Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Bikin Dongkol.


__ADS_3

“Apa kamu akan terus menangis Syafira?” tanya Victor memukul setir dengan frustasi.


“Om Victor!” panggil Syafira di sela isak tangisnya.


“Ada apa?” Victor menatap lurus ke mata Syafira.


“Om Victor membuatku bingung! Kadang Om Victor menciumku, seolah menginginkanku! Tapi kadang Om juga memarahiku, seolah aku manusia paling bodoh di muka bumi! Sebenarnya, om Victor itu marah atau suka sama aku!” teriak Syafira sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi.


Keduanya saling menatap dalam diam.


“Syafira aku minta maaf! Aku salah, maaf aku membuatmu bingung! Ayo kita makan! Pasti kamu lapar sampai marah-marah seperti ini!” Victor meraih tangan Syafira dan akan mengajaknya turun dari mobil.


“Aku tidak lapar Om, aku tidak mau permen, aku juga tidak butuh coklat dan es krim!” Syafira mengurai kasar jemari tangannya. Ia berusaha mengusap air mata yang membanjiri pipinya.


“Ya sudah yang penting kita makan sekarang!” ajak Victor tidak ingin penolakan dari Syafira. Pria itu turun dari mobil, berjalan melingkar lalu, membuka pintu mobil. Membawa Syafira turun dari sana.


Kemudian Victor ingat kalau Syafira sangat menyukai es krim. Sama halnya dengan Xander, gadis itu tidak bisa menghindari kelezatan dessert bernama es krim.


“Kamu tidak mau es krim?” tawar Victor.


Syafira menggeleng kuat, masih merasa dongkol.


“Yakin kamu tidak mau, ada es krim paling enak di dunia loh? Kamu bisa makan sepuasmu, ada yang rasa coklat, manis lembut dengan coklat yang lumer,” bujuk Victor. Paham betul jika gadis itu sangat menyukai coklat dan sesuatu yang manis. Dulu saat masih kecil. Lagi pula ia tidak nyaman melihat Syafira yang masih menangis. Matanya merah dan sembab. Ia yakin jika ada orang yang melihat adegan ini, pasti mereka berpikiran buruk tentangnya. Sudah membuat gadis tujuh belas tahun menangis tanpa henti.

__ADS_1


Syafira masih diam. Ia penyuka es krim tapi itu dulu. Rasa es krim yang manis seperti menjadi obat pemanis di jalan hidupnya yang pahit. Bukan hanya itu, es krim yang manis juga mengingatkan kenangan indah bersama kedua orang tuanya yang telah tiada. Namun, kini es krim bukan makanan kesukaannya lagi.


“Kamu boleh memakan semuanya es krim yang kamu suka,” bujuk Victor. Pria itu masih mencoba membujuk Syafira. Tampaknya akan berhasil karena Syafira sudah tidak menangis lagi. Hanya isakan yang kadang lolos dari bibir gadis manis itu.


Kali ini bukan hanya bola matanya yang membelalak. Tangannya pun ikut bergerak. Victor pandai membuatnya menelan ludah karena mengingat es krim rasa coklat dengan porsi coklat lumer yang banyak.


“Ada rasa vanila, coklat—,” Victor tidak meneruskan ucapannya. Kini dia melihat binar di tatapan dan wajah Syafira.


Sebenarnya Syafira belum bisa memaafkan begitu saja. Teriakan si Om dan ciumannya masih membekas. Namun, ia tidak bisa melihat Victor terus menerus membujuknya. Sekarang atau nanti ia akan tetap luluh juga.


“Ayo, aku ingin makan es krim! ” ajak gadis itu. Ia mengusap pipinya yang basah. Mengambil selembar tisu di dashbord mobil untuk menekan pelan bagian atas bibirnya yang basah.


Victor tersenyum, ia menutup pintu mobil. Kemudian, duduk di belakang kemudi. Menyalakan mesin mobil dan akan segera melajukannya menuju sebuah kafe dengan hidangan es krim yang super lezat. Ada pilihan es krim dan beberapa camilan yang enak di sebuah food court yang berada lantai teratas sebuah gedung. Victor yakin Syafira akan menyukainya.


Setelah sepuluh menit perjalanan Victor menghentikan mobilnya di sebuah area parkir bawah tanah sebuah gedung bertingkat. Kemudian ia mengajak Syafira untuk masuk. Ada eskalator dan juga lift yang di gunakan pengunjung untuk mencapai lantai teratas, yaitu lantai enam.


Syafira hanya bisa menurut. Bersama empat pengunjung lain mereka masuk ke dalam lift.


Pintu tertutup, alat transportasi dalam gedung mulai berjalan naik. Mengantarkan mereka ke lantai enam.


Pintu terbuka, refleks Victor meraih tangan Syafira dan mengajaknya menuju tempat makan. Saat di keramaian, Syafira menjadi pusat perhatian. Ia memiliki kulit putih bersih. Wajah cantik dengan bibir merah alami.


Beberapa orang melirik le arah Syafira, yang masih memakai outfit kuliahnya. Victor tampak cuek dengan pandangan nyinyir orang-orang. Ia pun lebih mempererat genggaman tangannya pada jemari Syafira. Ya, mereka tampak seperti anak kuliahan yang memiliki pacar Om-Om.

__ADS_1


"Jangan pesan es krim, kita pilih makanan yang lain, ini sudah sore kita pesan Steik saja," pinta Victor yang tiba-tiba merasa sangat lapar. Steik medium dengan saus pedas manis membuatnya menelan ludah.


"Aku mau es krim," kekeh Syafira. Dia bukan anak kecil lagi, yang di larang makan es krim ketika batuk atau ketika malam hari.


Sudah lama sekali Ia tidak menikmati es krim, seenaknya sendiri Om Victor melarang begitu saja.


"Kita bisa makan es krim lain kali, sekarang pilih makanan lain!" titah pria itu menunjukkan kuasanya. Sudah lupa, kalau es krim lah yang membuatnya bisa membawa Syafira memaafkannya.


“Baiklah!”


Syafira menelan ludah. Ia terpaksa menurut ucapan pria itu. Tidak enak jika membantah atau pun menolaknya.


Tak berapa lama, hidangan steik medium dan masshed potato. Terhidang di atas meja nomor sembilan.


Victor yang selama beberapa hari ini tidak berselera makan menjadi sangat bersemangat. Berbeda dengan Syafira yang tampak enggan menyantap hidangan yang ada di depannya.


*Sebenarnya yang sedang marah itu Om atau aku? Kenapa Om yang lebih bersemangat makan dibanding aku? Batin Syafira.


“Kenapa kamu tidak memakannya Sya!” tanya Victor.


“Aku sudah bilang kan Om, aku tidak lapar! Aku mau makan es krim bukan steik!” kekeh Syafira.


“Lain kali kita cari es krim lagi, tapi tidak sekarang!” larang Victor membuat Syafira merasa dongkol saja.

__ADS_1


*******


Bakalan Up lagi


__ADS_2