Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Lima Permintaan Om Victor.


__ADS_3

Syafira sudah selesai mandi. Lima belas menit adalah waktu yang cukup baginya untuk menyelesaikan ritual mandi. Dan kini ia tengah mematut di depan cermin memilih outfit paling nyaman yang akan ia kenakan menurut versinya.


Celana jeans warna hitam di padu kemeja dengan motif kotak-kotak warna maron menjadi pilihan Syafira. Ia tidak focus, kadang om Victor tidak bisa ditebak. Apa maksud dan tujuannya mengajaknya ke kantor? Benar-benar membuat Syafira berpikir keras. Mungkinkah pria itu hanya ingin mengerjainya saja? Syafira beranggapan Om Victor sangat berani. Bagaimana jika Nyonya Hani curiga? Dan Tante Elena? Syafira yakin wanita itu akan tambah curiga jika mengetahui Victor mengajak Syafira ke kantor.


Sekali lagi Syafira memperhatikan rambut dan penampilannya sudah rapi. Rambut panjang ia ikat ekor kuda. Bibirnya yang merah alami, tetap terlihat merona di pagi ini. “Cukup,’ gumamnya.


Dengan tangan kanan Syafira membuka pintu kamar. Kemudian ia segera turun, yakin jika Om Victor sudah menunggunya di bawah.


Tiba di ujung tangga, Nyonya Hani tengah duduk di ruang tamu. Menyadari Syafira yang bersiap untuk pergi wanita paruh baya itu segera menghampirinya.


“Sya, kamu mau ke mana?” tanya Nyonya Hani beranjak dari duduk. Menghentikan langkah Syafira.


“Aku mau keluar bersama Aleta, Nyonya,” jawabnya. Tidak bisa melewati ruang tamu begitu saja karena tampaknya Nyonya Hani ingin mengobrol lebih lama bukan hanya sekedar lewat.


“Bisa duduk sebentar, ada yang ingin aku bicarakan sebentar,” ajaknya dengan ekspresi bersungguh-sungguh membuat Syafira tidak bisa menolak.


“Baik Nyonya.” Gadis itu menurut dan memilih duduk di sofa singgel yang berada di depan Nyonya Hani. Berharap semoga Victor yang saat ini tengah menunggu di teras depan, tidak marah.


“Aku semalam sudah berpikir matang-matang,” ujarnya mengawali pembicaraan dengan kedua manik mata selalu tertuju pada Syafira.


Syafira mengangguk dan menyimak. Ia tidak tahu arah pembicaraan Nyonya Hani.


“Bisakah kamu nanti setelah kuliah membantu Victor di perusahaan?” tawarnya.


“Mengapa Nyonya tiba-tiba bertanya seperti itu? Saya bahkan belum ujian semester satu,” balas Syafira.


“Aku sudah lelah membujuk Elena agar bisa kembali dengan Victor, aku hanya takut Xander kesepian. Dan mungkin dengan adanya kamu di perusahaan Victor bisa memiliki banyak waktu untuk mencari pasangan,” ungkap Nyonya Hani.


“Maaf Nyonya bukan aku tidak mau membantu Om Victor di perusahaan. Masih harus lulus kuliah jika harus membantu Om Victor di perusahaan, dan aku rasa bekerja di perusahaan tidak menghalangi Om Victor untuk memiliki kekasih dan mencari mama untuk Xander. Buktinya kemarin Om Victor sempat menjalin asmara dengan Natasha bukankah itu artinya Om Victor masih punya waktu untuk mencari mama bagi Xander?” sahut Syafira. Kadang sikap protektif dan ketakutan Nyonya Hani kambuh.

__ADS_1


“Kamu benar juga Syafira.” Nyonya Hani memijit keningnya yang terasa pening.


“Apa ada hal lain yang Nyonya pikirkan?” Syafira bertanya sekali lagi.


“Hanya Xander yang aku khawatirkan. Kamu tahu kan aku paling tidak bisa melihat cucuku menangis karena jauh dari ibunya, Sebenarnya kalau memang Elena sudah tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Victor aku angin menjodohkan saja dengan wanita pilihanku,” usulnya, seolah-olah hanya Syafira yang bisa mendengar keluh kesahnya.


“Emm, aku menurut saja Nyonya. Tapi semua keputusan tetap di tangan Om Victor sejauh ini, setelah perceraian dengan tante Elena sudah tidak bisa di setir lagi,” jawab Syafira sesuai dengan apa yang terjadi. Ya, sebelum bercerai dengan Elena Syafira paham betul jika Victor selalu mengikuti semua arahan mamanya. Namun, sakit dan luka hati akibat perceraiannya dengan istri pertama membuat Victor tidak mau mendengar dan menurut keinginan Nyonya Hani.


“Kamu benar,” ujarnya.


“Nyonya, lebih baik Anda bertanya dengan Om Victor langsung, mungkin dengan begitu Nyonya akan tahu apa yang diinginkan Om Victor.


“Iya benar kamu Sya, emm baiklah silakan kalau kamu mau pergi, nanti malam biar aku yang akan membicarakannya dengan Victor!” balasnya pasrah.


“Baik Nyonya aku pergi sekarang,” pamit Syafira. Bangkit dari duduknya, mengangguk hormat dan segera meninggalkan ruang tamu.


Tepat di depan pintu Syafira berhenti. Di sana ada Victor yang sudah menunggunya dengan pandangan mata membulat. Bagaimana tidak ia sudah menunggu selam hampir dua puluh menit dan Syafira baru saja tiba.


“Baik Om,” lirih Syafira dan hanya menurut. Ia akan menjelaskan mengapa ia bisa terlambat.


“Siapa yang menyuruhmu duduk di belakang, aku bukan sopirmu!” tegas Victor yang melihat Syafira berniat duduk di kursi belakang.


“Iya om,” balas Syafira ia harus menahan diri untuk tidak marah saat si om bersikap menyebalkan. Ia menutup pintu mobil, lalau memilih duduk di depan. Di samping si Om yang duduk di belakang kemudi.


Victor menyalakan mesin mobil. Kemudian, ia menjalakan kendaraan roda empatnya keluar dari halaman rumah. Tujuannya adalah Erlangga Group.


Sepanjang perjalanan Victor tampak diam. Ia tidak mau menanyai Syafira karena tidak ingin gadis itu besar kepala.


Merasa diacuhkan Syafira mencoba membuka percakapan. Tidak enak hati melihat Victor terus membuang muka, focus mengemudi dan tidak pernah melihat ke arahnya sama sekali.

__ADS_1


“Om, tadi Nyonya Hani mengajakku bicara itu yang membuatku, terlambat,” ucap Syafira dengan kepala menunduk, meski kedua manik matanya sesekali melirik pria yang duduk di sebelahnya.


Ingin rasa nya Victor mengacuhkan apa yang diucapkan Syafira, tetapi jika sang mama yang mengajak Syafira bicara pasti itu sesuatu yang penting. Jika tidak penting, Sang mama tidak mungkin mengajak Syafira bicara.


“Apa yang mama bicarakan kali ini, apa dia masih juga menyuruhmu agar membujukku untuk kembali dengan Elena!” tebak Victor seolah bisa mengetahui isi Kepala sang mama.


“Iya Om, Nyonya Hani sepertinya masih berharap agar rumah tangga Om Victor dan Tante Elena bisa kembali seperti semula,” jelas Syafira dalam hati, ada beban berat yang tak terungkap ketika menyampaikan hal itu.


“Sudah itu yang akan menjadi urusan aku dengan mama, kamu tidak usah memikirkan itu. Yang kamu harus tahu, kamu mendapatkan hukuman karena kamau membuatku datang terlambat ke kantor!” Jelas Victor.


“Om Victor kan bos, memangnya Om akan mendapatkan hukuman kalau Om terlambat datang bekerja. Bukankah tidak datang ke kantor juga bukan masalah yang besar bagi Om?” protes Syafira yang tidak ingin mendapatkan hukuman.


“Kata siapa!” balas Victor. “Kamu yang membuat aku terlambat bertemu Klien penting pagi ini jadi kamu harus bertanggung jawab Syafira!” tegasnya sekali lagi.


“Apa yang harus aku lakukan Om?!” tanya Syafira pasrah.


“Kamu harus mengabulkan permintaanku!” ujar Victor merasa menang, terbang di atas awan.


“Katakan Apa yang harus lakukan?” Syafira dibuat penasaran.


“Kamu harus mengabulkan 5 permintaanku, salah satunya kamu harus menemani ke aku ke kantor selama satu minggu kedepan. Bagaimana Apa kamu bersedia?” tawar Victor.


“Apa ada lima permintaan Om? Bagaimana dengan 4 permintaan yang lain?” Syafira menelan ludah, apa ini pembalasan Victor karena ia telah mengajukan kesepakatan untuk pura-pura pacaran?


“Empatnpermintaan lainnya menyusul, Syafira. Kalau kamu tidak bersedia, maka aku terpaksa memotong uang sakumu!” ancam Victor. Entahlah hanyanpira itu sendiri yang tahu apa yang tengah mendominasi isi kepalanya.


“Jangan om! Jangan lakukan itu saat ini!”


“Ya sudah lakukan apa keinginanku, lagi pula bukankah kita sedang berpura-pura pacaran. Anggap saja aku sedang memintamu untuk menemaniku di kantor, selama satu minggu ke depan,” ujar Victor. Ekspresi wajah yang semula murung berubah ceria.

__ADS_1


“Baik Om!” jawab Safira sekali lagi ia tidak bisa menolak permintaan Victor. Ia juga tidak tahu apa yang sedang direncanakan pria itu!


To be Continue....


__ADS_2