
Malam harinya, Victor benar-benar tidak bisa tidur. Bayangan wajah Syafira mondar-mandir di benaknya. Kemudian, ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Syafira.
Victor : [ Sayang, kamu sudah tidur? ]
Syafira : [ Belum, Om ]
Victor : [ Aku ingin bicara. ]
Syafira : [ Iya. ]
Syafira menunggu Victor menelefonnya. Namun, nada dering ponselnya tak kunjung bersuara.
Gadis itu terus menunggu hingga sebuah pesan dari Victor kembali di terimanya.
Victor : [ Buka pintunya, aku sudah berada di depan kamarmu! ]
Tangan Syafira bergetar. Jam di ponselnya menunjukkan jam sepuluh malam. Dan Victor ada di depan kamarnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Terdengar suara ketukan pintu samar. Syafira dengan tubuhnya yang gemetar segera membuka pintu.
Dan...
Si Om, sedang berdiri tepat di hadapannya. Pria itu mengenakan t-shirt kasual hitam di padu celana pendek yang nyaman. Syafira terpaku melihat rambut Victor yang acak-acakan.
“Kita harus bicara Syafira?” pinta Victor.
“Emmm...,”
“Bolehkah aku masuk ke kamarmu?” tanya Victor.
__ADS_1
“Atau kita bicara di kamarku saja?” tawarnya.
Syafira menoleh ke arah kamarnya yang berantakan. “Kita bicara besok saja Om, ini sudah malam!” tolak Syafira.
“Tidak bisa Syafira, aku ingin kita bicara sekarang!” kekeh Victor.
“Baiklah kita bicara di kamar Om Victor saja!” sahut Syafira. Gadis itu menyambar baju hangatnya kemudian mengikuti langkah Victor yang berjalan terlebih dahulu.
Untuk ke sekian kalinya ia masuk ke ruang kamar Victor. Ruang di mana pria itu merampas ciuman pertamanya. Tidak, itu bukan merampas. Karena Syafira juga menyukainya.
“Syafira,” lirih Victor sembari meraih jemari Syafira.
“Iya, Om!” jawab Syafira. Mendongak ke atas melihat tatapan mata pria tampan itu. Sedikit aneh karena rambut si Om yang biasanya rapi tampak acak-acakan.
“Besok, sepulang sekolah aku akan mengajakmu makan dan jalan-jalan bersama, ada sesuatu yang ingin aku utarakan,” ucap Victor. Ingin sekali menyatakan perasaannya malam ini. Namun, Victor ragu. Ia ingin membuat momen yang spesial untuk gadis spesial seperti Syafira.
“Om bisa kan memberitahuku lewat pesan atau telefon!” ujar Syafira sembari tersenyum. Wajah Om Victor, tampak lain. Dengan senyuman yang sering kali ia tahan.
“Tidak Syafira! Karena aku juga merindukanmu!” balas Victor.
“Rindu?” tanya Syafira memastikan.
Hening mereka saling bertatapan lama.
“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Victor.
Syafira mengangguk sembari tersenyum. Sedetik kemudian, Victor meraih pinggang Syafira lantas mereka berpelukan.
“Syafira, ayo kita mulai dari awal lagi. Aku benar-benar ingin memperjuangkan hubungan kita,” tutur Victor.
Mendengar ucapan Victor Syafira diam-diam merasa senang. Benarkah cintanya terbalas. Ia selalu berusaha untuk tidak mudah terbujuk, tetapi jika Victor yang memintanya ia selalu saja lengah.
Victor mengurai pelukan. Menuntun Syafira ke balkon kamarnya. Langit masih mendung, angin yang berembus dan menerpa wajahnya memberi rasa dingin dan romantis.
Pria itu duduk bersandar dan membawa Syafira dalam pangkuannya.
__ADS_1
“Sayang!” lirih Victor. Ia benar-benar merasa kasmaran tetapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Iya.” Syafira mendongak menatap Victor yang ada di belakangnya.
“Apa kamu masih waspada dan belum bisa mempercayaiku lagi?” tanya Victor.
Gadis itu mengangguk.
“Untuk selanjutnya kita akan pacaran secara diam-diam atau bagaimana?” tanya Victor lagi. Dia tidak ingin Syafira tidak nyaman. Yang terpenting baginya Syafira bahagia dan tetap berada di sisinya.
“Emm ...,” gumam Syafira. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sama sekali tidak terpikirkan Victor akan bertanya seperti itu. “Aku tidak tahu, Om?” jawab Syafira.
“Untuk sementara, kita sembunyikan-sembunyi dulu, nanti setelah kita berdua siap aku akan menyampaikannya pada Mama, kamu maukan?” tawar Victor.
“Iya, Om, aku juga belum siap kalau Nyonya Hani dan Pak Jaya, tahu kalau aku sebenarnya menyukai Om Victor!” tutur Syafira.
“Aku juga menyukaimu, Syafira!” sahut Victor. “Kali ini aku akan berjuang!”
“Om, menyukaiku?” tanya Syafira memastikan. “Bukan pura-pura kan?”
“Iya, aku menyukaimu Syafira!”
“Ini sudah malam, aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu sendiri Syafira!” usul Victor. Ia menuntun gadis itu untuk berdiri.
“Iya, Om!”
“Besok aku akan mengantarmu berangkat kuliah, dan aku pastikan akan menjemputmu!” ucap Victor sembari berjalan menuju kamar Syafira. Mereka saling bergandengan tangan merasa nyaman.
“Siap, Om!”
“Tidur yang nyenyak Syafira!”
“Om juga ya!”.
Pria itu mengangguk dan terus menatap ke arah Syafira, hingga pintu tertutup. Pria itu kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Victor memegangi dadanya. Syafira berhasil membuatnya merasa bahagia. Bahkan secara tidak sadar Victor senyum-senyum sendiri karena berhasil merebut Syafira dari Arsyan.
To be Continue...