Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Liontin untuk Syafira.


__ADS_3

“Om Victor! Ayo kita pulang!” ajak Syafira.


“Makam dulu es krim nya!” suruh Victor.


Melihat es krim milik Syafira yang belum habis, setengahnya saja belum.


“Aku ingin pulang sekarang, Om!” kekeh Syafira.


“Kenapa buru-buru pulang, kita kan sedang kencan Syafira! Jangan bilang kamu masih marah padaku, Natasha Agnesia dan aku tidak ada hubungan apa pun!” jelas Victor.


“Aku sudah tidak marah Om, aku juga percaya kalau Om Victor tidak ada hubungan apa pun dengan Kak Natasha Agnesia!” ungkap Syafira. “Sama seperti antara aku dan Om, tidak ada hubungan apa pun!” sindirnya.


Memang begitu yg terjadi, tidak ada kejelasan. Namun, si Om tak kujung melakukannya.


“Apa aku harus membawamu ke penghulu sekarang juga Syafira! Jangan menantangku!” sahut Victor.


“Aku bercanda Om!” timpal Syafira. “Aku ingin pulang, aku percaya Om Victor dan Kak Natasha Agnesia tidak ada hubungan apa pun!” ucap Syafira.


“Penghulu itu apa, Pa!” tanya Xander mendongak ke arah papanya.


“Bukan apa-apa sayang, ayo kita pulang!” ajak Victor menuntun Victor kecil itu berjalan menuju lift.


Victor menuruti keinginan Syafira untuk pulang.


“Nanti malam kita harus bicara!” pinta Victor sebelum mereka tiba di area parkir.


“Iya, lewat telefon saja Om!” usul Syafira. Ada rasa takut karena Victor mulai berani menciumnya di mana saja.


“Ya!”

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam mobil. Pak Joko yang sedari tadi setia menunggu. Mulai menjalankan mobilnya.


“Kita ke mana, Tuan?” tanya pria itu.


“Kita pulang saja, Pak!” sahut Victor.


“Baik!”


Mobil pun mulai berjalan kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan Victor merasa lega karena Syafira sudah tidak marah lagi.


Kendaraan roda empat itu tiba di kediaman rumah Victor. Syafira turun dari mobil. Pun begitu dengan Victor, membawa Xander yang tertidur.


Tiada angin tiada hujan. Syafira terkesiap melihat wanita yang tengah duduk di beranda rumah.


“Mengapa Tante Elena sudah tiba di sini! Ini bahkan belum ada dua bulan di Afrika!” gumam Syafira yang berjalan mengekor di belakang Victor.


“Sayang, ayo kita bicara!” ucap Elena memanggil Victor dengan sebutan sayang.


“Jangan sentuh aku!” bisik Victor menepis tangan mantan istrinya. Ia memilih untuk berlalu meninggalkan Elena.


Syafira yang sedari tadi diam, mengikuti Victor masuk ke dalam rumah.


“Tunggu Syafira!” cegah Elena meraih tangan Syafira dengan kasar.


Syafira berhenti. Ia membalas tatapan Elena.


“Aku pastikan Victor akan kembali ke pelukanku! Sadar diri kamu Syafira, kamu hanya benalu yang menumpang di rumah ini, tanpa belas kasihan dari Victor kamu tidak bisa merasakan hidup dengan fasilitas sebaik ini!” ucap Elena percaya diri.


“Yang sadar diri itu Tante! Tante datang dan pergi semaunya sendiri tanpa menghargai perasaan Om Victor!” balas Syafira. Ia paham betul bagaimana sakitnya di posisi Victor. Mencintai tapi tidak diprioritaskan itu menyakitkan.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu Syafira! Kau bukan tandinganku! Menyerahlah untuk mendapatkan Victor!” desak mantan istri Victor itu.


“Aku tidak takut, Tante!” balas Syafira berusaha tegar. Hatinya sebenarnya sudah tercabik-cabik.


“Baik! Bersiaplah Syafira aku akan membuatmu menangis darah. Karena kamu cukup berani aku tidak segan-segan, aku pastikan hatimu hancur berkeping-keping!”


“Lepaskan tanganku Tante!”


Elena melepas tangan Syafira. Mereka saling membalas pandangan sengit. Tidak ada yang mau mengalah, keduanya merasa paling berhak mendapatkan Victor.


“Aku tidak takut!” ujar Syafira. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cepat ia menaiki tangga lantai dua.


Syafira membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Aneh. Karena ia sudah menguncinya saat pergi tadi.


Gadis itu duduk di tepi ranjang. Di kamarnya yang remang.


“Harus sekuat apa aku, Om! Haruskah aku menjadi gunung! Atau setegar karang! Aku merasa kecil, mengapa mencintaimu harus selelah ini! Aku lelah!” gumam Syafira sembari menutup kedua tangannya. Air mata merebak. Dadanya terasa berat. Natasha Agnesia, Elena, Pak Jaya, Nyonya Hani, siapa lagi yang akan menghalangi rasa cintanya untuk Victor.


“Aku lelah! Haruskah aku menyerah!” keluh Syafira dengan dirinya sendiri.


Hening.


Hanya terdengar isakan samar gadis itu.


“Jangan menyerah Syafira, jangan menangis! Aku pastikan kita akan bersama!” tutur Victor meraih Syafira dalam pelukannya.


Sebelum Syafira masuk, si Om, sudah lebih dulu di dalam kamarnya.


To be Continue....

__ADS_1


__ADS_2