Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Pacaran atau pura-pura pacaran.


__ADS_3

[ Sya, ini kesempatanmu untuk bertanya. Om Victor pasti akan memberikan jawabannya! ]


Syafira membaca pesan dari Aleta. Ya, pasti Aleta selalu memberi dukungan semangat untuk hubungannya dengan Victor.


[ Ah tidak, Om Victor lagi pijit kakiku. Aku tidak berani bertanya! ]


Balas Syafira dengan ekspresi datar. Tidak ingin menarik perhatian si Om dengan tersenyum sembari mengamati layar gawainya.


[ Ya sudah goda saja dia. Aku yakin dia pasti klepek-klepek! ]


Membaca pesan dari Aleta membuat Syafira menjadi tegang. Hanya berdua dan tidak melakukan apapun saja ia berdebar. Apalagi kalau harus menggodanya?


[ Tidak, kakiku masih sakit dan susah di gerakkan, aku lebih baik diam dan menikmati pijatannya saja ]


Syafira menulis pesan sambil mengamati Victor yang sesekali menatap wajahnya. Entah apa yang di pikirkan pria itu. Keningnya berkerut, ada sesuatu yang sedang di pikirkan si Om.


[ Kalau dia berani menciummu, apa salahnya kamu yang menciumnya sekarang! ]


Gluk.


Syafira menelan ludah. Membaca kata ciuman ia segera melihat bibir si Om. Bibir yang pernah membuatnya terbang ke langit ke tujuh.


[ Apa itu tidak apa? ]


Debar jantung Syafira semakin kencang karena Victor menatapnya tak biasa seolah bisa membaca pikirannya.


[ Tak apa, ini kesempatan untuk mendapat pengakuan cintanya! ]

__ADS_1


Syafira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah apa yang di pikirkan Aleta. Ia tidak tahu.


[ Hah, mana mungkin! ]


Ibu jari Syafira terus membalas pesan dari Aleta. Hal itu membuat Victor merasa jengah dan penasaran siapa yang kiranya berbalas pesan dengan Syafira malam-malam. Apakah itu Arsyan?


[ sudahlah lakukan saranku, kau hanya perlu menarik tangannya dan menciumnya! ]


Membaca pesan dar Aleta membuat Syafira semakin gila. Aleta memang ingin sekali cinta terpendamnya selama ini tersampaikan. Namun, bukankah Victor selalu menolak perasaannya yang sudah ia nyatakan berkali-kali. Pertama sebelum insiden terjebak lift. Keda saat ia sekarat di lift. Dan terakhir kemarin ketika mereka makan bersama. Namun, nyatanya Victor tidak pernah memberi penjelasan tentang hubungan mereka.


[ Tidak, sudah cukup aku mendapat penolakan! ]


Gadis itu mencuri pandang ke pria di hadapannya.


[ Tidak, tenanglah. kamu hanya perlu menjadi pacarnya. Atau pura-pura pacaran! ]


Kedua sudut bibir Syafira melebar membentuk sebuah senyuman. Kemudian, ia menonaktifkan ponsel, lalu menaruhnya di atas nakas.


“Aku kira kamu akan terus berkirim pesan dengan Arsyan!” cibir Victor membuang pandangan ke arah lain karena tidak suka degan ekspresi Syafira. Seseorang yang berkirim pesan dengannya solah lebih berharga dari pada dirinya yang ada di depan matanya.


“Tidak, Om. Bolehkah aku meminta tolong,” pinta Syafira. Jujur saja, ia ragu dan berdebar.


“Iya.”


“Tolong ke sini,” lirihnya mengisyaratkan Victor agar lebih mendekat dengan dirinya.


Victor hanya menurut permintaan Syafira.

__ADS_1


Dan.


Cup.


Sebuah ciuman singkat hanya sekian detik mendarat di bibir Victor.


Degh.


Victor menatap Syafira dengan tajam. “Apa kamu baru saja menciumku Sya?” kedua mata Victor membulat.


Syafira terkesiap, lidahnya kelu dan tidak bisa berkata-kata.


Merasa sudah di pancing kini Victor, menggeser tubuhnya lebih dekat. Sangat dekat lalu mendaratkan ciuman di bibir gadis itu.


Berawal dari bias kemudian, menghisapnya dalam. Bergerilyanya di seluruh bibir. Selanjutnya menjelajahi bibirnya.


Keduanya terengah. Victor mengurai ciuman agar Syafira bisa mengambil nafas.


“Ayo kita pacaran Om!” lirih Syafira.


Victor menggeleng. Niatnya untuk melupakan Syafira akan gagal jika berpacaran dengannya.


“Om hanya punya dua pilihan, kita pacaran atau pura-pura pacaran!” tawar Syafira.


To be Continue.


Cie ngegantung ceritanya....

__ADS_1


__ADS_2