
“Bedebah!”
“Sialan!”
“Dasar bocah!”
“Tukang cari kesempatan!” umpat Victor di dalam mobil. Satu tangannya memegang kemudi tangan yang lainnya mengepal karena marah.
Victor semakin marah ketika, Arsyan merangkul pundak Syafira.
Saat lampu berwarna hijau, Victor kembali melajukan mobilnya ke depan. Tepat dimarka yang tidak terhalang dan jalanan sepi Victor memutar balik mobilnya. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menghampiri Syafira.
Victor menepi, lalu menghentikan mobilnya. Lantas, mengambil payung. Tanpa menunggu lagi, Victor membentangkan payung, bersamaan dengan membuka pintu mobil. Kemudian berjalan ke arah Syafira.
Arsyan yang sedang meletakkan lengannya di bahu Syafira, terkesiap. Ia terpaku dan tidak menyangka Om Victor yang melangkah cepat menghampiri mereka. Wajahnya tampak serius dan marah.
Tanpa berkata apa pun, Victor menarik Syafira dari kendali bocah sialan itu. Selanjutnya, dengan lembut ia melepas jaket hitam yang bertengger di bahu Syafira. Melempar kasar ke arah Arsyan.
Victor meraih Safira ke dalam pelukannya merangkul dan memaksa terus berada di dalam dekapannya. Berlindung di dada bidang. Sangat nyaman dan hangat! Payung yang tidak terlalu lebar menjadi alasan agar ia bisa menarik Syafira lebih dekat lagi dengannya. Bagian depan dada Syafira merapat di tubuh Victor.
Sampai di mobil, Victor segera membuka pintu depan untuk Syafira. “Masuk!” perintah pria itu dengan tegas. Dengan pelan memaksa Syafira untuk duduk, dan tidak menghendaki penolakan. Pandangannya menatap kuat ke manik mata gadis itu.
Dia menutup pintu lalu berjalan melingkar, selanjutnya duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
Victor menyalakan mesin mobil. Sengaja mengambil jalan lain untuk pulang ke rumah. Selain fokus menyetir dia melirik Syafira yang duduk di sebelahnya. Tas sekolahnya yang basah ia taruh di jok belakang. Dia duduk merapat melihat ke luar, memperhatikan hujan yang turun dengan begitu deras.
Syafira terdiam. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Tinggal dirumah Victor lagi. Ia tidak menumpang tinggal di rumah Victor lagi. Dan hubungannya dengan victor juga sudah berakhir! Tidak, tidak! Bahkan mereka belum sempat memulainya. Jadi tidak ada alasan bagi Syafira untuk menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan Arsyan.
Tanpa di sangka Om Victor menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. Hujan yang turun dengan begitu deras disertai angin yang lebat membuat jalanan begitu sepi.
Pria itu menoleh ke arah Syafira dengan tatapan tak biasa.
Rambut yang diikat ke belakang tampak basah, begitu pun kaus putih dan kardigan warna abu tua yang Syafira kenakan.
Dia terus memperhatikan Syafira. Cukup lama menatapnya sampai tak berkedi. Tetapi Syafira tak kunjung berbalik dan membalas tatapannya. Dia masih melihat keluar entah apa yang di amatinya.
“Syafira, apa kamu berpacaran dengan bocah itu?” tanya Victor ada getar marah di nada suaranya. Bukan seperti pertanyaan melainkan sebuah tuduhan.
“Jawab Syafira,” bujuk Victor memelankan suaranya dan membimbing wajah Syafira untuk menghadapnya. Ingin mendapat jawaban dan kepastian.
Syafira tertegun, tidak paham dengan sikap Victor yang tiba-tiba datang dan memaksa masuk mobil.
Dan kini, wajah pria itu hanya berjarak lima senti dari wajahnya.
Tangannya yang kuat menahan bagian belakang kepala Syafira, agar tetap bertahan di posisi itu.
“Memangnya itu penting, Om!” Syafira balik bertanya pelan tetapi tegas. Bibir bergetar karena dingin. Bibir tipis nan mungil yang biasanya merah merekah menggoda kaum adam itu, kini pucat karena kedinginan.
__ADS_1
Om Victor sudah tidak bisa menahannya lagi. Detik selanjutnya, Victor merengkuh gadis itu dalam pelukannya yang begitu erat. Lengan kekarnya seolah bisa meremukkan tulang yang sedang berada dalam kuasanya.
Syafira merasa kehangatan di sertai kenyamanan dalam setiap sentuhan pria itu. Kain basah yang menutup tubuhnya, membuat setiap jari pria yang menempel di punggungnya terasa begitu nyata.
Sekian detik mereka saling memeluk, membagi suhu tubuh. Perlahan Om Victor menuntun wajah Syafira menjauh lalu tanpa bertanya pria itu mendaratkan ciuman yang begitu dalam untuk gadis itu.
********** dengan begitu antusias bertukar rasa satu sama lain. Saat dia tersadar bibirnya yang masih bertautan ia lepaskan begitu saja.
Syafira membuka mata, netranya memperhatikan penglihatan pria itu. Dia merasakan keteduhan di sana.
“Kenapa Om Viktor menciumku, aku sudah tidak mau lagi dipermainkan oleh om Victor! Jadi jangan menciumku dan membuat aku goyah! Aku memang masih kecil dan aku memang lebih muda dari Om Victor, tapi aku sama kayak om Victor! Aku memiliki hati dan perasaan!” lirih Syafira dengan bibir bergetar sudah cukup ia terluka dan kecewa karena sikap Victor.
Tanpa diduga dan disangkanya pria itu kembali mendaratkan ciuman. Menjelajahinya dengan begitu mahir, dengan satu tangan Om Victor memeluk Syafira dengan erat, sementara tangan lain meraih dagu Syafira agar berada diposisi itu.
Victor mengurai ciumannya, menurunkan tangan. Membebaskan Syafira dari kuasanya.
Syafira masih terengah karena lupa bernafas.
Bersamaan dengan hujan yang sudah berhenti pria itu kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman rumahnya.
Tidak peduli dengan isi pikiran Syafira saat ini, yang jelas ia harus membawa Gadis itu pulang ke rumah.
To be Continue...
__ADS_1