Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Syafira Cemburu!


__ADS_3

Syafira menaiki tangga lantai dua. Ia baru saja mengantar Arsyan sampai ke beranda depan. Lantas, memilih untuk beristirahat sejenak karena Si Om dan juga Xander belum juga pulang ke rumah.


Setelah menutup pintu kamar, Syafira duduk bersandar di atas ranjang. Kemudian, ia meraih ponsel untuk mengirim pesan untuk Om Victor.


[ Siang, Sayangku lagi apa? Kapan pulang? ]


Syafira lantas mengirim pesan itu pada Victor. Lalu, tubuh untuk menuruti rasa kantuknya. Ya, saat di asrama ia akan menyempatkan tidur sejenak di siang hari.


Sekitar 15 menit Syafira terlelap, ia terjaga karena ponselnya berdering. Mendapat balasan pesan dari Viktor.


[ Ini bukan siang lagi sayang. Ini sudah sore, aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Oh ya kamu mau dibeliin apa? Aku sedang membelikan Xander es krim. Kamu mau? ]


[ Hoooo ... es krim. Aku mau es krim. Rasa apa saja ]


Balas Syafira cepat.


[ Baiklah aku akan membelikanmu es krim juga ]


Kemudian, Syafira menyempatkan waktu untuk sekedar membuka Story WhatsApp, dari beberapa nomor yang tersimpan di kotak ponselnya.


Ada salah satu yang membuatnya tertarik. Yaitu Story WhatsApp milik Tante Elena. Ya, sekitar 30 menit yang lalu wanita itu mengunggah foto dirinya, Xander, dan juga Victor yang tengah berdiri menghadap ke arah kamera. Entah siapa yang mengambil foto untuk mereka. Namun, dalam frame itu terlihat ketiga orang itu tersenyum bahagia. Bukan hanya itu caption yang tertulis di sana juga membuat hati Syafira terbakar. ‘Keluarga kecil yang bahagia’ begitulah caption yang ditulis Elena di foto tersebut.


Syafira mengernyitkan dahinya. Dengan pelan jemari tangan kanan memijit keningnya yang terasa pening. Unggahan Story WhatsApp Elena itu, membuat hatinya terbakar. Lantas, ia berniat akan mengkonfirmasinya pada Victor. Kenapa pria itu harus tersenyum? membuatnya merasa cemburu saja!

__ADS_1


“Dasar tante Elena katanya udah enggak suka sama Om Victor, katanya udah enggak mau rujuk sama Om Victor, tapi masih bilang keluarga kecil!” gerutunya dengan bibir manyun ke depan. “Apa jangan-jangan Tante Elena berbohong padaku, sebenarnya ia masih menginginkan rujuk dengan om Victor, tapi tidak mau mengakuinya!” tuduh Syafira. Melempar ponselnya sembarang, karena merasa sangat kesal.


Ketika ponselnya berdering Syafira tidak segera mengambil telepon pintarnya. Meskipun telepon itu dari Viktor ia tidak ingin menerima panggilan telefon saat ini juga.


“Pa kapan mama pulang?” tanya Xander.


Es krim yang sudah dibelikan Victor, untuk sekedar mengalihkan perhatian agar putranya tidak menanyakan sang mama. Ternyata tidak cukup ampuh, buktinya belum juga sampai di rumah Xander sudah menanyakan kapan mamanya akan pulang. Padahal wanita itu, tentu saja belum tiba di tempat tujuannya.


“Dua bulan lagi mama baru bisa pulang, nanti kita berdoa akan menjemput mama di bandara. Ayo makan dulu es krimnya habiskan. Papa juga membelikan es krim untuk kak Syafira, tenang saja nanti kamu tidak kesepian kak Syafira akan menemani kamu,” bujuk Victor. Dengan jemari tangan kanan, ia mengusapa belakang kepala putranya dengan lembut.


“Iya Pa,” jawab Xander seraya mengangguk. Lalu ia melanjutkan menikmati es krimnya.


Pak Kardi menambah laju mobil. Kemudian, ia berbelok dan masuk ke pintu gerbang yang sudah terbuka. Menghentikan kendaraan roda empat tepat di garasi. “Tuan kita sudah sampai,” ujarnya. Segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk Victor dan Xander.


Sepasang bapak dan anak tersebut, turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.


“Iya Ma,” jawab Victor. “Di mana Syafira, aku membelikan es krim untuknya.” Victor segera mengingat Syafira yang tak kunjung membalas pesan darinya.


“Syafira berada di kamarnya. Tadi dia pulang diantar temannya,” ujar Nyonya Hani yang masih mengingat Arsyan. Pemuda yang baik menurutnya.


“Apa Aleta yang mengantarnya pulang?” tanya Victor ia menaruh es krim itu ke dalam kulkas yang berada di ruang makan, lalu kembali menghampiri sang Mama.


“Bukan Aleta, namanya Arsyan. Sepertinya mereka sangat dekat Mama setuju kalau Syafira pacaran dengan pemuda itu. Dia sopan, pintar dan sepertinya dia bisa memahami Syafira,” ungkap Nyonya Hani yang terpesona dengan sikap yang ditunjukkan Arsyan.

__ADS_1


Di satu sisi Vistor merasa lega karena sang mama tidak mungkin mencurigainya lagi bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Syafira. Namun, di sisi lain, ia merasa cemburu. Sepertinya Arsyan sudah berhasil mengambil hati Sang mama dan mengenai perasaan cinta tidak diragukan lagi. Pemuda itu, memiliki rasa yang dalam terhadap Syafira.


Victor menelan ludah ia berusaha menyembunyikan gejolak api cemburu yang ada di dalam hatinya. Tidak! Ia masih menyangkal, bisa saja ini bukan rasa cemburu. Ini hanya rasa kesal karena sang mama memuji Arsyan yang notabene lebih mudah darinya.


Kemudian, Victor izin naik ke lantai dua. Ia tidak segera menemui Syafira yang berada di kamarnya. Pria itu, perlu mengatur emosi sebelum bertemu dengan gadis bermata biru itu. Memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Air dingin selalu bisa mengembalikan mood-nya. Mungkin, dengan begitu ia tidak akan marah pada Syafira yang pulang diantar oleh Arsyan. Jujur saja, Victor tidak ingin terlalu mengekangnya. Apalagi status mereka hanya pura-pura pacaran. Bukankah dia tidak berhak marah kalau hanya Syafira di antar pulang oleh Arsyan?


Tepat ketika Victor keluar dari kamar, ia melihat Syafira yang tengah menonton TV di ruang keluarga. Gadis itu duduk di sofa dan fokus dengan layar TV. Bahkan ia tidak menyadari suara pintu yang terbuka. Lantas, Victor bergerak lalu duduk di sebelah Syafira.


“Apa tadi kamu ketiduran?” tanya Victor mencoba senatural mungkin. Ia harus mengontrol diri. Tidak boleh menunjukkan rasa cemburunya.


“Iya Om,” jawab Syafira ketus, ia tidak menoleh sama sekali. Kedua manik matannya terus fokus menatap layar televisi.


“Es krim favoritmu ada di kulkas. Kamu bisa mengambilnya sekarang,” tawar Victor. Ia sangat yakin Syafira akan menyukainya.


“Iya Om,” jawab Syafira tak kalah Ketus dari sebelumnya. Membuat Victor bertanya-tanya. Apa alasan Syafira bersikap seperti itu? Apakah ia melakukan kesalahan?


“Bagaimana tadi di kampus? Apa kamu bisa mengikuti pelajarannya?” tanya Victor mencoba membuka obrolan lain.


Namun kali ini Syafira tidak menjawab. Ia memilih bermain dengan telepon pintar miliknya. Ia membuka layar ponsel lalu memilih membaca suatu artikel, yang menarik untuknya. Ia masih merasa cemburu dengan foto itu.


“Syafira, Apa kamu tidak mendengar pertanyaanku!”


Gadis itu tetap bungkam, tidak menjawab pertanyaan dari Victor.

__ADS_1


“Syafira Kenapa kamu tidak menjawab! Kenapa kamu diam saja apa! Aku melakukan kesalahan!” cerca Victor dengan penuh penekanan. Netranya, menatap Syafira tajam. Ia marah diperlakukan seperti itu oleh lawan bicaranya.


To be Continue.


__ADS_2