
Victor tiba di asrama. Sudah lebih dari jam sembilan malam. Itu artinya asrama sudah tertutup bagi tamu dari luar.
Tak habis akal Victor berjalan ke ruang keamanan. Berbicara dengan petugas keamanan.
“Saya ingin menemui adik saya di asrama putri lantai dua,” ucap Victor pada satpam yang sedang berjaga.
“Maaf, asrama suah tutup bapak bisa datang besok untuk mengantarkan barang yang ketinggalan!” sahut pria itu sudah hafal dengan alasan orang tua wali yang tetap memaksa masuk ketika jam malam asrama sudah berakhir.
“Saya tidak ingin mengantarkan barang, tapi adik saya sakit dan butuh obatnya sekarang,” dalih Victor. Ia harus bertemu Syafira saat ini juga jangan sampai anak itu salah paham.
Pria di hadapan Victor tampak berpikir sejenak.
“Baik kalau terjadi sesuatu degan adik saya, aku harap bapak mau bertanggung jawab!” desak Victor.
“Baiklah Pak, bapak boleh mengantarkan obatnya. Saya beri waktu bapak waktu sepuluh menit,” ucapnya.
“Saya butuh waktu lebih dari itu!” Victor berbalik dan segera melangkah menuju asrama Syafira yang berada di lantai dua. Victor sudah pernah datang ke sana satu kali, ketika mengantar Syafira pertama kali.
Pria itu terus melangkahkan kaki melewati lorong demi lorong. Kini ia menaiki tangga. Terakhir ia berjalan ke ujung menuju depan pintu kamar Syafira.
“Syafira!” panggil Victor seraya mengetuk pintu dengan pelan.
“Syafira!"
“Syafira!” panggil Victor dengan suara keras dan ketukan pintu lebih keras dari sebelumnya.
* * *
Syafira menatap langit-langit kamarnya. Victor Erlangga nama pria itu sudah terpatri di dalam hati.
__ADS_1
Namun, apa yang terjadi sore tadi tidak bisa ia maafkan. Pria itu menciumnya dengan kasar! Entah siapa yang ada di khayalan pria itu. Sebagai gadis baik-baik yang selalu mengagumi Victor. Ia kecewa diperlakukan kasar seperti itu olehnya.
Terdengar suara ketukan pintu, detik berikutnya suara pria yang sejak tadi mengisi pikirannya benar-benar nyata.
“Syafira, buka pintunya!” Victor mengetuk pintu dengan lebih keras dari sebelumnya. Jika, dia tidak segera membuka pintu, maka teman sebelah kamanya akan terbangun karena bunyi kegaduhan yang dihasilkan dari Victor, yang terus menggedor pintu kamarnya.
Cklek.
Pintu kamar terbuka.
“Syafira!” tangan Victor bergerak cepat menahan pintu tetap terbuka dengan lebar.
“Iya Om, ada apa? Ini sudah malam kita bicara besok saja!” lirih Syafira melirik ke kiri dan ke kanan, takut ada salah satu teman sekamarnya terbangun.
“Tidak, aku harus bicara dengan mu saat ini juga!” kekeh Victor .
“Aku harus menjelaskan apa yang terjadi tadi Syafira!” lirih Victor.
Tiba-tiba pintu kamar sebelah terbuka. “Ini sudah malam! Jangan berisik!” umpatnya kesal membanting pintu sekuat tenaga demi melampiaskan amarahnya.
“Biarkan aku masuk ijin kan aku bicara sebentar!” pinta Victor sedikit memaksa. Dari pandangan mata Syafria ia yakin jika gadis itu masih marah padanya.
“Kita , bicara besok saja Om!”
“Besok kamu kuliah! Dan aku bekerja!” elak Victor.
“kita bisa bertamu pagi hari sebelum Om Victor berangkat kerja dan sebelum aku berangkat kuliah!” jelas Syafira.
“Baiklah besok pagi aku akan datang ke sini untuk menjelaskannya Syafira!
__ADS_1
“Iya Om!”
“Awas kalau kamu kabur!
“Aku harus menjelaskannya agar kamu tidak salah paham!
“Iya Om."
Dengan satu tangan Syafira menutup bagian dadanya yang sedikit terbuka. Namun, karena Victor tidak melepaskan tangannya dan tetap menahan agar pintu tetap terbuka.
Syafira mengurai pegangan di bagian dada. Dan mendorong pintu agar tertutup.
“Tutup pintunya Om!” pinta Syafira.
Gluk.
Victor menelan ludah melihat bagian dada Syafira yang terbuka. Sekilas a mengingat kejadian sore tadi.
Bukan hanya mencium, ia juga sempat memegang bagian sensitif dari dada Syafira.
Bugh.
Pintu tertutup dengan keras. Saat Victor tidak Fokus Syafira berhasil mengalahkan kekuatan tangan Victor sehingga pintu kamarnya bisa tertutup.
* * *
Maaf untuk tidak up dalam dua hari.
Aku mengejar kata di PF lain.
__ADS_1