Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Pingky Promise.


__ADS_3

“Apa semalam Om tidak pulang?” tanya Syafira pagi ini mendapat telefon dari Nyonya Hani yang mengatakan bahwa Xander terus menunggu sang papa pulang ke rumah.


“Aku tidak bisa pulang dalam keadaan berantakan seperti ini Syafira. Saat aku pulang ke rumah mama akan terus menanyakan dan menyudutkanku dengan pertanyaan kapan aku menikah. menurutmu apa aku jawab saja aku tidak akan menikah dan menunggumu sampai lulus kuliah! Setidaknya dengan begitu selam tiga tahun ke depan mama tidak akan mengejarku untuk segera mencari istri.


“Om Jangan bercanda!” Syafira berdecap. Victor yang saat ini duduk di sampingnya benar-benar bukan seperti sosok Victor yang ia kenal. Victor yang ia kenal yaitu Victor yang tak akan goyah dan akan selalu menghadapi apa yang ada di depannya. Tapi Victor yang saat ini duduk di sebelahnya terlihat sangat lemah.


“Apa aku kelihatan bercanda?” Victor yang sejak tadi melihat ke depan kini melihat ke arah Syafira. Memperhatikan gadis yang duduk di sebelahnya, memperhatikan pula selera busananya.


Celana jeans warna hitam. Kaus putih, di padu dengan blazer wana hitam. Sepatu warna biru muda senada dengan warna tas ranselnya.


“Apa Om begitu mencintai Natasha? Om terlihat sangat patah hati saat kehilangan dia?” selidik Syafira. Mengingat kembali saat kemarin ia mendapati Victor mabuk berat dan menciumnya paksa.


Victor menunduk, dalam hatinya sakit itu sudah tidak ia rasakan. “Bukan begitu Syafira, aku hanya merasa tidak terima dia berselingkuh dengan sepupuku! Dan aku lebih memikirkan bagaimana menjelaskan semunya pada mama yang sudah mengetahui bahwa aku dekat dengannya!” jelas Victor. “Soal kemarin, kejadian saat aku mabuk berat, aku benar-benar minta maaf padamu Syafira. Kamu mau memaafkanku kan?” daging kenyal itu? Mungkin kemarin adalah satu-satunya kesempatan dalam hidupnya Victor bisa memegangnya. Lain kali Syafira pasti akan melayangkan tinju jika ia sampai berani memegangnya lagi dengan sengaja.


Syafira diam, kejadian kemarin masih membekas dalam ingatannya. Namun, ia tidak bisa marah. Victor pria baik yang selalu memenuhi kebutuhan dan menyekolahkannya. Syafira yakin Victor tidak sengaja melakukan itu.


“Jadi kapan Om mau pulang ke rumah! Nyonya Hani sudah menunggu pesan dariku,” desak gadis itu.


“Bilang saja nanti malam aku pulang ke rumah!” sahut Victor. “Oh iya Syafira, kamu benar-benar sudah memaafkanku kan?” sekali lagi Victor memastikan.


“Iya, Om aku memaafkan Om. Asal Om Victor tidak mabuk lagi!” pinta Syafira mengulurkan jari kelingkingnya.


Victor menoleh, menatap tepat di wajah Syafira.


“Pingky promise?” desak Syafira.


“Pingky promise,” ucapnya. “Terima kasih Syafira kamu sudah menjadi sahabat yang baik untukku!” imbuhnya.


Keduanya sama-sama tersenyum satu sama lain.


“Jam berapa kamu masuk kuliah?” tanya Victor. Untuk Syafira yang sudah memaafkan dan bersedia mendengar kata hatinya Victor setidaknya ingin sarapan bersama dengan gadis itu.


“Jam sembilan Om,” jawab Syafira.


“Kalau begitu kita makan dulu, baru nanti aku antarkan kamu ke kampus!” tawar Victor. Kadang kehadiran seseorang yang mau mendengar masalahnya tanpa menuntut sesuatu seperti sang mama yang selalu menanyainya, membuat Victor sangat nyaman.


“Tidak Om, sebaiknya Om Victor pulang sekarang Xander sudah menunggu Om Victor sejak semalam!” tolak Syafira.

__ADS_1


“Tapi kamu janji mau makan denganku kan?” Victor menunggu jawaban dari Syafira. “Aku akan pulang hanya jika kamu bersedia untuk makan bersamaku lain kali!” tambahnya melihat ke arah lain, berpura-pura marah.


“Iya Om, aku janji akan makan bersama Om lain kali!”


“Janji.”


“Janji.”


Victor mengantar Syafira ke kampus kemudian ia pulang ke rumah.


* * *


Sebelum dosen mata kuliah jam pertama datang. Syafira tengah mengobrol dengan Aleta yang duduk di sebelahnya.


“Bagaimana apa kamu sudah bicara dengan Kak Juna?” tanya Syafira.


“Sudah, hanya saja untuk lulusan SMA, paling banyak lowongan kerja si swalayan atau rumah makan,” sahut Aleta. Tidak yakin jika Syafira mau bekerja.


“Siapa yang mau kerja?” sela Arsyan yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara Aleta dan Syafira.


“Kalau kamu mau, aku ajak kamu bekerja di Kafe kopi tempat aku kerja,” usul Arsya. Sebenarnya Kafe kopi itu adalah milik keluarga Arsyan. Namun, karena tidak ingin Syafira merasa canggung Arsyan memilih untuk tidak memberitahunya.


“Di mana? Jam kerjanya bagaimana?” Syafira sangat tertarik.


“Kamu bisa datang ke sana bersamaku, dan soal jam kerjanya dari jam dua siang hingga jam delapan malam!” jawab Arsyan. Sesuai dengan kebiasaannya .


“Baik aku mau!” sahut Syafira tanpa berpikir ulang.


“Sya!” seru Aleta yang berada di sebelahnya.


“Iya?”


“Mending kamu pikir dulu, jangan langsung iya-iya saja!” Aleta kali ini tidak setuju dengan Syafira. “Kalau kamu kerja memangnya kapan kamu akan mengerjakan tigas kuliah! Dan aku rasa Om Victor tidak akan segera menyetujui jika mengetahui kamu bekerja Sya!” sejak awal Aleta tidak terlalu suka dengan Arsyan. Meski dia anak orang kaya dan sedikit tampan, tetapi kadang dia misterius dan congak.


“Arsyan aku pikir dulu ya,” kata Syafira kemudian.


“Ok, kalau kamu sudah yakin bilang saja!” Arsyan melemparkan senyum agar Syafira yakin untuk ikut kerja bersamanya.

__ADS_1


“Baik, akan segera aku kabari!” Syafira membalas senyuman Arsyan.


* * *


Malam harinya Syafira baru saja selesai menyantap nasi goreng untuk menu makan malamnya. Siang tadi ia tidak makan dan mulai menghemat pengeluaran.


Tiba-tiba ada panggillan telefon dari Victor.


“Halo,” sapa gadis itu dengan ramah.


“Syafira, kamu di asrama! Aku akan ke sana sekarang! Maaf aku lupa kalau aku belum memberi uang bulananmu,” ujar Victor di seberang telefon.


“Emm—,” gumam Syafira pelan.


“Aku ke asrama sekarang juga, aku juga bawakan makan malam!” Victor mengakhiri panggilan telefon dan segera menjalankan mobilnya menuju ke asrama.


Panggilan berakhir.


Syafira melihat ke atas nakas di mana ada pigura dua arah, satu sisi adalah fotonya dan sisi yang lain adalah foto si Om.


“Om Victor itu sebenarnya lupa atau pura-pura lupa! Pasti Om Cuma pura-pura lupa kan biar sering bertemu denganku?” lirih Syafira menghibur dirinya sendiri.


Dan menjadi ritual tersendiri. Setiap bertemu dengan Victor. Gadis itu akan mematut di depan cermin, hanya sekedar untuk melihat pantulan di sana. Sudah rapikah untuk menemui sang pujaan hati?


Jangan salahkan cinta. Bukan ambisi untuk memiliki. Hanya saja tidak mudah melupakan Victor. Rasa masih sama, apa lagi Syafira tahu jika saat ini Victor tidak memiliki kekasih.


******


...Like...


...Komen!...


...Vote!...


...Follow!


...

__ADS_1


__ADS_2