
Syafira bekerja di bagian kasir. Tugasnya hanya melayani pengunjung ketika melakukan pembayaran setelah selesai makan di Cafe.
Namun, ia pulang lebih cepat daripada pekerja yang lain. Tentu saja semuanya karena permintaan dari Arsyan, yang merupakan adik dari pemilik Cafe. Sampai saat ini Syafira belum tahu, jika pemilik Cafe adalah saudara Arsyan.
Seperti malam-malam sebelumnya, sebelum pulang Syafira selalu makan malam terlebih dahulu. Pun begitu dengan Arsyan dan karyawan lain.
“Sya, tadi aku sudah makan kamu makan dulu gih! Nanti selesai makan aku tunggu di depan ya,” ujar Arsyan. Ia sudah selesai berganti baju sementara Syafira saat ini baru membuka loker untuk mengambil baju ganti.
“Siap Arsyan.” Syafira mengangkat ibu jarinya. “Setelah berganti baju, aku akan makan lalu menyusulmu ke depan,” imbuhnya.
Arsyan mengangguk, lantas meninggalkan ruang loker lalu melangkah ke depan bersiap untuk mengantar Syafira.
Sembari menunggu Syafira. Arsyan duduk di dalam mobil, bersandar. Mendengarkan musik untuk istirahat sejenak. Hingga tiga lagu selesai diputar, Syafira tak kunjung datang. Tak terasa sudah lima belas menit dia menunggu.
“Kamu ngapain aja, Sya,” gerutu Arsyan yang sudah mengantuk. Ia memutuskan untuk keluar dari mobil untuk menghampiri Syafira.
Tap.
__ADS_1
Tap.
Tap.
Arsyan melangkah pelan menghampiri Syafira yang tengah berdiri menunduk di depan wastafel, yang berada di dapur.
Meski dengan posisi membelakangi, samar Arsyan mendengar isak tangis Syafira. Semakin mendekat, semakin jelas Syafira sedang menangis.
“Sya kamu menangis?” tanya Arsyan berdiri di samping gadis itu. Menatap tajam ke arah wajahnya dan mendapati mata Syafira yang memerah. Dengan tetes-tetes bening yang terus mengalir dari sudut matanya.
Syafira diam, berusaha menahan isak tangis. Ia membuang muka, tidak ingin Arsya melihatnya menangis.
Arsyan membuka pintu untuk Syafira. Setelah memastikan Gadis itu duduk dengan nyaman, ia menutup pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi. Sementara Syafira duduk di sampingnya.
Arsyan tidak langsung bertanya. Ia memilih untuk menyalakan mesin mobil dan akan mengantar Syafira pulang sekarang juga ke asrama. Jangan sampai ia terlambat atau tiba di asrama lebih dari pukul 21.00 WIB. Bisa jadi Syafira tidak diizinkan untuk masuk.
Arsyan melirik ke arah Syafira. Gadis itu kini sudah berhenti menangis, dia juga tidak terisak. Meski Syafira selalu melihat ke keluar kaca dan tidak pernah menatapnya. Arsyan memberanikan diri untuk bertanya. “Kalau boleh tahu, kenapa kamu menangis Sya?”
__ADS_1
Syafira tidak segera menjawab. Ia bahkan belum menceritakan semuanya pada Aleta, tidak mungkin pula baginya menceritakan pada Arsyan yang tidak tahu menahu mengenai hubungannya dengan Victor.
Hening. Arsyan menepikan mobilnya di tempat yang sunyi. Berharap mendapatkan penjelasan dari Syafira.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu menganggap aku ini bukan temanmu? Baiklah kalau kamu belum bisa cerita sekarang. Kamu bisa menceritakannya saat kamu sudah siap!” ujar Arsyan tidak ingin memaksam. Ia berusaha menepis semua rasa ingin tahunya. Jujur saja ia sangat penasaran alasan Syafira menangis? Mungkinkah Karena Om Victor? Arsyan hanya bisa bertanya dalam hati.
Tanpa menunggu persetujuan dari Syafira, Arsan kembali menjalankan mobilnya. Jarak asrama sudah cukup dekat kurang dari 2 menit.
Arsyan menghentikan mobil di depan pintu gerbang asrama. Sekali lagi Ia mencoba bertanya pada Syafira karena ingin tahu alasan Gadis itu menangis. “Apa kamu menangis gara-gara Om Victor?” desak Arsya seraya menoleh ke arah Syafira.
Tanpa mendengar jawaban dari Syafira. Hanya dengan melihatnya saja. Arsyan sudah tahu jika Victor lah alasan Syafira menangis.
“Apa Om Viktor yang menjadi alasanmu menangis Syafira? Kamu tidak perlu membuka bibirmu kamu cukup mengangguk jika tebakanku benar,” ujar Arsyan.
Syafira mengangguk, lalu ia membalas tatapan Arsyan. “Aku belum bisa menceritakanya Arsyan, tapi aku janji aku akan menceritakan semuanya padamu. Tidak saat in,i saat aku sudah mulai berhenti berdebat dengan diriku sendiri,” lirih Syafira.
Kemudian ia segera berbalik dan keluar dari mobil. Ia tidak ingin Arsyan melihatnya menangis lagi.
__ADS_1
Tangan Arsyan terkepal. Satu yang pasti, dia harus membuat perhitungan pada Victor. Tidak peduli pria itu lebih tua darinya. Tidak peduli dia pemilik ARRA mall. Yang jelas dia telah membuat Safira menangis dan pria itu harus menanggung akibatnya karena telah membuat gadis itu bersedih.
To be Continue...