
Natasha sudah pulang. Acara makan malam pun sudah selesai. Kini hanya ada Nyonya Hani dan Syafira yang sibuk membantu Mbok Atun membereskan meja makan.
“Syafira,” panggil Nyonya Hani.
“Iya, Nyonya,” sahut Syafira. Masih sibuk memilih dan memisahkan piring dan sendok yang kotor.
“Kamu ke atas, bicara sama Victor kamu tahu kan dia tidak mungkin terbuka kalau bicara denganku?” pinta Nyonya Hani. Mempercayakan masalah Victor dengan Syafira.
“Tapi Nyonya, sudah lama aku tidak mengobrol dengan Om Victor. Bagaimana kalau Om Victor tidak mau terbuka denganku?” Syafira menghentikan aktivitasnya. Kalau masih harus bicara degan Victor artinya malam ini ia tidak bisa pulang ke asrama. Ini sudah jam setengah sembilan. Asrama di tutup pukul sembilan malam.
“Pokoknya aku percaya padamu Syafira,” ujar Nyonya Hani dengan senyum di bibirnya.
“Lantas, apa yang harus aku tanyakan?” Sebenarnya Syafira tidak ingin terlalu ikut campur apalagi setelah mengerti bahwa Natasha hanya bermain dengan Victor.
“Tanyakan, kapan dia akan melamar Natasha, dan kapan mereka akan menikah! Dan yang terpenting, dia bisa menjadi ibu yang baik untuk Xander atau tidak! ” Nyonya Hani tampak tidak sabar ingin mendengar kabar baik itu. Bukan tanpa alasan, ia hanya ingin Victor tidak kesepian. Dan Xander memiliki sosok ibu yang mendampinginya.
“Sekarang?” Syafira ragu. Sejak insiden memalukan waktu itu, kecanggungan terjadi antara dirinya dan Victor.
“Ya, biar ini aku dan Mbok Atun yang membereskannya!” Nyonya Hani kembali tersenyum untuk menyemangati Syafira.
“Baik Nyonya, Om Victor di kamarnya?” rasanya Masih enggan untuk menemui pria itu. Terlebih ada kebimbangan dalam hatinya. Natasha? Haruskah ia menyampaikan niat buruk Natasha itu terhadap Victor?
“Kalau tidak di kamarnya, di kamar Xander.” Nyonya Hani benar-benar menyerahkan maslah tanya menanya ini pada Syafira.
Syafira berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Kamar pertama yang dekat dengan ujung tangga adalah kamar Victor. Sedangkan kamar Xander berhadapan dengan kamar Victor. Ada ruang keluarga yang cukup luas yang memberi jarak di antara ruang kamar itu. Dulu kamar Syafira ada di sebelah kamar Xander.
Pertama kali Syafira melangkah menuju kamar Victor. Ia mengetuk pintu pelan. “Om Victor,” panggilnya dengan pelan.
“Sebentar,” sahut suara dari dalam. Belum tampak saja, Syafira sudah dibuat grogi hanya dengan mendengar suaranya dari si Om.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Syafira terpaksa mendongak untuk menatap wajah pria itu. Ya, pria yang tak melirik ia sekali pun, meski ia sudah pergi merias diri ke salon.
__ADS_1
“Om, Nyonya Hani memintaku untuk bicara dengan Om, OM sudah mau istirahat?” tanya Syafira.
Bilang dong, OM.
Bilang kalau Om sudah mengantuk, dan kita akan bicara lain kali!.
“Masuklah Sya, kita memang perlu mengobrol! Ada beberapa pertanyaan juga yang ingin aku tanyakan padamu,” sahut pria itu. Rona bahagia masih terpancar di wajahnya.
“Kita bicara di balkon saja Om, lagi pula aku tidak enak kalau pacar Om tahu, aku berani masuk ke kamar Om.” Syafira berbalik, tetapi Victor meraih tangannya dan menuntun masuk ke dalam kamar.
Sungguh. Jantung Syafira bertalu-talu hanya karena sentuhan dari pria itu.
“Balkon kamarku.” Victor bersemangat sekali membuka pintu kamar yang mengarah ke balkon. Kemudian, mereka duduk di kursi rotan yang ada di sana.
Syafira mengalihkan pandangannya. melihat ke langit yang bertaburan bintang gemintang dengan bulan sebagai raja malam. Cerah, secerah hati Victor saat ini.
“Om bahagia?” tanya Syafira.
“Jadi kapan OM mau bertunangan dengannya, sepertinya Om sudah tidak sabar ingin meresmikan hubungan kalian. Lalu, memperkenalkan Natasha ke semua orang,” Ujar Syafira kali ini ia sangat berharap apa yang dikatakan Natasha hanya sebuah kebohongan belaka. Agar dirinya tetap bisa berharap dengan Victor. Ya, semoga saja. Saat ini, Syafira sudah sadar sebesar apapun cinta yang ia persembahkan untuk Victor. Kebahagiaan pria itu dan Xanderlah yang paling utama.
“Tentu, aku akan segera mengajaknya bertunangan. Kalau bisa sebelum akhir tahun aku ingin menikah dengannya,” sahut Victor. Sejenak ia melihat layar ponsel. Menggeser ibu jarinya lalu, membalas pesan dari kekasihnya. Syafira, ya mungkin ia tidak akan punya kesempatan. Menjadi obyek foto yang terpapar menjadi wallpaper ponsel dari Victor Erlangga. Kembali, rasa cemburu merambat ke dalam hati kecilnya.
“Apa Om sudah bertanya dengan Xander?” selidik Syafra. Dari gelagatnya sepertinya Victor belum pernah bertanya langsung dengan putranya.
“Belum,” jawabnya lirih.
“Bagaimana kalau Xander tidak setuju?” Syafira takut pria yang pernah melukai hatinya itu terluka karena wanita lain. Dan Xander, bukan tidak mungkin anak kecil berusia empat tahun itu juga akan terluka jika Natasha hanya bermain-main saja.
“Aku yakin Xander setuju. Besok aku akan mengajaknya ke Lombok bersama Natasha, kau ikut juga boleh, emm kau ikut saja Syafira!” usul Victor.
“Tidak OM, hari senin aku ada jadwal kuliah,” tolak Syafira.
“Ijin satu hari? Bagaimana?” paksa Victor. “Lagi pula aku yakin nilaimu tidak kan turun hanya karena ijin berangkat kuliah satu hari! Kamu mau kan!”
__ADS_1
Syafira bungkam. Liburan? Siapa yang tidak mau liburan gratis ke Lombok! Hanya saja, itu sama racun yang membakar hatinya jika melihat Victor dan Natasha berduaan.
“Ayolah, kamu mau kan!” Victor mendekat dan kembali meraih jemari tangan Syafira.
Degh.
“Baik Om, aku mau! Tapi dengan satu Syarat!”
“Apa?” Victor menatap dalam ke manik mata gadis delan belas tahun itu, dan segera membuat Syafira tersipu.
“Kalau bisa, Om jangan terburu-buru menjalin hubungan dengan Kak Natasha. Aku rasa dia masih memikirkan banyak hal untuk bersedia menikah dan menjadi seorang ibu sambung untuk Xander!” pinta Syafira dengan bersungguh-sungguh. Ia tidak bisa menyampaikan secara langsung apa yang di sampaikan Natasha di dapur. Ia tidak ingin hubungannya dengan Victor kembali merenggang.
“Tenanglah, aku tahu mana yang terbaik untukku Sya!.”
“Dan aku wanita Om, sesama wanita, aku tahu wanita yang baik dan yang tidak baik menjadi ibu bagi Xander.”
“Apa Natasha tidak baik untuk Xander, maksudmu begitu?” desak Victor.
“Coba Om sendiri yang bertanya dengan Xander, selama ini Om memilih istri yang hebat di ranjang? Atau ibu yang bauk untuk Xander?” Syafira beranjak dari duduknya. Ia tidak menunggu Victor memberi jawaban ia segera keluar dari kamar si Om.
Bagaimana bisa, Victor yang jelas-jelas memilih Natasha dibandingkan dengan dirinya. Namun, pria itu tetap saja sangat tampan bahkan hanya saat berdiri dan bernafas.
Syafira mengutuki kebodohan dirinya sendiri.
...* * *...
...Jangan lupa....
...Vote....
...Koment....
...Tap Love....
__ADS_1