
Siang hari Victor tengah sibuk memandangi grafik di layar laptopnya. Ia sengaja mengacuhkan beberapa panggilan telefon. Beberapa kali ponselnya berbunyi tetapi Victor memilih untuk tidak memeriksa notifikasi di benda pipih nan canggih miliknya itu.
“Tuan,” panggil Juna seraya berjalan ke arah sang bos.
“Iya, ada apa Juna!” sahut Victor tanpa menoleh ke arahnya. Ia masih fokus dengan layar laptopnya. Ia sibuk membalas surel yang masuk.
“Sepupu Anda Jason, sudah ketiga kalinya menghubungi Anda dan meminta bertemu, baru saja saya dihubungi resepsionis, mengatakan bahwa sepupu Anda ingin menemu Anda siang ini, beliau sudah menunggu Anda sejak tadi, di salah satu gerai makanan di lantai dasar,” jelas Juna. Ia tidak tahu apa maksud kedatangan Jason yang jelas ia tahu bahwa Jasonlah satu-satunya saudara sepupu yang masih sering berhubungan dengan Tuan Victor. Sepupunya yang lain, tidak pernah menyapa apa lagi memperlihatkan batang hidungnya.
“Aku tidak mau menemuinya!” tegas Alex. Dia masih ingat jelas foto kemesraan antara sepupunya dengan Natasha. Entah, siapa ya ng alah ia tidak mau menyelidiki. Bukan tidak mau mengakui kekalahannya, karena Natasha lebih memilih Jason, Victor memilih untuk menghindar dari kedanya dan fokus bekerja demi kesehatan mentalnya. Ya, terus dekat dengan orang yang tak pernah peka terhadap hatinya, membuat Victor jengah.
“Tapi Tuan,”
“Tidak ada tapi-tapi an!” tegasnya.
Ucapan Victor membuat Juna terdiam. Lebih baik mengalah, Tuan Victor bukan orang yang mudah goyah jika sudah memutuskan sesuatu. Hanya saja, untuk beberapa keadaan dia memilih untuk diam, dan mencari jalan keluarnya sendiri.
“Tuan, semoga Anda tidak lupa!” Juna membuka pembicaraan lain.
“Ya,” apa yang hampir aku lewatkan?” Victor sejenak menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah sang sekretaris.
“Minggu depan adalah ulang tahun putra tunggal Anda Tuan. Jadi hadiah dan pesta seperti apa yang harus saya persiapkan?” Juna kembali duduk di kursinya seraya menunggu jawaban dari Victor.
“Astaga!” seru Victor hampir saja ia melupakan acara yang sangat penting itu. “Gelar pesta di rumah saja. Aku hanya ingin mengundang orang dekat. Pastikan untuk menghubungi Elena dan aku ingin ia bisa hadir. Aku tidak mau Xander sedih karena mamanya tidak datang! Mengerti!” pinta Victor. Tahun lalu, Xander terus merengek karena tidak bertemu dengan sang mama.
“Baik Tuan. Bagaimana dengan Natasha, apa saya harus mengundangnya? Kalu kau tidak mengundangnya makan mama Anda pasti akan menanyakan banyak hal tentang hubungannya dengan Anda!” Juna sengat teliti, tantang pekerjaan atau pun maslah pribadi bosnya.
__ADS_1
“Jangan, aku tidak ingin melihat Jason dan Natasha hadir di acara putraku!” Mengingat dua nama itu Victor segera mengenyahkan mereka dari benaknya.
Malam harinya.
Selesai mengurus pekerjaan di kantor. Victor turun ke basemen menggunakan lift. Juna dengan sigap selalu di sampingnya.
“Tuan, saya akan mengantar Anda!” tawar Juna melihat Victor sesekali memijat keningnya. Hanya menebak mungkinkah pria itu merasa pening?
“Tidak, aku bisa pulang sendiri!” tolak Victor. Ia berjalan lebih dulu menuju mobilnya yang berada di area parkir khusus. Kemudian, ia masuk ke dalam mobil. Benda kotak berukuran sedang berwarna merah muda membuat Victor terpaku. Sebuah dompet, Tidak lain dan tidak bukan Syafiralah pemilik benda mungil itu.
Kemudian, Victor segera menyalakan mobil. Harus memberikan benda itu pada si pemilik. Tanpa berpikir ulang Victor segera melajukan kendaraan roda empatnya menuju asrama di mana Syafira tinggal.
Pasti gadis itu akan bingung saat membeli makan atau minum jika mengetahui dompetnya tidak ada di dalam tas. Victor menambah kecepatan mobilnya, agar lebih cepat sampai di asam tempat Syafira tinggal.
Tibalah Victor di depan pintu gerang asrama. Tentu saja lebih cepat dari biasanya.
Panggilan telefon terhubung.
“Halo,” sapa suara di seberang dan bukan merupakan suara Syafira. Namun suara seorang laki-laki.
“Halo, maaf ini siapa ya? Syafira ke mana ya? Kenapa kamu yang menerima telefon?” cerca Victor mendapati suara lelaki yang menerima telefon membuatnya meradang. Seketika ia mengalihkan pandangan ke pergelangan angan ke arlojinya. Sudah menunjukkan jam tujuh malam. Mungkinkah seorang pria masuk ke dalam asrama Syafira.
“Syafira sedang ke toilet Om, ini aku Arsyan. Maaf aku terpaksa menerima telefon dari Om!” sahut suara di telefon.
"Kalian dimana?' tanya Victor. ada ras lega merambat ke dalam hatinya karena Syafira ternyata tidak membawa lelaki ke dalam kamar asramanya. Ya, ia percaya Syafira tidak mungkin macam-macam. Namun, ia tidak bisa percaya dengan Arsyan yang sudah jelas dengan terang-terang menunjukkan perasaan sukanya terhadap Syafira.
__ADS_1
“Aku di kafe janji jiwa.” Arsyan yang menganggap Victor adalah wali dari Syafira hanya bisa jujur karena tidak ingin pria itu menentang hubungannya dengan Syafira. “Tenang saja, sebentar lagi aku akan mengantar Syafira ke asrama. Lagi pula asrama tutup jam sembilan malam.”
“Tidak perlu, aku yang akan menjemput Syafira. Lain kali jangan ajak Syafira keluar malam. Aku tidak suka dan aku tidak memberi izin. Jika kamu berani melanggarnya, tidak perlu aku jelaskan kamu pasti tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan!” ancam Victor.
Pria itu merasa perlu melakukan ini. Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Syafira.
“Baik Om, kalau boleh biar saya saja yang mengantar Syafira,” pintanya dengan nada suara memelas.
“Tidak!”
Victor mengakhiri panggilan telefon begitu saja. Ia menaruh ponselnya sembarang. Mendengar Syafira sudah berani keluar malam ia merasa tidak suka. Apalagi, pria yang mengajak Syafira adalah Arsyan.
Kemudian, Victor kembali menyalakan mesin mobilnya. Lantas, mengendarainya menuju kafe janji jiwa yang di maksud Arsyan.
Tak sapai tiga puluh menit Victor tiba di kafe janji jiwa yang di maksud Arsyan. Victor menghentikan kendaraannya di area parkir. Setelah itu, ia turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe.
Karena cukup sulit menemukan Syafira, Victor kembali menghubungi nomor gadis itu. Berharap bukan Arsya yang menerima telefon darinya kali ini.
“Halo, Om Victor.” Terdengar suara Syafira di seberang telefon.
“Kamu di mana Sya!” seru Victor terus menyapukan pandangan berharap segera menemukan gadis yang sedang ditelefonnya.
“Aku sudah di area parkir Om!” jawab Syafira jujur.
“Baiklah, aku akan segera ke sana. Kita harus pulang ke rumah sekarang. Mama dan Xander ingin berjumpa denganmu!” dalih Victor asal. Ia hanya tidak ingin mendapat penolakan saat mengajak Syafira pergi bersamanya. Xander dan sang mama akan menjadi alasan yang tepat agar Syafira sungkan menolak tawaran darinya.
__ADS_1
Percayalah hai readrs, ini bukan cemburu, jealouse, atau semacamnya. Victor hanya tidak suka Syafira pergi dengan pria lain itu saja. Awas ya komen kalian pada julid dan nuduh si Om yang enggak- enggak.
*****