
Victor duduk di tepi ranjang. Wajahnya tertunduk lesu bertopang kedua tangan. Semakin dewasa, semakin banyak yang harus kita perjuangan. Hidup sudah penuh masalah, maka jangan hidup kan masalah.
Kini, jika ia terus kekeh dengan keinginan memperjuangkan Syafira. Maka bukan hanya harus mengikhlaskan ARRA mall, tapi ada kemungkinan yang lebih buruk. Ia harus merelakan Syafira pergi dari rumah! Ah tidak! Jangan sampai hal itu terjadi.
Dengan tangan kanan Victor meraup wajahnya kasar. Seharusnya, ia tidak sepengecut ini. Seharusnya, ia harus lebih berhati-hati. Tak ada waktu lagi, ia harus memutuskan segala sesuatunya sekarang, jangan sampai foto dan video itu berada di tangan sang papa atau semuanya akan bertambah rumit.
Lima belas menit adalah waktu yang biasa digunakan Victor untuk menyelesaikan ritual mandinya. Dengan memakai baju rumahan, dana rambut yang masih basah pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar. Menemui Syafira saat ini juga.
Dengan langkah lebar dan cepat Victor menuruni tangga. Ia yakin jika Syafira berada di dapur.
“Dimana Syafira Mbok Atun?” tanya Victor.
“Mbak Syafira, ada di belakang, lagi kasih makan ikan,” jawab mbok Atun yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Victor segera menemui Syafira. Ia berjalan melewati kolam renang, menuju kolam ikan yang berada di paling ujung.
“Sya,” panggil Victor berjalan mendekat. Sengaja menarik tangan Syafira ke dekat dinding agar mereka berdua tidak terlihat dari dapur. Semua orang di rumah ini, Victor sudah tidak bisa mempercayainya lagi. Mereka semua adalah kaki tangan, yang akan melihat dan mencuri dengar, setelah itu akan melaporkan semuanya kepada Nyonya Hani.
“Iya, Om, ada apa?” Syafira terkejut mendapati Victor sudah berada di dekatnya. Dan kini pria itu menatapnya dengan tatapan tak biasa. Entah Syafira tidak bisa mengartikan apa arti tatapan itu.
“Syafira, maaf aku terpaksa memberitahumu sekarang. Ku tidak bisa menunda lagi. Karena mau sekarang atau nanti hari ini atau besok kamu harus mengetahuinya.” Victor menggenggam kuat tangan Syafira, tidak ingin melepaskannya. Tidak sejalan dengan apa yang akan ia sampaikan. Tentu saja tidak sejalan dengan hatinya.
“Maaf Om, memangnya ada apa? Adakah sesuatu yang mendesak.” Syafira membalas tatapan pria itu, menelisik dan mencari tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Victor.
Syafria terpaku, dadanya terasa berat dan sesak yang membuatnya tidak mampu berkata-kata. Ada getir di ujung tenggoroknya yang membuat hatinya semakin tersayat.
“Jadi apa yang Om Victor itu katakana hanya bohongan dan untuk mempermainkanku begitu?” tanya Syafira dengan berkaca-kaca. Detik berikutnya bendungan kuat di matanya roboh dihantam oleh air mata. Bulir-bulir bening membasahi pipi.
__ADS_1
“Maaf Syafira, maaf aku sudah mempermainkanmu! Maaf sekali aku kira kamu akan mundur dan aku tidak akan merasa sangat bersalah seperti ini , tapi sepertinya tebakanku salah. Nyatanya aku sangat merasa bersalah, aku minta maaf sekali Syafira karena aku sudah berani mempermainkanmu,” akui Victor dengan wajah pasrah. Meyakinkan dirinya sendiri jika ini adalah keputusan yang terbaik untuk saat ini. Lebih baik melihat Syafira menangis, dari pada harus berada jauh atau terpisah dari gadis itu.
“Jadi, selama ini Om memang benar-bena tidak pernah menyukai atau pun tidak pernah tertarik padaku sama sekali?” tanya Syafira.
“Ya, Sya, aku menerima tawaranmu untuk menjadi pacar bohonganmu karena aku kasihan padamu, dan ternyata tetap sama aku sama sekali tidak tertarik. Tidak berniat membalas cintamu, maaf. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya!” Victor membuang muka, tidak berani melihat wajah Syafira yang berderai air mata.
“Baik Om, aku bisa memahaminya,” lirih Syafira dengan bibir bergetar. Dengan kasar ia menepis tangan Victor dan segera meninggalkan pria itu.
To be Continue…
Aku juga menulis di F1zz0.
Judul : Gairah Terpendam Sang Duda.
__ADS_1
Bisa cek ya, gratis sampai tamat.