
Hari mulai berganti. Hampir setiap hari Victor mengantar Syafira ke kuliah. Mulai dekat dan saling berbagi keluh kesah. Dan tawaran itu, Victor belum membahasnya lagi.
Setiap malam, Victor juga menyempatkan untuk menemani Syafira belajar. Awalnya Nyonya Hani biasa saja. Namun, lama-lama ia curiga apa lagi Syafira dan Victor terlihat sangat dekat. Naluri seorang ibu tidak pernah salah.
Malam ini jam menunjukkan pukul 20.30 WIB. Xander sudah tidur di kamarnya. Hanya ada Syafira dan Victor di ruang tengah. Ada buku di hadapan Syafira, dan Victor menatap layar tabletnya sembari melihat jadwal kerjanya esok pagi.
Nyonya Hani mengamati mereka dari kejauhan. Ada rasa tidak enak hati yang merambat ke sanubari. Kemudian ia memutuskan untuk mendekati keduanya.
“Syafira apa yang sedang kamu lakukan?” tanya wanita itu. Jika di perhatikan, gadis delapan belas tahun itu memang cantik. Wajah imut dengan lesung pipi, kulit putih, rambut panjang, dan mata birunya yang indah. Satu lagi, sikapnya yang manja! Pasti banyak teman kuliahnya yang suka.
“Belajar Nyonya,” sahut Syafira mendongak ke arah sumber suara.
“Belajarlah di kamar! Atau di perpustakaan!” Nyonya Hani menunjuk sebuah ruangan yang berada di sebelah kamar Victor. “Di sana banyak buku pengetahuan yang kamu baca!” tambahnya.
“Iya, saya akan belajar di perpustakaan!” jawab Syafira cepat. Ia berdiri dari duduknya dan membawa kedua buku yang sedari tadi di hadapannya. Kemudian, bergerak menuju perpustakaan.
Kini di ruang tengah hanya ada Victor dan mamanya.
“Apa kamu kesepian?” selidik Nyonya Hani. Sengaja membuka pembicaraan agar sang bisa menyuruh putranya segera mencari istri.
__ADS_1
“Maksud mama?” tanya Victor ia menaruh tablet dan membalas tatapan sang mama. Ada raut wajah tak biasa di sana.
“Akhir-akhir ini mama lihat kamu dan Syafira semakin dekat saja, apa perlu mama mencarikanmu istri?” tawar Nyonya Hani. Ia mengira kedekatan Victor dengan Syafira karena kesepian setelah kandasnya hubungan sang putra dengan Natasha.
“Tidak perlu Ma, aku seorang duda dan sekarang aku sedang fokus bekerja bukan mencari istri!” tolak Victor. Rasa kecewa dalam hatinya saja belum sembuh. Dan ia masih menunggu jawaban dari Syafira.
“Apa salahnya kamu seorang duda, kamu masih tampan dan kamu juga pintar, bahkan gadis 18 tahun itu pun sepertinya tergila-gila padamu!” tuduh Nyonya Hani.
“Maksud Mama, Syafira?” tanya Victor sebelah alisnya terangkat ke atas.
“Iya, jangan kira mama tidak tahu!” ujar Nyonya Hani. “Mama tahu apa yang selama ini gadis itu lakukan. Dia berusaha mendekatimu kan!”
Victor terkesiap. Apa yang di ketahui sang mama.
“Memangnya Mama tahu apa?” tanya Victor.
“Syafira diam-diam memperhatikanmu dan mencari perhatianmu! Ya kan!” ungkap Nyonya Hani. Tatapan matanya beralih ke pintu perpustakaan.
“Mama tahu dari mana?” selidik Victor.
__ADS_1
“Mama seorang wanita, dan mama orang yang melahirkanmu, jadi mama tahu siapa saja yang menyukai anak mama, mama harap kamu bisa menjaga jarak dari Syafira!” pinta wanita paruh baya itu.
“Syafira sudah aku anggap sebagai adik Ma! Aku juga percaya bisa mengendalikan perasaanku, jadi mama tenang saja!” bujuk Victor setidaknya, sebelum Syafira
mengatakan ‘IYA’ Victor tidak ingin mamanya tahu mengenai tawarannya terhadap Syafira.
“Tidak! Mama tidak akan tenang!” elak Nyonya Hani.
“Baiklah mulai sekarang aku akan berusaha menjaga jarak dari Syafira, mama jangan khawatir ya!” bujuknya menenangkan sang mama. Victor bisa merasakan Nyonya Hani tidak suka dengan kedekatannya dengan Syafira.
“Mama percaya padamu Victor!” tutur sang mama. “Baiklah Mama istirahat sekarang!” pamitnya.
“Iya, Ma!” Victor menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“Jangan tidur malam-malam.” Nyonya Hani berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju kamarnya.
Victor menutup layar tabletnya. Pandangannya tertuju pada pintu ruang perpustakaan di mana Syafira berada. Sudah hampir jam sembilan malam dan hujan tak kunjung reda. Ia merasa harus membicarakan sesuatu dengan Syafira.
To be Continue....
__ADS_1