
Siang hari jam 13:30 seusai jam kuliah terakhir. Safira tidak segera pulang ke kediaman keluarga Erlangga. Bersama Aleta, menyempatkan untuk makan bersama di kantin.
Mereka berdua duduk di salah satu kursi. Safira memesan bakso sementara Aleta ia memesan minuman saja. Sembari menunggu pesanan, mereka berdua mengobrol.
“Jadi Bagaimana hubunganmu dengan Om Victor?” tanya Aleta tidak sabar. Sejak tadi ia menunggu jam pulang untuk menanyakan perihal ini pada Syafira. Mendengar cerita secara langsung lebih asyik dari pada via telefon atau via pesan singkat.
“Ya, sekarang aku dan Om Victor sudah resmi berpura-pura pacaran.” Syafira mengangguk yakin dengan ekspresi berbunga-bunga.
“Terus-terus, aku penasaran apa Om Victor menyetujui semua permintaan yang kamu tulis itu?” Aleta menatap dengan penuh tanya.
Syafira menggeleng Karena tidak semua permintaan disetujui oleh Viktor. “Yang aku ingat Om Victor tidak ingin ada orang lain yang tahu hubungan kita, itu artinya hanya Om Victor dan juga kamu yang tahu!” terangnya.
Tap.
Tap.
Tap.
“Syafira, akhirnya aku menemukanmu di sini!” ujar Arsyan yang memang tadi tidak mengikuti kuliah jam terakhir. Sejak tadi pagi ia ingin bicara dengan Syafira, bertanya mengenai keadaannya. Namun, belum sempat karena Syafira sibuk mengejar beberapa mata kuliahnya yang tertinggal.
“Hei Arsyan.” Syafira mengisyaratkan pada Aleta untuk tidak membicarakan mengenai hubungannya dengan Victor. Tidak ingin melanggar permintaan Viktor agar tidak ada orang yang lain yang tahu selain mereka berdua, kecuali Aleta.
“Apa yang sedang kalian bicarakan. Apa kehadiranku mengganggu kalian?” tanya Arsyan bisa menyadari bahwa mereka berdua langsung diam.
Syafira dan Aleta menggeleng bersamaan.
“Syafira apa kakimu sudah sembuh, aku minta maaf.” Arsyan menunduk, merasa bersalah.
“Kamu tidak perlu minta maaf terus menerus, Arsyan. Tenang saja aku sudah sembuh, sekarang aku sudah bisa berangkat kuliah seperti biasa,” jawab Syafira dengan senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
“Kalau begitu Bolehkah aku mengantarmu pulang hari ini. Sebagai permintaan maaf?” tawar Arsyan. Ia sama sekali belum mengurungkan niatnya untuk mendapatkan hati Syafira. Pemuda itu masih antusias berjuang untuk mengambil hati pujaan hatinya.
Syafira melihat ke arah Aleta. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sungguh ia tidak ingin diantar pulang oleh Arsyan. Namun, jika ia tidak mau pasti Arsyan akan menanyakan alasannya.
“Kenapa diam saja memangnya ada yang marah ya kalau aku nganterin kamu? Kamu lagi dekat sama cowok ya Sya?” tuduh Arsyan.
“Tidak-tidak!” sanggah Syafira cepat. Baiklah, aku mau kok diantar pulang sama kamu.
“Nah gitu dong!” ujar Arsya seraya mengangguk Dan Tersenyum.
“Sebentar ya aku makan bakso dulu nanti baru kita pulang.”
“Aku akan mengantarmu Sya dan aku mau kok antar jemput kamu berangkat dan pulang kuliah,” tawarnya lagi.
Kali ini Syafira tidak menanggapi ia memilih diam dan mengulum senyum.
...****************...
Kemudian, ia mulai memikirkan apa yang ia bicarakan dengan Elena. Siang tadi sebelum wanita itu berangkat ke bandara. Mantan istri dari Victor Erlangga, mengutarakan bahwa dirinya curiga jika Syafira dan Victor sedang menjalin hubungan asmara.
Nyonya Hani lantas mengingat kejadian beberapa waktu silam. Saat Victor diam masuk ke kamar Syafira. Bukan hanya itu, mereka juga pergi bersama dan kali ini Elena juga merasa curiga akan hal yang sama. Lama-lama Nyonya Hani harus mengintrogasi Syafira dan Victor untuk memastikannya.
Kalau dipikir-pikir Safira memang tidak memiliki salah apapun. Namun jika benar Victor dan Syafira menjalin hubungan. Nyonya Hani menolak keras hal itu. Ia tidak bisa menerima Syafira sebagai menantu. Tidak selama ini ia menganggap Syafira sebagai seseorang yang menumpang hidup di rumahnya dan seumur hidup akan selalu seperti itu.
Daripada menunggu kurir pengantar paket, sebenarnya Nyonya Hani lebih menunggu kedatangan Syafira. Ingin menanyakan perihal itu padanya.
Terdengar suara sepeda motor berhenti dan ternyata adalah Syafira, bersama teman pria yang mengantarkannya pulang.
Syafira tidak ingin mengajak Arsyan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Nyonya Hani yang menawarkan agar pemuda itu beristirahat sebentar dan tidak segera pulang begitu saja.
__ADS_1
“Silakan masuk dulu, Nak,” tawar Nyonya Hani dengan ramahnya. Membuat Arsyan tidak bisa menolak. Akhirnya ia turun dari motor dan ikut Syafira masuk ke dalam rumah.
Nyonya Hani dan Arsyan duduk di ruang tamu. Sementara Syafira masuk ke dalam untuk mengambil minum untuk Arsya.
Bisa berdua dengan Arsyan membuat Nyonya Hani mendapat kesempatan untuk mengorek kisah asmara Syafira. Ia sungguh penasaran dan tidak mungkin menanyakan langsung pada Syafira. Ia juga tidak mau membuang-buang uang untuk menyewa detektif hanya untuk hal sepele seperti itu.
“Siapa namamu Nak?” tanya Nyonya Hani.
“Saya Arsyan Nyonya. Nama Anda Nyonya Hani kan, Syafira pernah bercerita tentang anda,” ujarnya dengan sopan dan ramah. Tidak lupa menyunggingkan senyum termanisnya.
“Nak Arsyan, apa Nak Arsyan ini sedang dekat dengan Syafira?” tanya Nyonya Hani itu the point. Sejauh ini hanya anak muda itu, yang mengantar Safira pulang kuliah. Ketika SMA pun tidak ada teman laki-laki yang mengantarnya pulang. Hanya Victor yang sesekali mengantar atau menjemputnya pulang sekolah.
“Lebih tepatnya saya sedang mendekati Syafira nyonya, sudah lama saya menyukainya. Tapi sepertinya Syafira belum membuka hatinya untukku,” terang Arsyan.
“Mungkinkah ada pria lain yang disukai Syafira?” selidik Nyonya Hani. Entah mengapa ia menjadi sangat antusias ingin sekali mengetahui kehidupan asmara Syafira. Ingin tahu apakah Safira benar-benar menjalin hubungan dengan Victor atau tidak.
Arsyan berpikir sejenak. Sejujurnya, ia tahu jika Syafira mengagumi Victor. Namun, jika dilihat dari sisi manapun kagum itu beda dengan rasa cinta. Jadi ia memilih untuk menggelengkan kepala.
“Soal itu Saya kurang tahu nyonya. Mungkin saja Syafira hanya ingin fokus dengan kuliahnya, sehingga tidak terlalu menanggapiku yang mencoba mendekatinya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berusaha mendekati Syafira untuk mendapatkan hatinya,” jwab Arsyan. Ia kembali tersenyum dan tersipu ketika mengingat Syafira.
Tiba-tiba Safira datang dari arah dapur ia membawa segelas jus jeruk dingin untuk Arsyan. “Diminum dulu,” tawarnya sambil meletakkan gelas di meja.
“Terima kasih,” ucap Arsyan mengamati Syafira. Setiap ada kesempatan, ia selalu menatap wajah cantik Syafira.
“Iya sama-sama, sebentar ya aku taruh tas di kamarku dulu,” pamit Syafira. Kembali meninggalkan Nyonya Hani dan arsyan berdua di ruang tamu.
“Meski kamu menyukai Syafira tapi kamu juga harus fokus belajar. Orang tua membiayai kuliah anaknya, agar mereka bisa sukses dan bisa meraih cita-cita. Jadi, kamu harus memanfaatkan masa mudamu dengan baik. Berpacaran itu boleh, menyukai dan mengagumi itu juga boleh, tapi kamu harus tetap fokus belajar ya Nak!” pesan Nyonya Hani.
“Iya Nyonya. Terima kasih atas nasihatnya. Iya aku tidak pernah menargetkan agar aku atau Syafira bisa pacaran. Aku juga masih sabar jika harus menunggu sampai kami berdua lulus kuliah,” jawab Arsyan dengan percaya diri. Ia merasa sedang berhadapan dengan calon mertuanya.
__ADS_1
“Baiklah kalau seperti itu. Aku percaya padamu, Nak.” Nyonya Hani mengangguk dan tersenyum. Entah mengapa ia langsung bisa percaya pada Arsyan diam-diam ia mendukung arsyan yang ingin mendekati Syafira.
To be Continue.