Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Perhatian Om Victor.


__ADS_3

Kedatangan Victor yang tiba-tiba, membuat dua orang wanita yang berada di dalam kamar itu terkejut. Baik Syafira ataupun Elena menatap Victor dengan tajam dan penuh tanya.


Syafira yang tidak menyangka Victor akan masuk ke dalam kamarnya, secara tiba-tiba. Hanya bisa diam dan berharap semoga Tante Elena tidak curiga terhadap mereka. Sementara, Elena ia mengernyitkan dahi dan mulai berpikir. Mungkinkah setiap hari Victor menyapa Syafira dengan cara seperti ini? Masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu? Sedekat apa mereka?


Tidak hanya dua wanita itu Victor pun terkejut karena tidak menyangka mantan istrinya berada di kamar Syafira. Untung saja ia tidak sempat menyapa Syafira dengan sebutan Sayang. Bagaimana kalau ia terlambat menyadari dan Elena mendengarnya menyebut Syafira dengan panggilan sayang??


“Selamat pagi Syafira. Kamu harus cepat, pagi ini kamu harus kontrol dan kita tidak boleh datang terlambat ke rumah sakit,” ucap Victor dengan tegas. Lalu bibirnya tertutup rapat dan membuang muka ke arah lain, tidak melihat ke arah Elena sama sekali.


“Ya, Om!”


“Oh jadi pagi ini adalah jadwal kamu kontrol Syafira,” ujar Elena mengangguk paham.


“Jangan lupa sebelum jam 07.00 kita harus makan bersama di ruang makan. Kamu juga Elena pergilah mandi dan ajak Xander, turun ke ruang makan untuk makan bersama. Kamu belum lupakan aturan di rumah ini,” tegas Victor sebelum akhirnya ia pergi dari kamar Syafira.


Syafira yang sudah sedikit demi sedikit bisa berjalan. Kini sedang berdiri di depan cermin, ia melihat pantulan wajahnya di sana. Kemudian, mulai menyisir rambut dan mengikatnya ekor kuda ke belakang dengan pita berwarna merah marun. Senada dengan kemeja warna merah yang ia kenakan pagi ini. Untuk bawahannya, ia memilih menggunakan celana berbahan kain yang longgar.


Setelah merasa cukup Syafira mengakhiri ritualnya di depan cermin dengan menyemprotkan parfum. Sebelumnya, ia sudah mengoleskan bedak dan lipstik berwarna nude di bibirnya. Baru m ia keluar dari kamarnya. Sejenak, ia melihat Victor tengah duduk di ruang kekuarga dan menunggunya.


“Kenapa kamu lama sekali, Xander dan Elena saja sudah turun ke bawah!” ujar Victor melihat angka di arloji yang berada di pergelangan tangannya.


“Maaf Om,” ucap Safira. Lantas dengan pelan ia berjalan menuju tangga. “Ayo Om kita ke ruang makan sekarang. Pasti semua orang sudah menunggu,” ajak Syafira.


Victor beranjak dari duduk. Sebenarnya, ia merasa kesal karena Syafira belum juga membuka pesannya sejak semalam. Akhirnya, ia memilih mengikuti Syafira berjalan menuruni tangga, berada 2 langkah di belakang Syafira dan terus menjaga Gadis itu yang sedang berusaha keras menuruni tangga dengan hati-hati. Bekas luka jahit di lutut Syafira masih sakit, Victor tidak ingin pacar puta-puranya itu, kembali terjatuh dan nanti terluka lebih parah lagi.


Namun, karena Syafira terlalu pelan melangkah. Victor berjalan mendahului gadis itu. Tanpa persetujuan dari Syafira pria itu mengangkat tubuh dan menggendongnya berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


Syafira beringsut. Ia menelan ludah. Terkesiap dengan tindakan Victor yang tiba-tiba. Ia menatap pria itu dari dekat, lalu jantungnya berdegup sangat kencang. Bagaimana tidak, wajahnya sangat tampan! Tercium aroma parfum khas yang sangat maskulin. Syafira menyukai aroma itu.


Sementara itu di ruang makan ada Nyonya Hani, Pak Jaya, Tante Elena dan juga Xander. Semua mata terfokus ke arah Vicktor dan Syafira.


Nyonya Hani dan Pak Jaya bisa memahami karena mungkin kaki Syafira sakit, tetapi tidak dengan Elena. Entah mengapa ada rasa sesak yang melintas di dadanya melihat Victor begitu perhatian dengan Syafira.


“Safira, bukannya tadi kamu sudah bisa jalan. Kenapa kamu meminta bantuan Victor menggendongmu?” tanya Elena melihat ke arah Victor dan tidak suka mantan suaminya menggendong gadis yang lebih muda darinya.


“Bukan Safira yang minta digendong, aku sendiri yang tidak tega dia menahan sakit berjalan menuruni tangga,” seloroh Victor seraya menurunkan Syafira. Selanjutnya, pria itu segera duduk di kursi di sebelah kanan sang papa.


Elena tidak bertanya lagi. Kini, semua anggota keluarga sudah berada di ruang makan dan duduk di kursi masing-masing . Tiba waktunya mereka untuk menikmati hidangan sarapan pagi, yang sudah disiapkan oleh Mbok Atun dan Anik. Ada berbagai macam potongan buah. Untuk lauknya, ayam selalu menjadi menu wajib. Ada beberapa sayur dan juga sandwich untuk Xander.


Pagi ini sebenarnya Syafira sangat lapar. Namun, demi kesembuhan kakinya. Memilih makan buah dan susu saja.


“Tidak Ma, Pagi ini aku akan mengantar Syafira untuk cek dokter. Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi, Syafira baru bisa berangkat kuliah seperti biasa,” jawab Victor.


“Memangnya kamu tidak terlambat jika mengantar Syafira cek dokter terlebih dahulu? Ada Pak Kardi yang bisa mengantarnya?” usul Nyonya Hani.


“Tidak Ma, aku sendiri yang akan mengantar Syafira. Setelah itu ada Aleta yang akan mengajak Syafira jalan-jalan. Lagi pula ada Elena yang menemani Xander, jadi aku membiarkan Syafira untuk pergi bersama Aleta!” dalih Victor, ia pandai sekali mengarang cerita padahal ia sendiri yang akan mengajak Syafira jalan-jalan pagi ini.


“Oh.”


Hanya itu yang keluar dari bibir Nyonya Hani. Sedangkan, Elena dan Pak Jaya memilih diam dan menikmati menu makanan di piring masing-masing.


“Papa! Apa aku boleh ikut?” tanya Xander.

__ADS_1


“Mama, sedang di rumah. Bukankah kamu ingin berangkat ke sekolah diantar mama?” tanya Victor sembari melirik ke arah Elena.


“Iya Xander, Mama akan mengantarmu berangkat sekolah!” seloroh Elena dengan cepat seraya membalas tatapan dari mantan suaminya.


Gluk.


Syafira menelan ludah. Ia, yang saat ini sudah sangat mencintai Victor. Entah mengapa ia merasa tidak suka ketika pria itu beradu pandang dengan mantan istrinya.


“Benarkah Mama mau mengantar ke sekolah?” tanya Xander memastikan.


Elena tidak bersuara. Ia merespon pertanyaan dari putra semata wayangnya itu dengan menganggukkan kepala.


Selesai sarapan pagi, Elena mengantar Xander pergi sekolah dengan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Pak Kardi. Sementara Victor, mengantar Syafira untuk Cek dokter.


Kini di ruang makan itu hanya ada Pak Jaya dan Nyonya Hani.


“Papa!” panggil Nyonya Hani.


“Iya Ma.”


“Mama berencana menyuruh Elena dan Victor untuk rujuk. Apa papa setuju?” tanya Nyonya Hani. Ingin mendengar pendapat suaminya mengenai rumah tangga Victor dan Elena yang sudah berakhir.


“Apa itu tidak terlalu memaksakan kehendak, Ma. Bukankah lebih baik mengenai pendamping hidup kita tidak perlu ikut campur, aku rasa Victor sudah tahu apa yang ia inginkan dan kita tidak perlu menyetirnya lagi. Kita berdua sama-sama tahu apa yang menjadi masalah utama di rumah tangga Elena dan Victor. Aku rasa meminta mereka bersatu kembali adalah sebuah paksaan.” Pak Jaya menolak tegas usulan dari sang istri.


To be Cobtinue.

__ADS_1


__ADS_2