

"Siapa?" tanya Natasha seraya bergerak menghampiri Victor yang masih berdiri di depan pintu. "Siapa?" ulangnya.


Victor berbalik dan berjalan mundur. Mengenakan bajunya kembali baru kemudian dia kembali mendekat ke arah Natasha.


"Siapa dia?" tanya Natasha yang memang belum pernah bertemu dengan Syafira.


"Syafira," sahut Victor seraya mengancingkan bajunya, lalu ia mengenakan kembali celana hitamnya.


"Syafira?? Syafira yang tadi kamu ceritakan?" seru Natasha. Hampir saja berteriak. Ternyata tak sebaik dugaannya.


"Iya." Victor merapikan rambut dan juga kerah bajunya. Bersiap untuk membuka pintu.


"Dia lagi? Untuk apa dia ke sini! Apa dia mata-mata yang selalu mengikutimu!" gerutunya. Bergerak menuju tempat tidur dan bersiap mengenakan bajunya kembali.


"Nat, tenang ya!" bujuknya.


Tok.


Tok.


Tok.


Syafira kembali mengetuk pintu.


"Aku akan menemuinya. Kamu tunggu di sini dulu ya, sepertinya aku harus mulai menjelaskan semuanya pada Syafira." Victor mengusap belakang sang kekasih lalu berniat memerikan perhitungan pada Syafira. Sudah jelas Syafira mengikutnya ke hotel. Ini bukan kebetulan lagi seperti yang terjadi kemarin di apartemen.


Cklek.


"Syafira, kamu ada apa ke sini?" tanya Victor menatap tajam ke arah gadis itu. Ia marah, tetapi berusaha untuk tidak meluapkan amarahnya. Ada rasa kasihan, ketika mengingat ia anak yatim piatu.


"Emm, aku," Syafira menghentikan ucapannya. Takut, ia belum pernah melihat pria itu, menatapnya dengan tatapan berapi-api penuh emosi seperti saat ini. Victor Erlangga, mengatupkan bibir, kalau buka Syafira ia pasti sudah marah besar karena sudah mengganggu waktunya bersama Natasha.


"Ayo kita bicara Syafira!" Victor meraih tangan Syafira dan mengajaknya keluar dari sana. Syafira tidak bisa menolak. Pria itu mengajak Syafira ke area parkir tepatnya masuk ke dalam mobilnya.


Victor duduk di belakang kemudi, sementara Syafira duduk di sebelahnya. Hening, gadis itu masih belum bisa bersuara.


"Katakan apa kamu menguntitku Syafira? Kamu sengaja mengikutiku masuk ke hotel?" cerca Victor mulai memberi desakan pada Syafira yang diam saja sejak tadi.


"Aku—," jawab Syafira terbata seraya menundukkan kepalanya. Bekas lipstik di bibir Victor, membuatnya merasa cemburu.


"Katakan Syafira! Apa kamu menguntitku!" suara Victor semakin terdengar keras. Tangan kanannya terkepal karena menahan emosi.


"Aku hanya—," Syafira membuang nafas panjang. Semakin merasa ketakutan.


"Kau tidak sedang bercandakan?" geram Victor dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


"Iya Om, aku mengikuti Om Victor ke sini," lirih Syafira hampir tidak terdengar. Sengaja menunduk dalam bersembunyi diantara rambut panjangnya yang jatuh ke bawa.


"Untuk apa kamu mengikutiku? Apa uang yang aku berikan kurang? Apa kamu butuh uang untuk membeli baju? Atau kamu ingin tas mahal dan kendaraan!" cerca Victor. Sepanjang merawat Syafira baru kali ini gadis itu benar-benar membuatnya marah.


Syafira menggeleng pelan. Ia hanya melihat ke arah jemarinya yang saling bertautan. menggerakkan ibu jarinya yang semakin gemetar.


"Apa kamu kan terus diam saja Syafira! Lihatlah bahkan kamu tidak lebih dari Xander yang masih berusia empat tahun!" geramnya. "Susah diajak komunikasi!" imbuhnya dengan penuh penekanan. Lebih baik ia menghadapi tekanan kerja dari pada harus berhadapan dengan Syafira hari ini. Benar-benar tidak sesuai ekspektasinya.


Hening.


Haruskah aku mengaku kalau aku mencintaimu Om?


Haruskah aku mengutarakan semua perasaanku saat ini?


Lalu, setelah ini.


OM akan membenciku?


Menghindariku?


"Syafira, dimana mulutmu!" Victor menendang bagian bawah dasbor mobilnya karena teramat kesal.


"Aku mencitamu Om, Aku memang sengaja mengikuti Om Victor karena aku cemburu Om Victor memiliki wanita lain. Aku, sudah lama aku memendam perasaan cinta ini pada Om Victor! Dan aku benar-benar tidak suka saat Om Victor menjalin hubungan asmara dengan wanita lain." Bendungan kuat di mata Syafira nyaris roboh dihantam air mata.


Senyap.


Victor terkekeh.


"Kamu bilang kamu mencintaiku Sya? Sepertinya kamu punya masalah dengan hatimu, aku juga menyayangi Sya, aku juga tidak ingin terjadi suatu yang buruk terjadi padamu Syafira! Tapi perassan sayangku ke kamu. Itu seperti rasa sayngku ke adikku sendiri. Jadi, selama ini mungkin kamu salah megartikannya Syafira!" jelas Victor.


Om apa aku terlihat sangat bocah sekali, sampai Om tidak percaya kalau aku mencintai Om itu sebagai seorang pria! Apa Om tidak pernah menatapku dan melihatku seperti Om melihat Natasha?


"Ya, Om. Sepertinya Om Victor benar. hatiku bermasalah! Tapi, seandainya itu benar, apa Om Victor mau menerima perasaanku dan mau membalas cintaku?" tanya Syafira. RAsa penasaran dalam hati, berhasi membuat Syafira terlalu berani.


Bukan tanpa alasan. Selama dua tahun belakangan, hampir setiap malam mereka sering menelefon hanya untuk menanyakan kegiatan dan kabar satu sama lain. Wajar, jika rasa cinta di hati Syafira semakin terpupuk. Merasa diperhatikan, merasa memiliki teman, dan menanti kabar dari si Om setiap harinya.


Kali ini pertanyaan Syafira berhasil membuat Victor bungkam. Ia melirik ke arah Syafira yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Bagaimana kalau seandainya, aku mencintai Om sebagai seorang pria, apa Om akan menerima cintaku?! Seandainya!" ulang Syafira. Pertanyaan itu setidaknya tidak akan membuatnya malu di hadapan Victor.


"Tidak Sya, tapi aku pastikan! Aku akan memilih dan menikahkanmu dengan pria yang baik!" jelas Victor. sejauh ini ia tidak bisa bertindak kasar padanya.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Syafira.


Baiklah Om, aku tidak berjanji.

__ADS_1


Tapi mulai detik ini, aku sudah tahu semuanya!


Aku tahu jika aku tak memiliki tempat sedikit pun di hatimu.


Aku putuskan, untuk melupakanmu.


Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghapus nama Om dari hatiku.


"Pulanglah, aku mau kejadian ini tidak terulang lagi! Paham!" tegas Victor.


Syafira tidak memberi jawaban. Ia hanya diam dan menatap nanar ke arah kaca mobil.


"Iya, Om." jawabnya. "Sebelum pulang bolehkan aku menanyakan sesuatu?" Syafira ragu tapi dia ingin tahu.


"Apa?"


"Kalau aku sudah 27 tahun, dan sehebat Natasha, apa Om akan melihatku?" tanya Syafira serius.


"Jangan menunggu 27 tahun. Sekarang pun aku sudah melihatmu Sya!" Victor berdecak. Kemudian, ia turun dari mobil terlebih dahulu.


Syafira memukul pelan kepalanya sendiri.


Dasar bodoh!


Dasar tolol.


Benarkan apa yang dikatakan Aleta!


Om Victor sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu.


Bangunlah Sya!


Lebih baik mengemis uang daripada mengemis cinta.


Mengingat Aleta yang masih menunggunya. Syafira segera turun dari mobol Victor. Tidak mudah memang, bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, di saat seperti ini. Di saat ia baru saja mendapat penolakan dari cintanya yang terpendam selama ini.


...****************...


...Jangan lupa....


...Vote....


...Koment....


...Tap Love....

__ADS_1


...Tinggalkan komentar ya. ...


__ADS_2