Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Makan Malam Mengsedih.


__ADS_3

Jam berganti, dan hari pun berlalu. Kini Sudah hampir satu bulan sejak kejadian itu.


Syafira tidak pernah lagi menelefon Om Victor lebih dahulu. Pria itu pun tidak pernah menelefonnya lagi hingga sore ini.


Baru saja Victor menelefon. Memintanya untuk datang ke rumah. Ada acara makan malam keluarga. Ya, pria itu mengutarakan bahwa ia ingin memperkenalkan sang kekasih pada orang tua dan anaknya. Nyonya Hani, juga meminta Syafira untuk datang.


“Menurutmu, apa aku harus datang?” tanya Syafira pada Aleta yang saat ini sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah di sebelahnya.


“Datang saja, kalau kamu yakin dan tidak akan merasa cemburu!” ujar Aleta sambil mengamati layar laptop dengan jemari terus menari di layar keyboard-nya.


“Aku tidak cemburu,” sahut Syafira.


“Memangnya aku siapa, aku berhak cemburu. Kamu sendiri yang bilang aku tidak pantas dengan Om Victor!” Sungguh, apa yang ia ucapkan berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.


Butuh banyak keberanian dan kekuatan untuk hadir dimakan malam keluarga hari ini.


Aku bisa saja tidak datang dengan alasan banyak tugas kuliah. Namun, setengah hatiku penasaran. Seperti apa Natasha Agnesia?


Seperti apa calon istri dari pria yang saat ini sudah bertakhta di dalam hatinya.


“Kamu akan datang?” tanya Aleta memastikan. Dia menatap Jesslyn yang saat ini merebah di atas ranjang.


“Ya dong, aku pasti akan datang!” sahut Jesslyn. Dia sudah terlampau malu jika harus mengeluh pada Aleta. Yang terjadi saat ini ia hanya pura-pura melupakan Victor. Namun, yang terjadi sebenarnya, ia masih sangat peduli terhadap Victor. Masih belum bisa melupakannya.


Jangankan melupakan. Semakin aku mencoba menepismu dari pikiranku.


Kau semakin nyata di hatiku. Semakin ku tolak perasaan ini, semakin dalam cintaku padamu.


“Kalau begitu aku sarankan kamu harus ke salon dulu. Setidaknya, meski hanya sekali Om Victor harus melihatmu cantik! Harus melihatmu menjadi Syafira yang lain dari biasanya.” Aleta memberi saran dan seperti biasanya ia akan selalu menginginkan yang terbaik untuk Syafira.


“Haruskah?”


“Ya!”


...* * *


...


Syafira tengah berada di dalam taksi. Jam menunjukkan setengah tujuh malam. Ia baru saja selesai merias dirinya di salon sesuai saran dari Aleta.


Ponselnya berdering ada panggilan telefon dari Nyonya Hani. Beliau jarang sekali menelefon Syafira. Kalau sampai menelefon, itu artinya ada sesuatu yang sangat penting hingga wanita itu menelefonnya.

__ADS_1


“Halo,” sapa Syafira seraya mendekatkan telepon canggihnya ke telinga.


“Halo, Sya? Kamu datangkan?” tanya Nyonya Hani dari seberang telefon.


“Iya Nyonya, saya datang. Saya masih dalam perjalanan. Sebelum jam tujuh sudah tiba di sana,” sahut Syafira.


“Baguslah kalau kamu datang, apa kamu tahu siapa wanita yang akan dikenalkan Victor, aku sungguh penasaran,” ungkapnya. Bahkan wanita itu sangat penasaran siapa wanita yang akan dikenalkan sang putra.


“Nyonya, sebentar lagi Nyonya akan mengetahuinya. Saya hanya baru mendengar tetapi saya belum pernah melihatnya secara langsung,” jelas Syafira. Entah apa yang diucapkan Victor hingga sang mama begitu penasaran dengan calon istrinya.


“Oh iya kau benar,” ujarnya dengan riang. “Ya sudah kamu segera ke sini ya, nanti Aku minta tolong tanyakan ke Victor kapan ia mau menikah! Paham?” pinta Nyonya Hani.


“Baik Nyonya, sebentar lagi aku tiba.” Syafira melihat keluar kaca, ia sudah tiba di gerbang utama perumahan elite, tempat kediaman keluarga Erlangga.


“Baik Syafira.”


Panggilan telefon berakhir begitu saja. Tak sampai lima menit, ia sudah tiba di kediaman rumah keluarga Erlangga.


Syafira turun dari taxi. Penampilannya kali ini tak kalah dari Natasha. Rambut panjang yang ia ikat setengah, dengan curly di bagian bawah membuatnya terlihat anggun. Dress warna maron dengan panjang selutut. Ada aksesoris di sebelah kiri bagian kerahnya. Sungguh pas untuk Syafira. Sepatu flat warna putih, dan sling bag warna senada. Membuat penampilannya berbeda dari biasanya. Sangat menawan.


Ia masuk ke dalam rumah, menyapa Nyonya Hani, Pak Herdi, dan juga Xander yang sudah menunggu di ruang makan. Sementara Victor dan Natasha belum ada di sana.


Syafira, Nyonya Hani menganggap gadis itu adalah anggota keluarga. Bisa dibilang, sejak bercerai dari istri pertamanya Victor lebih suka mencurahkan hatinya pada Syafira. Oleh karena itu, untuk saat ini, Beliau ingin Syafira menjadi mata-mata yang akan memberikan semua informasi mengenai Victor. Dimulai dari siapa kekasihnya? Kapan mereka akan bertunangan? Kapan mereka menikah?


Syafira mengurai pelukan kemudian menjabat tangan Pak Herdi dan Xander bergantian.


"Kak Syafira, aku kesepian kalau Kak Syafira tinggal di asrama! Aku tidak punya teman!” keluh Xander yang selama ini memang lebih dekat dengan Syafira dari pada sang papa yang selalu sibuk bekerja.


“Emm, hari minggu Kak Syafira akan datang ke sini, bagaimana?” bujuk Syafira. Xander, meski baru empat tahun dia adalah anak yang pintar.


“Janji.”


Xander mengulurkan jari kelingkingnya. “Pinky Promise?”


“Pinky Promise!” Jari kelingking mereka saling bertautan.


“Sssst...”


“Sssst...”


"Victor sudah datang!" ujar Nyonya Hani yang seketika membuat semua orang yang duduk di sana melihat ke arah mereka.

__ADS_1


Adegan selanjutnya benar-benar di skip oleh Jesslyn. Semua orang di sana, bangga dengan kehadiran Natasha Agnesia. Pak Herdi dan Nyonya Hani tampak


bangga dengan calon menantunya. Begitu pun dengan Xander yang meminta makan di sebelah calon mamanya.


Syafira, memilih meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Ia pergi ke dapur, untuk menemui Mbok Atun. Berbicara dengannya lebih asyik daripada harus mendengar semua orang memuja dan memuji Natasha Agnesia. Dia muak!


Tunggu. Aku tidak cemburu!


Aku hanya muak di tengah mereka.


Iya, aku tidak cemburu!


"Mbok Atun apa kabar?" sapa Syafira berjalan mendekat ke arah wanita paruh baya yang sedang merapikan peralatan makan.


"Non Syafira, kapan Non datang, Mbok Atun baik. Bagaimana dengan Non Syafira!" Pelayan wanita itu membalas pelukan Syafira.


"Aku dari tadi Mbok, kabarku baik!" sahut Syafira.


Belum lama ia duduk Natasha datang ke dapur untuk menyapa Syafira. Ia mengisyaratkan pada Mbok Atun, untuk meninggalkan mereka berdua.


"Jadi kau yang bernama Syafira?" bisik Natasha menatap ke arah gadis delapan belas tahun di hadapannya.


"Iya." Sayfira mengangguk dalam.


"Aku mendapat informasi kalau kamu menyukai Victor? Benarkah?" Berdiri tepat di hadapan Syafira dengan kedua manik mata tertuju padanya.


"Itu bukan urusanmu!" Syafira menyunggingkan senyum.


"Santai saja, setelah aku puas bermain dengannya aku akan menyerahkannya padamu. Kau tahu? Aku hanya tidak terbiasa sendiri, dan dia tidak lebih dari tempat singgah di saat aku merasa bosan!"


Entah apa tujuan Natasha berucap seperti itu. Yang jelas, itu berhasil membuat Syafira geram.


...... *********......


...Jangan lupa....


...Vote....


...Koment....


...Tap Love....

__ADS_1


__ADS_2