Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Syafira Bimbang.


__ADS_3

Victor duduk di kursi kerja. Indra penglihatnya focus dengan layar laptop membiarkan Syafira hanya duduk-duduk saja. Sementara Syafira mencoba mengalihkan rasa bosannya berkirim pesan dengan Aleta.


[ Aleta, kamu berangkat kuliah? ]


[ Ya, aku berangkat sebentar lagi, kamu berangkatkan? ]


[ Ya, aku berangkat, oh ya nanti ada yang ingin aku tanyakan ini sangat mendesak! ]


[ Apa tentang Om Victor? ]


[ Ya ]


[ Baik aku tunggu, di kantin sebelum mata kuliah jam pertama. ]


[ Ok ]


“Syafira kamu berangkat jam berapa?” tanya Victor tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


“Sebentar lagi Om, aku harus berangkat.” Gadis itu beranjak dari duduknya memberi isyarat pada si Om bahwa dirinya ingin segera berangkat. Bagaimanapun, ia harus bertemu dengan Aleta mengenai apa yang di bicarakan dengan si Om barusan. Satu bulan, selama satu bulan ia harus memutuskan untuk menerima tawaran dari Om Victor untuk menikah, atau merelakan pria itu menikah dengan wanita lain.


“Buatkan aku es moccacino, setelah itu aku akan mengantarmu ke kampus, titah Victor.


“Aku bisa berangkat sendiri Om, bagaimana setelah aku membuatkan kopi, aku naik taksi saja ke kampus segar Om bisa istirahat sejenak sambil minum kopi buatanku,” usul Syafira. Ia sungguh belum bisa jika terus berdekatan dengan Victor.; otaknya selalu beku dan membuatnya tidak bisa berpikir apapun.


“Apa kamu sedang menolak tawaranku Sya, apa kamu sudah lupa, kita masih dalam kontrak pura-pura pacaran. Dan kamu, ini semua karena ide kamu Sya. Aku hanya sedang memerankan peranku sebagai pacar yang baik.” Victor menutup layar laptopnya, lalu manik matanya menatap Syafira dengan tajam.


“Kamu buatkan minum, dan biarkan aku menjadi pacar yang baik yang mengantarkan kekasihnya berangkat ke kampus!” goda Victor dengan gerakan bibir yang membuat Syafira menelan ludah.


“Baik Om,” jawab Syafira.


Dalam waktu lima menit, Syafira sudah membuat es kopi moccacino yang diinginkan Victor. “Ini Om, minumnya.” Syafira menaruh gelas di depan Victor.


“Duduklah, sebentar,” pinta Victor ia meraih gelas berisi kopi dan meneguknya pelan.


Syafira duduk dan mengamati Si Om.


Gluk.


Jujur saja, ia selalu tergoda ketika diam-diam mengamati Om Victor. Pun begitu dengan kali ini.

__ADS_1


“Aku suka kopi buatanmu Sya, dan aku akan lebih suka jika setiap saat kamu bisa membuatkan kopi manis seperti ini. Haah, tunggu aku masih harus menunggu selama satu bulan sebelum kamu memberi jawaban.” Victor meraih tangan Syafira dan menuntunnya untuk duduk mendekat.


“Om, apa yang ingin Om Victor lakukan?” tanya Syafira menatap pria itu dengan pandangan waspada.


Victor diam, tetapi jemari tangan kirinya bergerak pelan menyibakkan rambut ke telinga belakang dan seketika berhasil membuat Syafira terpaku.


“Om aku harus berangkat sekarang, atau aku bis saja akan terlambat,” pekik Syafira menghindari tatapan dan cengkeraman tangan Victor.


“Aku akan mengantarmu dan aku pastikan kamu tidak akan terlambat Sya, tapi setidaknya biarkan aku mendapatkan hakku,” bisik Victor di indra pendengar gadis itu.


“Apa Maksud—,” belum selesai Syafira berkata-kata. Victor sudah menyambar bibir Syafira. Mengecup dan mengulumnya, perlahan tetapi sangat basah.


Kemudian Victor mengurai ciumannya.


“Apa maksud ciuman ini Om, kenapa akhir-akhir ini Om Victor suka sekali menciumku?” protes Syafira.


“Ini tidak ada hubungannya dengan tawaranku Syafira. Aku hanya sedang menjiwai peranku sebagai pacar pura-pura untukmu, jadi kamu jangan menganggap aku sedang berusaha agar kamu bersedia menikah denganku.”


“Aku tidak berpikiran seperti itu, Om! Tapi aku harus berangkat kuliah sekarang atau aku bisa saja terlambat,” ujar Syafira.


“Ya, aku akan mengantarmu.” Victor beranjak dari duduknya. Selanjutnya Syafira berjalan mengekor, mengikuti si Om meninggalkan ruang kerjanya.


* * *


“Om aku turun sekarang,” ucap Syafira.


“Ok, semangat ya. Oh ya, nanti pulangnya aku jemput ada yang ingin aku tunjukan.”


“Aku bisa pulang bersama Aleta Om,” elak Syafira. Bukan ia tidak mau pulang bersama Victor. Ia hanya merasa tidak bebas. Kemarin, ia menggebu sekali untuk bisa dekat dengan si Om. Namun, sekarang saat si Om terang-terangan mengajaknya menikah, nyali Syafira menciut.


“Sejak kapan kamu hobi menolak tawaranku Syafria! Pokoknya nanti aku jemput kamu. Dan kalau kamu sudah tidak ada di sini, kamu tahu kan apa yang akan terjadi?” ancam Victor.


“Baik Om, aku akan menunggu Om di sini,” lirihnya.


Kemudian, Syafira segera turun dari mobil. Ia menoleh dan melambaikan tangan, sebelum akhirnya ia masuk lewat pintu gerbang dan segera pergi ke kantin di mana Aleta sudah menunggunya.


Dari kejauhan, Syafira sudah melihat sosok sahabatnya menunggunya di kursi paling ujung.


“Aleta gawat,” ungkap Syafira menghentikan langkah kakinya. Nafasnya pendek dan cepat seperti habis dikejar binatang buas.

__ADS_1


“Ada apa Sya?” tanya Aleta sembari menuntun Syafira untuk duduk di sebelahnya.


Syafira memegangi dadanya untuk mengatur nafas sebelum menceritakan semuanya pada Aleta. “Ini gawat banget Aleta,” ucap Syafira di sela-sela nafasnya.


Dua menit berlalu, setelah minum jus jeruk Syafira akhirnya bisa merasa sedikit tenang dan siap untuk menceritakan semuanya pada Aleta.


“Sekarang ceritakan ada apa?” tanya Aleta. Ia melirik arloji di tangan kirinya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum kuliah jam pertama dimulai.


“Begini, Om Victor—,” ucapan Syafira terhenti.


“Ya, kenapa dan ada apa dengan Om Victor?” tanya Aleta penasaran.


“Om Victor, mengajakku menikah!” jawab Syafira susah payah.


“Apa?” ekspresi Aleta terlihat tidak percaya.


“Ya, Om Victor mengajakku menikah dan memberi aku waktu satu bulan untuk memikirkannya, bagaimana ini Aleta?” keluh Syafira menjatuhkan wajah di antar kedua tangannya yang berada di atas meja.


Aleta menahan tawa. Tampak sekali dirinya dan Syafira sama-sama belum dewasa. Jika dirinya menjadi Syafira, aleta juga akan segugup ini jika ada seorang pria yang mengajaknya menikah.


“Kenapa kamu tertawa , Ta?”


“Dengar Sya, tenang ya, ayo kita sama –sama cari solusinya,” bujuk Aleta. Ia paham, ide dari dirinyalah yang membuat Syafira bisa berjalan sejauh ini.


Syafira mengangguk, mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir sahabatnya.


“Kamu mencintai Om Victor?” tanya Aleta, meski sudah berulang kali sahabatnya itu mengatakan bahwa ia mengagumi Victor Erlangga tapi Aleta bertanya lagi karena ia benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam hati Syafira.


“Iya, aku menyukai Om Victor, aku bahkan tidak rela dia dekat dengan wanita lain,” ungkap Syafira.


“lalu apa kamu bersedia menikah dengannya? Melepaskan semua impianmu dan memilih menikah dengan Victor Erlangga? Apa kamu yakin, kamu mau menjadi ibu sambung dari Xavier di usia kamu yang semuda ini, Sya, bahkan kamu belum dua puluh tahun?” terang Aleta. Ia mendukung hubungan Syafira dengan Om Victor, tapi tidak dengan pernikahan dini.


“Ya aku ingin menikah dengan Om Victor, tapi aku juga tidak bisa melupakan cita-cita dan impianku. Aku ingin bertemu dengan salah satu anggota keluargaku, dengan begitu aku merasa tidak sendiri di dunia ini.” Ekspresi Syafira berubah sedih, ia ingin sekali bertemu dengan kakek dan neneknya.


“Lantas apa keputusanmu?” tanya Aleta sekali lagi. Mereka harus segera beranjak dari kantin atau bisa terlambat masuk di mata kuliah jam pertama.


“Entahlah,”


“Kamu harus memikirkannya matang-matang Sya, ayo kita ke kelas sekarang!” ajak Aleta.

__ADS_1


Keduanya bangkit dari duduk Aleta membayar dua gelas jus jeruk yang di pesannya, lalu mereka berjalan meninggalkan kantin.


To be Continue..


__ADS_2