
Siang hari seusai kuliah jam terakhir, Syafira dan Aleta masih duduk di kursinya. Mereka masih enggan untuk pulang karena ingin mengobrol.
Arsyan yang duduk di sebelah Aleta, tengah memperhatikan Syafira dan ingin keluar ruang kelas, jika Syafira juga keluar dari ruang kelas.
“Menurutku ini adalah kesempatanmu untuk mendapatkan Om Victor, Sya,” ujar Aleta seraya mendekatkan duduknya dengan Syafira. Sebagai seorang teman ia sangat mendukung hubungan Syafira dengan Victor.
“Susah, itu tidak mungkin. Aku hanya bertemu dengannya sebulan satu kali, paling banyak sebulan tiga kali, Om Victor tidak mungkin akan melirikku!” balas Syafira yang sedikit pesimis mengenai Om Victor. Bayangkan saja, pria itu masih mengharap mantan kekasih yang sudah jelas-jelas
menghianatinya. Itu semua bukan karena Om Victor bodoh. Pria itu hanya sangat mencintai Natasha.
“Jangan pesimis, menurutku kamu lebih baik dari pada Natasha!” tegas Aleta begitu yakin. Melihat sedikit perhatian Om Victor pada Syafira sepulang dari rumah sakit kemarin. Aleta merasa ada sedikit celah bagi sahabatnya untuk mendapat perhatian dari Victor.
“Kamu tahu, satu-satunya pria yang ingin aku pacarin itu Om Victor! Tapi saat ini aku sadar kebahagiaannya itu yang terpenting!” ungkap Syafira. Entah, Aleta tidak tahu pernyataan itu tulus dari hati Syafira atau sahabatnya itu sudah menyerah dengan perasaannya.
“Kalau begitu, aku tidak ingin kamu menyerah Sya! Pasti ada cara untuk lebih dekat dengan Om Victor!” bisik Aleta tidak ingin Arsyan yang duduk tak jauh darinya mendengar percakapan mereka.
Arsyan yang merasa tidak dibutuhkan kehadirannya segera bangkit dari duduknya. Dengan rasa kesal ia meninggalkan ruang kelas.
__ADS_1
“Aku sedang tidak memiliki ide, btw terima kasih ya, gara-gara ide kamu buat tinggalin ponsel aku Om Victor semalam kembali menemuiku.” Syafira tersenyum bahagia, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Aku punya ide untukmu Sya!” Aleta mendekatkan bibir ke indra pendengar Syafira dan mulai menyampaikan idenya.
“Sama saja! Enggak ngaruh, Om Victor paling Cuma bilang terima kasih!” gumam Syafira tidak yakin dengan ide Aleta.
“Ayolah, tak apa! Pokoknya, aku bakalan bantuin kamu sampai kamu dan Om Victor jadian!” Kali ini Aleta tampak sangat bersemangat.
“Baiklah.”
“OK, malam ini ya?”
“Sebentar aku telefon Nyonya Hani dulu,” usul Syafira.
Aleta mengangkat jempolnya tanda setuju. Menunggu Syafira yang sedang melakukan panggilan telefon.
“Halo,” sapa Nyonya Hani di seberang telefon.
__ADS_1
“Halo, Nyonya, ini aku Syafira. Nanti malam aku mau datang ke rumah. Ada kue kering yang lumayan enak, aku yakin Nyonya akan suka,” ujar Syafira sesuai arahan dari Aleta.
“Sore atau malam kamu pulang ke rumah?” tanya Nyonya Hani di seberang telefon. Ia sangat menunggu kedatangan Syafira untuk mengorek informasi mengenai putranya.
“Malam saja Nyonya. Sekalian aku mau menginap aku rindu sama Xander!” dalihnya. Jujur saja Syafira lebih rindu dengan papanya Xander daripada Xander. Mau bagaimana lagi, kadang hati tidak bisa di atur. Dan rasa cinta tidak mudah dihentikan begitu saja. Hati adalah satu-satunya organ tubuh manusia yang tidak bisa diperintah oleh otak. Pun begitu dengan rasa di dalamnya. Terkhusus rasa cinta Syafira untuk Victor.
“Baiklah, kalau malam hari aku sudah pulang. Baik Syafira aku tunggu nanti di rumah. Sampai ketemu ya!” sahutnya dengan ramah.
“Baik Nyonya sampai ketemu.”
Panggilan telefon berakhir. Aleta kembali mendekat. “Bagaimana?” bisiknya.
“Nanti malam aku mau ke rumah Om Victor dan menginap di sana!” ujar Syafira kembali bersemangat. Semua tips dari Aleta akan dia laksanakan. Sahabatnya itu suka sekali membaca buku dan artikel siapa tahu ide dan tips dari Aleta untuk menggoda Om Victor benar-benar berhasil.
**Yang Mau Give Away Pulsa / Saldo.
Segera Follow author ya**.
__ADS_1
To Be Continue.