Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Ada wanita lain yang menyukai Victor


__ADS_3

Syafira dan Victor dalam perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Pak Joko, duduk di belakang kemudi. Fokus melajukan kendaraan roda empat memberi kenyamanan bagi majikannya.


Victor dan Syafira duduk di belakang, sementara anak laki-laki itu berusia empat tahun itu berada di pangkuan Syafira.


“Kak Syafira!” lirih Xander.


“Iya,” sahut Syafira memfokuskan pandangan dan perhatiannya untuk Xander.


“Kata Oma, Kak Syafira mau tinggal di asrama dan tidak tinggal di rumah lagi. Apa itu benar?” tanya Xander.


Syafira melempar sebuah senyuman. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Sementara Victor, ia berpura-pura fokus melihat layar tabletnya. Meski kedua indra pendengarnya tertuju dengan apa yang dibicarakan Xander dan Syafira.


“Emmm ...,” gumam Syafira.


“Kak Syafira tetap akan tinggal di sini, dia kuliah dan akan pulang setiap hari!” sela Victor mencuri pandang ke arah Syafira.


“Emmm ..., Oma suka bohong ya, Pa?” protes anak laki-laki itu.


Victor tersenyum tipis dan kembali mengerlingkan mata di tunjukkan untuk Syafira.


Syafira sendiri memilih diam. Dia tidak bisa tersenyum sebelum mendengar penjelasan-penjelasan itu dari Victor. Hatinya masih terbakar cemburu. Mengetahui pria itu membalas pesan dari mantan istrinya, mama dari Xander.


Setelah tiga puluh menit perjalanan tibalah mereka di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Pak Joko menghentikan mobilnya di area parkir.


Victor bersama Syafira dan Xander turun dari mobil dan mulai memasuki gedung bertingkat.


Pria itu melihat ke arah jam tangan, dan kembali mengawasi Syafira dan Xander.


“Kita ke lantai paling atas ya? Xander mau makan es krim?” tanya Victor. “Bagaimana denganmu Syafira? Kamu mau es krim rasa apa?” tawarnya.


“Apa saja Om!” sahut Syafira masih acuh. Sebenarnya dia tidak ingin makan es krim. Hanya butuh penjelasan mengenai Victor yang masih berbalas pesan dengan mantan istrinya.


Pintu lift terbuka.


Victor menuntun Xander, lalu memastikan Syafira masuk dan selalu berada di dekatnya.


Pintu lift tertutup. Alat transportasi dalam gedung bertingkat itu mulai berjalan naik.


Victor menyayangi Syafira! Itu yang ia rasakan. Awalnya ia berpikir hanya ingin melihat Syafira tanpa harus memilikinya. Namun, semua itu salah. Pria dominan seperti dirinya tidak bisa menahan rasa cemburu.


Pintu terbuka.


Mereka bertiga pun melangkah ke sebuah meja yang di pesan oleh Victor. Meja berbentuk persegi panjang dengan enam tempat duduk.


Victor duduk di ujung, Xander berada di sampingnya. Syafira memilih duduk di hadapan Xander.

__ADS_1


Tak berapa lama, seorang pelayan datang dan membawa dua buah minuman dan dua porsi es krim.


Syafira berpikir sejenak, kenapa ada dua minuman. Jus strawbery sudah jelas pesanan Victor, bagaimana dengan minuman bersoda itu.


Xander tidak mungkin. Victor juga menghindari minuman bersoda.


Tap..


Tap..


Tap..


Terdengar langkah kaki mendekat. Pertanyaan Syafira terjawab sudah. Natasha Agnesia tengah berdiri di samping Victor sembari tersenyum sangat manis.


“Selamat sore, Victor?” sapa wanita itu. Ia duduk di sebelah Syafira dan berhadapan dengan Victor.


“Selamat sore Natasha!” sahut Victor. “Terima kasih kamu sudah datang!” imbuhnya. Atap seorang model yang sempat menjadi mantan kekasihnya itu.


“Iya, saya akan selalu siap, jika Anda yang menginginkan saya untuk datang!” ujarnya dengan terus melempar senyuman.


Jika bukan permintaan dari divisi pemasaran, Victor tidak ingin bekerja sama lagi dengan mantan kekasihnya itu.


“Apa kita akan membicarakan mengenai hubungan kita?” tanya Natasha.


“Tidak, apa kamu sedang bermimpi.” Victor segera melirik ke arah Syafira.


“Hadiah?” Victor menyipitkan mata mencoba mengingat.


Hening.


“Aku permisi ke toilet!” izin Syafira tidak kuat. Tidak ingin tahu apa yang di berikan Victor untuk Natasha Agnesia, hingga wanita cantik itu terbawa perasaan dan mengira Victor menyukainya dan ingin balikan. Oh, bukan hanya Tante Elena, tapi Sang model Natasha Agnesia sepertinya akan menjadi rival bagi Syafira.


Hening. Xander, sibuk dengan es krim coklatnya.


“Hadiah yang mana Natasha, aku lupa?” tanya Victor.


“Bunga dan gaun malam!” sahut Natasha Agnesia.


“Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengetahui hal itu. Aku selalu mengirim hadiah untuk para model yang bekerja sama denganku, tapi sekretarisku yang memilihnya!” jelas Victor. Sejenak ia mengingat Juna dan ingin memarahinya.


Nafas Natasha Agnesia menjadi berat. Victor, menolaknya secara halus. Wajahnya memerah karena malu.


“Aku izin ke toilet sebentar!” pamit Natasha Agnesia sembari merasakan dadanya yang teramat bebar. Ia melangkah dengan cepat. Suara height heels-nya yang beradu dengan lantai terdengar jelas di telinga Victor.


Di dalam toilet.

__ADS_1


Natasha Agnesia mendapati Syafira tengah berdiri di depan cermin. Mereka saling bertatap satu sama lain.


“Kamu, siapa namamu?” tanya Natasha Agnesia ketus.


“Aku Syafira Kak,” sahut Syafira ramah. Wanita yang sedang menjadi lawan bicaranya teramat cantik, meski dengan riasan tipis. Benar-benar jauh di atasnya.


“Apa kamu tahu wanita yang sedang dekat dengan Victor!” seru Natasha Agnesia yang tengah mematut di depan cermin mengamati penampilannya.


“Emmm ...,” gumam Syafira.


“Sialan, siapa sih wanita itu! Hah! Apa sih kurangnya aku! Kenapa Victor bisa-bisanya tidak tertarik denganku?” ungkapnya kesal. “Aku memang mengkhianatinya, tapi sekarang kan aku susah berubah!


“Syafira!” panggilnya.


“Ya Kak!” sahutnya gemetar.


“Aku cantikkan!”


“Iya Kak Natasha Agnesia cantik dan berbakat!” jawab Syafira jujur. Wanita yang tengah berdiri di sampingnya itu memang sempurna.


“Aku pantas mendapatkan Victor kan?” Suara nafas Natasha Agnesia masih terdengar berat karena kesal.


Syafira tidak menjawab. “Aku keluar dulu Kak!” pamit Syafira.


“Tunggu!” cegah Natasha Agnesia.


“Iya!”


“Kalau kamu tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan Victor, kamu harus memberitahu Syafira!” pinta wanita cantik itu.


“Bukankah kamu selalu dekat dengan Victor, seharusnya kamu tahu siapa yang dekat dengannya!” imbuhnya dengan nada penuh penekanan.


“Aku ... aku tidak tahu, Kak!”


“Sia-sia sudah usahaku!” keluh Natasha Agnesia. Ia menunduk menopang dengan kedua tangannya.


“Maksud Kak Natasha?” tanya Syafira. Mengurungkan niatnya, bertahan lebih lama di ruangan itu.


“Sudah lama aku berpisah dengan Jason, setelah mengetahui dia hanya mempermainkanku. Aku sadar aku salah karena telah menghianati Victor. Tapi Victor selalu mengacuhkanku. Pria itu selalu mengacuhkanku setelah berbulan-bulan ini aku menunggunya. Aku benar-benar tidak kuat!” keluh Natasha. Ternyata selama ini tanpa sepengetahuan Syafira, sang model juga tengah berlomba untuk mendapatkan hati Victor.


“Kak Natasha Agnesia, yang kuat ya! Mencintai seseorang tanpa ada balasan itu menyakitkan! Aku sudah merasakannya bertahun-tahun!” pesan Syafira dan segera pergi meninggalkan Natasha. Ada perasaan sedih merayap ke dalam hatinya.


Natasha terpaku. Apakah yang diucapkan Syafira itu benar? Bukankah dia masih kuliah semester satu.


Bertahun-tahun dia memendam perasaan?

__ADS_1


Natasha Agnesia menggelengkan kepala, tidak yakin.


To be Continue...


__ADS_2