Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Arsyan Jealous.


__ADS_3

Syafira tengah di rawat dalam ruang IGD rumah sakit, sementara Arsyan duduk di ruang tunggu merasa sangat khawatir.


Seharusnya, ia bisa lebih berhati-hati. Dan insiden buruk tidak menimpa Syafira.


Kemudian, ia meraih ponsel untuk menghubungi Aleta. Siapa lagi yang bisa di hubungi selain Aleta.


“Halo,” sapa gadis itu di seberang telefon.


“Halo, Aleta. Syafira sekang di rumah sakit. Ada mobil yang menabrak motorku dan Syafira terjatuh,” jelas Arsyan singkat.


“Kok, bisa! Bagaimana keadaan Syafira sekarang?” Aleta gemetar mendengar insiden yang menimpa Syafira.


“Dia masih di IGD, bisakah kamu ke sini!” pinta Arsyan penuh harap.


“Ya, aku akan ke sana sekarang juga!” sahutnya.


“Terima kasih Aleta,” ucapnya.


Namun, tak ada jawaban dari Aleta. Sambungan telefon terputus karena Aleta sudah bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Syafira.


Degan gelisah, Arsyan terus menatap pintu ruang IGD berharap seorang perawat keluar dari sana dan mengabarkan kepadanya bahwa Syafira baik-baik saja! Semoga.


Anak muda itu terus menunggu hingga, lima belas menit kemudian seorang perawat wanita membuka pintu dan mencari keberadaannya.


“Bagaimana keadaan Syafira, Suster?” tanya Arsyan dengan ekspresi khawatir.


“Pasien sudah sadar, dan kami akan segera membawa pasien ke ruang perawatan,” jawab wanita yang berprofesi sebagai suster itu.

__ADS_1


Arsyan mengangguk dan hanya mengikuti kedua perawat lain mendorong ranjang Syafira menuju ruang perawatnya.


Tampak jelas ia sangat khawatir. Ya, dia harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padanya.


Arsyan menatap Syafira yang tengah memejamkan. Sebelum suster itu, keluar dari ruang perawatan Syafira. Arsyan segera bertanya mengenai keadaan gadis yang dicintainya.


“Bagaimana keadaan Syafira suster?”


“Keadaan pasien tidak parah, hanya mengalami luka di bagian pelipis dan lututnya. Benturan di pelipis yang membuatnya pingsan. Sementara, di lututnya ada sebelas luka jahit, dan telapak kakinya ada luka yang tidak terlalu parah,” jelas wanita itu.


“Bagaimana dengan yang lainnya, apa ada luka dalam?” tanya Arsyan.


“Sementara ini, belum. Nanti setelah hasil rontgen dan CT Scan, keluar kita bisa tahu. Tadi pasien sepat ditanyai dan ia tidak mengeluh sakit di bagian dada,” terangnya.


“Terima kasih suster,” ucap Arsyan.


Sepuluh menit Arsyan, memandangi Syafira. Gadis itu hanya memejamkan mata, dan tidak bersuara. Dan Arsyan tidak ingin mengganggunya.


Ada suara ketukan pintu, tak lain dan tak bukan Adalah Aleta yang baru saja tiba.


“Bagaimana keadaan Syafira?” tanya Aleta fokus menatap Syafira yang sedang berbaring.


“hanya terluka di bagian kaki dan pelipisnya, sekarang Syafira masih tertidur mungkin karena pengaruh obat,” terang Arsyan. Terlihat ia sangat sedih.


“Aku akan menelefon Om Victor sekarang!” ucap Aleta. Hanya itu yang ada di pikirannya ketika terjadi sesuatu yang buruk dengan Syafira.


“Tidak usah, Aku yang akan menjaga Syafira, aku yang akan bertanggung jawab karena sudah membuatnya terjatuh!” kekeh Arsya, ya, mana mungkin ia mempertemukan Syafira dengan pria yang sudah membuatnya menangis.

__ADS_1


“Om Victor.” Terdengar lirih Syafira menyebut nama itu.


“Aku akan menelefon Om Victor, memangnya siap yang bisa kita hubungi selain dia! Syafira tidak memiliki siap-siapa selain Om Victor!” jelas Aleta.


Arsyan menatap Aleta dengan pandangan tidak suka. Ia tidak setuju dengan keputusan sepihaknya. Namun, tetap tidak menghentikan Aleta untuk menghubungi Om Victor saat ini juga.


Aleta meraih ponsel dan segera menghubungi nomor Victor. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanan, seraya menunggu panggilan telefon terhubung.


“Halo,” sapa Victor di seberang telefon.


“Halo Om ini Aleta,” sahutnya.


"Ada apa Aleta, kakakmu baru saja pulan!” ujar Victor mengira Aleta akan bertanya mengenai Juna.


“Bukan Kak Juna, tapi ini Syafira Om. Syafira terjatuh di motor dan sedang di rawat d rumah sakit! Aku harap Om Victor segera datang,” pinta Aleta melihat Arsyan dengan tatapan tidak suka.


“Ya, Aku akan ke sana sekarang juga!” jawab Victor.


Panggilan telefon berakhir.


“Kenapa kamu menelefonnya, aku sudah bilang kan jangan menelefonnya!” protes Arsyan.


Aleta memilih diam dan mengacuhkan Arsyan. Ia bergerak menghampiri Syafira, duduk di sofa di samping tempat tidurnya.


Komentar nya.


To be Continue

__ADS_1


******


__ADS_2