
“Kalau Om Victor dan Arsyan mau berdebat, jangan di sini. Om Victor dan Arsyan bisa keluar dari kamar Syafira.” Aleta membuak pintu lebar-lebar, lalu bergerak mendekat ke arah Syafira dan memeluknya.
Victor dan Arsyan ke luar. Mereka berdua berjalan ke ruang tunggu yang sudah sepi. Tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Kemudian, baik Victor maupun Arsyan sama-sama duduk. Ada dua kursi yang memisahkan keduanya.
“Kamu, kenapa kamu bisa membuat Syafira terjatuh! Aku berhak marah karena Syafira sudah tidak memiliki orang tua yang akan membelanya saat sesuatu yang buruk terjadi padanya! Kenapa kamu ceroboh sekali! Untuk lukanya tak seberapa!” cerca Victor dengan pandangan mata penuh kemarahan kepada pemuda di hadapannya. Sejak tadi ia terus menatap tajam kepada anak muda yang baru saja mengancamnya.
“Om, om jangan marah dulu padaku. Seharusnya Om mendengarkan ceritaku sebelum Om menuduhku yang tidak-tidak!” bela Arsyan, sejak tadi ia tak gentar sama sekali dan terus saja membalas tatapan Victor.
“Baik, aku akan mendengar penjelasanmu. Sekarang katakan, aku ingin mendengar apa pembelaanmu!” tegas Victor mulai geram. Seolah Arsyan hanya mencari alasan untuk menunda puncak kemarahannya.
“Kemarin, aku melihat Syafira menangis. Aku tidak tahu apa masalah sebenarnya. Tapi saat aku bertanya pada Aleta tadi, dia bilang Syafira tidak ingin bertemu dengan Om! Om tahu kenapa Syafira ingin pergi denganku?
__ADS_1
Victor menggelengkan kepala dan terus menyimak penjelasan Arsyan. Ia tahu, di sini ia tak sepenuhnya benar. Dan Arsyan juga tidak sepenuhnya salah. Terlihat raut wajahnya yang tetap melihatnya dengan kebencian.
“Syafira ingin bekerja di kafe karena tidak mau bergantung pada Om lagi! Dan aku hanya bisa mencarikannya tempat kerja. karena kalau aku terang-terangan memberikannya uang. Syafira akan menolaknya!” jelas Arsyan. “Mengenai kecelakaan itu aku tahu aku salah! Tapi aku juga ingin Om introspeksi, agar Om tidak hanya mencari kesalahanku. Mungkin bagi Om, Syafira tidak penting! Tapi bagi aku Syafira sangat penting! Mungkin bagi Om, air mata Syafira adalah sesuatu yang bias, tapi bagi aku, aku tidak melihat Syafia menangis terlebih dia sudah tidak memiliki ayah dan ibu!” jelas Arsyan.
Dengan tangan kanan Victor meraup wajahnya kasar. Ucapan Arsyan membuatnya sadar.
Hening, keduanya saling menatap tajam.
"Aku akan menjaga Syafira tanpa kamu suruh,” sahut Victor lirih. Mendengar Arsyan menyuruh jiwa bossy-nya memberontak. Tidak biasanya ia mendapat titah dari orang lain. Tidak bisa diam saja ketika anak ABG mengaturnya sesuka hati tanpa rasa sopan sedikit pun.
"Aku percayakan Om Victor menjaga Syafira malam ini! Segera minta maaf, dan berjanjilah tidak akan menyakiti Syafira lagi!" suruh Arsyan, sebagai seseorang teman pria yang menyukai Syafira.
Victor tidak menjawab. Diam dan semakin meradang, karena Arsyan masih saja berani menyuruhnya. Mengamati, memandang dengan tatapan mematikan ke arah remaja itu.
__ADS_1
“Jaga Syafira Om!”
“Aku harus pulang sekarang karena Mama sudah menyuruhku untuk pulang!" ucap Arsyan sembari melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
DASAR BOCAH! umpat Victor dalam hati, pada sikap Arsyan.
Dia terus mengamati Arsyan yang kembali berjalan ke ruang perawatan untuk berbicara dengan Syafira.
Victor pun mengikuti langkah Arsyan kembali ke ruang perawatan Syafira. Ia tidak bisa marah, meski Arsyan lebih muda. Tetapi apa yang ia ucapkan itu benar.
Tinggalkan komentar ya.
To be Continue.
__ADS_1