Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Tangisan Syafira.


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak kejadian itu. Syafira memilih diam dan tidak peduli dengan Victor. Entah apa yang tersimpan di dalam hati dan pikiran pria itu, Syafira memilih untuk tidak peduli.


Bukan tanpa alasan, sudah jelas Victor hanya menggantung perasaannya. Lagi pula dia tidak ingin di nikahi saat ini juga, Syafira hanya ingin pengakuan bahwa Victor memiliki rasa cinta untuknya. Mengakui bahwa Victor mencintainya sebagai seorang wanita. Bukan mencintainya sebagai adik atau sebagai anggota keluarga yang selalu disebut-sebutnya selama ini.


Syafira, bukan anak SD yang bisa dibodohi begitu saja. Bukan melupakan Victor, Syafira hanya butuh waktu sendiri untuk mencari jawaban dan tidak terlalu memaksakan perasaan. Tidak terlalu berharap pada Victor agar membalas cintanya.


Meski selalu terlihat murung dan diam-diam menitikkan air mata, Syafira berusaha kuat. Tidak menceritakan kegundahan hatinya pada Aleta. Sahabatnya itu sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi. Pasti ada hubungannya dengan si Om.


Pun begitu dengan Victor, ia memilih menunda dan menyimpan perasaannya. Mungkin jika waktunya sudah tepat pria itu baru akan menyampaikan perasaannya terhadap Syafira.


Pri itu disibukkan dengan acara ulang tahun putranya yang tinggal satu minggu lagi. Mantan istrinya juga akan segera pulang dalam waktu dekat ini. Setelah, perdebatan panjang. Akhirnya Victor berhasil membujuk Elena agar mau menghadiri acar ulang tahun Xander yang ke-lima.


Syafira tengah duduk di koridor. Sedikit menghindari Aleta, karena sahabatnya itu pasti akan menanyai perihal perubahan sikapnya dalam satu minggu ini.


“Kalau ada masalah kamu bisa cerita, dengan membaginya beban di hatimu juga akan berkurang,” bisik Aleta seraya duduk di sebelah Syafira.


Syafira melihat Aleta beberapa detik, sebelum pandangan mata kembali ke layar gawainya dan menggesernya sembarang. Masih saja selalu stalking akun instagram milik Natasha dan juga Elena. Kedua wanita itu, ia jadikan rival dan hanya ia sendiri yang mengetahuinya.

__ADS_1


“Apa ini tentang Om Victor?” tebak Aleta. Ia sangat yakin tebakannya benar. Dan Aleta hanya ingin menjadi tempat berbagi untuk Syafira. Ia yakin betul jika tidak ada rang lain yang akan peduli Syafira selain dirinya dan Arsyan. Sementara dengan Arsya, Syaira tidak begitu dekat.


“Iya, ini mengenai Om Victor!” ungkapnya dengan menunduk. Mengisyaratkan pada Aleta akan berjalan bersamanya menuju ke taman. Di tempat yang todak terlalu ramai ia akan menceritakan semuanya. Isi hatinya, dan apa yang terjadi malam itu.


Kini mereka duduk di bawah pohon kersen. Duduk di kursi taman, yang cukup sepi. Maklum jam kuliah sudah berakhir, banyak mahasiswa yang sudah pulang.


Aleta menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang baru menanyai Syafira lagi.


“Katakan ada apa? Apa yang membuatmu bersedih selama ini? Aku sudah lama tidak bertemu dengan Syafira yang aku kenal!” cerca Aleta. Ia hanya ingin meringankan kesedihan sahabatnya.


“Apa Om Victor salah? Atau kamu yang melakukan kesalahan?” Selidik Aleta ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


“Aku yang salah, aku mencintai orang yang tidak mencintaiku,” ungkap Syafira yang segera memeluk Aleta. Ia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sahabatnya itu.


Dari jarak tak kurang dari sepuluh meter. Arsyan melihat Syafira yang sedang menangis, ia berusaha mencuri dengan untuk mencari tahu alasan gadis yang di cintainya itu menangis. Dan akhirnya, ia mengetahui bahwa, Victorlah orang yang telah memuat Syafira bersedih sampai menangis.


“Sudah jangan menangis,” bujuk Aleta terus memeluk dan menepuk punggung Syafira.

__ADS_1


“Bukankah aku terlihat menyedihkan, di saat dia tidak bertanya kabar dan peduli terhadapku sama sekali, aku masih sangat menyukai dan mengharapkannya?” tanya Syafira dengan terisak.


Ya, Syafira yang baru saja merasakan cinta pertama, bertindak sesuai dengan kata hati. Tidak peduli dengan logikanya.


“Kamu harus menghubunginya, kamu membutuhkan Om Victor! Kamu butuh dia untuk membayar uang kuliah, kamu juga butuh uang bulanan darinya. Kamu harus menghubunginya lebih dulu Sya!” bujuk Aleta lagi. Bukannya ia tidak ingin meminjami uang, yang ia tahu. Syafira hanya harus terus berkomunikasi dengan Victor. karena di sini pria itulah orang yang bertindak sebagai wali dan yang akan bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu dengan Syafira.


“Tidak, aku akan bekerja part time saja! Aku lebih baik kehilangan waktu tidur daripada aku kehilangan urat malu!” Syafira mengurai pelukan. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi.


“Kamu yakin?”


“Ya, aku mau menerima tawaran Arsyan untuk bekerja di kafe!” Syafira sudah bertekad. Mengemis cinta lebih baik dari pada mengemis uang di hadapan Victor.


Komentarnya ya....


To be continue


* * *

__ADS_1


__ADS_2