
“Oma, pagi ini aku ingin berangkat di antar Papa,” ujar Xander setelah menghabiskan sarapan paginya. Bocah kecil itu berlari ke arah sang papa yang sengaja melewatkan sarapan paginya.
Victor sengaja tidak ingin makan pagi ini. Ia tidak lapar, dan sudah menyiapkan rencana untuk mengajak Syafira makan bersama. Semoga saja, kali ini dengan membawa Xander, Syafira tidak akan menolak ajaknya untuk makan bersama. Victor sangat berharap.
“Ma, aku berangkat,” pamit Victor singkat sengaja menghindari sang mama agar tidak berdebat lagi. Ia pun sudah memutuskan untuk tetap membawa Syafira pulang ke rumah. Di dukung Xander yang juga ternyata merindukan gadis itu.
Nyonya Hani hanya mengangguk pelan. Ia tidak bisa melarang jika Victor memang sedang marah padanya.
Dengan tangan kanan Victor menggandeng tangan Xander yang berada di sebelahnya. Lantas mereka bergerak menuju mobil yang sudah terpikir di teras depan.
Victor membantu Xander masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu, berjalan melingkar lalu duduk di belakang kemudi.
“Xander, kamu sudah siap bertemu dengan Kak Syafira?” tanya Victor pada putranya, sejujurnya pertanyaan itu lebih tepat untuk dirinya sendiri.
“Iya Xander sudah siap bertemu dengan Kak Syafira.” Anak laki-laki berusia empat tahun itu, tampak sangat antusias.
“Baik, kita berangkat sekarang. Victor melirik arloji di tangan kanannya sebelum menyalakan mobil, lalu segera menjalankan kendaraan roda empatnya menuju ke asrama tempat tinggal Syafira saat ini.
Sepanjang perjalanan, baik Victor maupun Xander sangan bersemangat satu sama lain. Bahkan keduanya ikut bernyanyi lagu Baby Angel yang mengalun menemani perjalanan mereka pagi ini.
__ADS_1
Setelah dua puluh menit perjalanan, tibalah Victor di asrama tempat tinggal Syafira. Cukup sulit untuk mencari keberadaan gadis itu karena banyak pula mahasiswi lain yang keluar dari asrama, lalu menuju ke kampus.
“Dimana Kak Syafira Pa?” tanya Xander. Pandangan matanya mengamati pintu gerbang yang ramai.
“Sebentar.” Victor meraih ponselnya. Dan masih sama pesan yang ia kirimkan ke Syafria tak kunjung cek lis dua. Itu artinya, Syafira masih belum membuka blokir nomornya. “Kita tunggu di sini sebentar, pasti Kak Syafira akan muncul di depan,” ucap Victor menunjuk pintu gerbang.
Xander mengangguk dan tetap antusias bertemu dengan Syafira.
Kedua indra penglihatan Victor terus mengamati gerbang asrama, berharap Syafira segera muncul dari sana. Sementara Xander, menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga pandangannya menangkap Syafira.
“Papa bukankah itu kak Syafira?” ucap Xander. Jari telunjuknya mengarah pada Sosok gadis yang tengah duduk di sebuah kedai makan sederhana. Di samping ada Arsyan. Victor hafal betul siapa laki-laki yang duduk di samping Syafira.
“Papa, ayo kita temui Kak Syafira Pa,” ajak Xander yang tidak tahu menahu mengenai perasaan sang papa saat ini.
“Iya, Nak. Papa turun untuk menemui Kak Syafira, kamu tetap di sini ya,” pinta Victor.
Xander mengangguk setuju. Ia tetap berada di dalam mobil dan membiarkan papanya menemui Syafira.
Victor melangkahkan kaki pelan, menuju ke kedai untuk menghampiri Syafira. Mene[is keraguannya, mengingat pertengkaran semalam dengan gadis itu. Victor kini berdiri tepat di belakang Syafira.
__ADS_1
“Sya,” panggil Victor dengan suaranya yang terdengar berat.
Seketika bukan hanya si pemilik nama yang menoleh, Arsyan ikut mendongak ke sumber suara.
“Om Victor?” ujar Arsyan.
“Sya, aku akan mengantarmu ke kampus,” ucap Victor.
“Aku mau berangkat bersama Arsyan, Om,” jawab Syafira.
“Tapi Sya, Xander sudah menunggumu di dalam mobil,” jelas sekali dari sorot mata Victor bahwa ia tidak akan mengalah sama sekali dengan Arsyan.
“Xander?” Syafira menyipitkan mata. Mengenai Xander ia tidak bisa menutup mata dan menutup telinga.
“Iya, Xander selalu menanyakanmu dan ingin bertemu denganmu,” ucap Victor. Ia akui ia memang pengecut, ia tidak berani mengatakan di depan Arsyan bahwa dirinyalah yang ingin bertemu dengan Syafira dan kembali membawanya pulang ke rumah.
“Lain kali aku akan menemui Xander Om, tapi sekarang aku harus berangkat ke kampus, aku bisa saja terlambat masuk kelas,” dalih Syafira. Bukan marah dengan Xander, ia hanya masih tidak terima dengan perlakuan semena-mena Victor terhadap dirinya.
Victor terpaku. Ia hanya bisa melihat ketika Arsyan menggenggam tangan Syafira, lalu berjalan menjauhinya.
__ADS_1
To be Continue…