
Viktor pulang ke rumah dengan tangan kosong. Ia tidak berhasil membawa Syafira pulang.
Jika dilihat, jam di dinding menunjukkan pukul 21.18 WIB ketika pria itu menginjakkan kaki di tangga lantai dua.
Dengan pelan Viktor berjalan ke kamar putranya. Malam ini ia memutuskan untuk tidur di kamar Xander.
Melihat kedatangan Victor, Nyonya Hani yang malam ini menemani cucunya tidur. Segera beranjak menyapa putranya.
“Kamu tidur di sini?” Nyonya Hani selama ini Ia memang lebih memperhatikan Xander dibandingkan mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
“Ya Ma, tapi sebelumnya. Ada yang ingin aku sampaikan pada mama,” pinta Viktor. Perjuangannya belum berakhir. Ia harus membawa Syafira kembali ke rumah ini.
“Katakan saja ada apa?” Nyonya Hani membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Xander, cucunya itu sudah terlelap.
__ADS_1
“Jangan bicara di sini, Ma. Aku takut Xander terbangun,” pinta Viktor, mengisyaratkan pada sang mama untuk keluar dari kamar putranya.
“Baik!” jawab Nyonya Hani menurut.
Viktor duduk terlebih dahulu di ruang tengah. Suasana malam semakin sunyi. ketiga pelayan di rumah itu sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Pun begitu dengan Sang papa, ia sudah istirahat. Hanya Victor dan Nyonya Hani, penghuni yang masih terjaga.
“Katakan ada apa?” ucap Nyonya Hani yang tidak sabar ingin mendengarkan apa yang akan diobrolkan Victor padanya.
Pria itu merasa kesal pada sang Mama yang belum juga menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. Namun Victor juga tidak bisa bertindak kasar. Ia harus menghormati wanita yang telah melahirkannya. Lantas ia harus menjelaskannya.
“Mama, apa Mama mengusir Syafira pergi dari rumah?” tanya Victor. Sorot mata Victor menunjukkan bahwa itu bukan pertanyaan melainkan sebuah tuduhan.
Nyonya Hani tidak menjawab.
__ADS_1
“Aku sudah bilang kan Ma. Aku dengan Syafira hanya pura-pura pacaran dan itu juga sepenuhnya bukan salah Syafira karena aku juga menyetujui rencana itu. Aku juga sudah memutuskan secara sepihak perjanjian yang sudah kami sepakati bersama, lalu kenapa mama masih mengusir Syafira pergi dari rumah?” protes Victor ia berusaha menahan diri untuk tidak marah.
“Mama hanya tidak ingin dia terus menggodamu Victor. Kamu itu anak mama yang paling Mama banggakan. Apa kamu tidak bisa mencari wanita selain Syafira? Syafira itu masih kecil. Dia masih kuliah! Dan dia—. Dia dari keturunan yang tidak jelas. Asal-usulnya saja mama tidak tahu. Mama tidak mengizinkan kamj dekat dengan Syafira! Mama, mengizinkan Syafira tinggal di sini karena mama kasihan padanya. Bukan karena mama memberi kesempatan pada garis itu untuk mendekatimu!” Saat membahas Syafira, kedua manik mata Nyonya Hani berapi-api. Sepenuhnya, dia tidak setuju jika Victor dekat dengan Syafira. Entah itu hubungan pura-pura pacaran, pacaran, atau hanya hubungan dekat. Ia tetap tidak menyetujuinya.
“Aku tidak peduli apa yang Mama bicarakan saat ini. Besok aku akan membawa Safira kembali ke rumah ini. Ia harus tinggal di sini sampai ia lulus kuliah, setelah itu setelah Syafira bisa hidup mandiri. Aku baru bisa melepaskannya Ma. Tapi untuk saat ini dia masih tanggung jawabku,” kekeh Victor. Percuma juga ia membawa Syafira ke rumah ini. Jika sang Mama belum membuat perjanjian padanya pasti Nyonya Hani tetap akan menyudutkan Syafira.
“Apa kamu sedang menentang mamamu ini Victor? Mama ini adalah orang yang melahirkanmu. Mama tahu betul apa yang terbaik untuk kamu dan Syafira meski dia masih kecil dia sangat licik dia terus menggodamu dan mama mama tahu kamu seperti apa. Mama hanya tidak ingin kamu tergoda padanya.” Nyonya Hani menyampaikan pendapatnya.
“Aku tidak peduli anggapan mama. Pokoknya besok aku akan menjemput Syafira dan membawanya kembali ke rumah ini. Aku lakukan semuanya bukan karena aku menyukai Syafira. Tapi ini adalah bentuk pertanggungjawabanku.”
Victor beranjak dari duduk. “Selamat malam Ma. Selamat istirahat.” Kemudian pria itu bergerak menuju kamar Xander. Malam ini ia ingin tidur menemani Putra semata wayangnya itu.
To be Continue..
__ADS_1