Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Api Cemburu.


__ADS_3

Victor duduk termenung menatap kosong ke layar laptopnya yang menyala. Pagi tadi setelah mendapat penolakan dari Syafira. Ia memilih untuk mengantar Xander berangkat sekolah.


Lantas saat ini ia sudah tiba di kantor. Sangat pagi bahkan sebelum, sekretarisnya tiba.


Victor meremas bagian atas kepalanya. Rambut yang semula tersisir rapi, tampak berantakan. Bagaimana bisa Arsyan bisa seberani itu di hadapannya. Menggandeng tangan Syafira terang-terangan di hadapannya.


Pria itu berniat, nanti ia harus menjemput Syafira ke kampus. Lalu segera mengajaknya pulang ke rumah. Harus!


Cklek.


Pintu ruangan kantor terbuka. Tampak Juna baru saja tiba ia terkejut karena melihat Victor sudah duduk di singgasananya.


Juna segera melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Jam di arlojinya sama dengan angka yang tertera di jam digital yang menempel di dinding. Itu artinya ia tidak terlambat berangkat kerja.

__ADS_1


“Selamat pagi Tuan, apa jam di rumah Anda mati?” tanya Juna pagi ini ia berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan rapat, tetapi ternyata Victor datang lebih pagi darinya.


Pria itu tidak menyahut. Ia hanya melirik sekilas dan membuang muka ke arah lain.


“Tuan apa ada masalah apa, ini tentang Nyonya Hani yang terus memaksa Anda untuk menikah?” tanya Juna. Berangkat lebih siang daripada bosnya membuat pemuda itu salah tingkah. Tidak pernah sebelumnya, ia selalu datang terlebih dahulu dan ketika Victor tiba, ia yang akan menyapanya terlebih dahulu.


Victor menggeleng pelan. Bagaimana mungkin ia mengakui kalau alasan wajahnya sudah kusut sepagi ini karena ulah Syafira. Tidak! Dia tidak akan merendahkan harga diri di depan sekretarisnya.


“Tuan apa ini ada hubungannya dengan wanita yang membuat Anda berbunga-bunga beberapa waktu lalu. Apa wanita itu tiba-tiba menghilang atau meninggalkan Anda?” Rasanya Juna tidak bisa diam sebelum mendapatkan jawaban.


“Baik tuan saya paham.” Juna selain usianya berbeda jauh dengan Victor, ia juga tidak bisa bersikap seperti teman biasa. Bagaimanapun Victor adalah atasan yang lebih tua darinya. Tidak ada pilihan lain., hanya bisa tunduk.


Pagi itu Victor meminta Juna untuk mewakili memimpin rapat. Kemudian siang hari ia juga meminta Juna untuk menemui salah satu koleganya, sementara ia sendiri duduk di kantor dan terus memikirkan Syafira.

__ADS_1


Ya Syafira. Nama gadis itu bolak-balik terlintas memenuhi benaknya.


Akhirnya tepat jam 13.00 WIB siang. Victor memutuskan untuk keluar dari ruang kantornya. Tidak lain dan tidak bukan ia ingin menemui Syafira dan membawanya pulang ke rumah. Membayangkan ia selalu berdekatan dengan Arsyan. Hatinya terasa panas.


Victor tiba di area parkir ia segera masuk ke dalam mobil. Duduk di belakang kemudi lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kemudian saat mobil tiba di jalan raya. Ia mulai menambah kecepatan mobil. Semakin lama semakin cepat.


Di tengah perjalanan, seketika awan yang semula mendung menjatuhkan titik-titik hujan. Victor yang hampir tiba di di kampus Syafira memelankan kecepatan mobilnya.


Ia terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan tiba-tiba tepat di lampu merah. Saat mobilnya terhentiIa melihat Sayfira.


Victor mengedipkan matanya, fokus, dan benar saja apa yang ia lihat benar-benar Syafira. Gadis itu tengah berdiri di depan sebuah toko. Setelah diamati dengan saksama. Di sampingnya ada Arsyan. Sepertinya dua remaja itu tengah menunggu hujan reda.


Kedua manik mata Victor terus mengawasinya. Tiba-tiba ia melihat adegan yang membuat tatanya sakit. Ketika Arsyan melepaskan jaket yang ia kenakan. Lalu membentangkannya untuk menutupi bagian depan tubuh Syafira.

__ADS_1


Seketika Victor terbakar api cemburu. Ia sudah tidak bisa membiarkan Syafira berkeliaran dengan Arsyan. Itu bisa membuat Victor gila karena terus membayangkan amArsya berdekatan dengan Syafira.


To be Continue..


__ADS_2