Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Aku Pergi!


__ADS_3

Dari jam kuliah pertama hingga terakhir, pikiran Syafira tidak karuan. Ia tidak tahu langkah selanjutnya yang akan ia lakukan, tetapi Syafira sudah yakin untuk pergi dari rumah. Untuk sementara waktu, ia bisa tinggal di asrama. Lagi pula, asrama memang di peruntukkan, untuk mahasiswa dan mahasiswi semester awal.


Bukan itu masalah utamanya. Keuangan menjadi masalah utamanya, bagaimana ia menopang hidup. Membeli buku dan juga untuk kebutuhan setiap hari?


Baru setelah jam terakhir, usai. Syafira baru ingin membicarakannya dengan Aleta.


“Ayo pulang, aku yakin Om Victor sudah menunggumu di depan,” ajak Aleta. Sudah hafal, dalam beberapa hari ini Syafira di antar jemput oleh si Om.


Syafira tidak segera bangkit dari duduknya. Ia tertunduk lesu tidak menghiraukan ajakan Aleta.


“Bantu aku pindah ke asrama Aleta!” pinta Syafira.


“Mau tinggal di asrama lagi?” tanya Aleta keheranan.


“Ya, aku ingin tinggal di asrama!”


“Tapi kenapa?” Aleta kembali bertanya. Yang ia tahu, Syafira lebih suka tinggal di rumah, karena bisa sering berjumpa dengan si Om.


“Aku akan menjelaskannya nanti, yang penting sekarang bantu aku berkemas, membawa bajuku kembali ke asrama!” Syafira menegakkan kepala. Mengumpulkan tenaga, meski tidak bersemangat ia harus segera pergi dari rumah itu juga. Sudah cukup ia bergantung pada Victor. Sudah cukup ia bergantung pada keluarga Erlangga. Jika bukan saat ini kapan lagi ia akan belajar mandiri. Ya, mungkin ini menjadi awal bagi Syafira untuk mencoba pergi dai hidup Victor.


“Apa kalian butuh bantuanku?” tawar Arsyan yang sejak tadi duduk di belakang Syafira dan mendengarkan percakapannya dengan Aleta. “Kebetulan, hari ini aku bawa mobil.”

__ADS_1


“Hah, berguna juga kamu Arsyan! Ayo Sya!” ajak Aleta. Kemudian, mereka bertiga meninggalkan ruang kelas menuju ke area parkir.


Arsyan duduk di belakang kemudi, sementara Aleta dan Syafira duduk di kursi belakang. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang keluar dari area parkir menuju ke kediaman keluarga Erlangga.


Sepanjang perjalanan Syafira diam saja. Ia tampak merenung, entah apa yang dipikirkannya. Sesekali Arsyan menoleh ke belakang, melirik arah Aleta bertanya mengenai Syafira lewat isyarat mata. Namun, sama halnya dengan Arsyan, Aleta juga tidak mengetahui apapun.


Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, Syafira meminta Arsyan untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari kediaman keluarga Erlangga. Bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin aleta dan Arsyan tertangkap kamera CCTV yang berada di depan gerbang utama.


“Kalian tunggu aku di sini ya, aku akan mengambil baju dan kembali lagi ke sini,” pinta Syafira.


“Siap.”


“Siap.”


Keputusan sudah bulat. Seperti biasa Syafira bisa keluar masuk tanpa meminta izin. Pun begitu dengan sore ini. Ia masuk ke dalam rumah, dan tidak ada yang menyambutnya. Semua pelayan pasti sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Xander mungkin masih dalam jam tidur siangnya. Dan Nyonya Hani atau Pak Jaya, sungguh Syafira tidak ingin menemuinya. Pagi tadi ia sudah mengatakan akan pergi dari rumah, itu artinya ia tidak perlu berpamitan lagi terhadap orang rumah. Nyonya Hani atau pun Victor yang sudah mempermainkan perasaannya.


Mungkin bagi Victor itu hanya sebuah lelucon. Namun, tidak bagi Syafira. Itu sangat melukai hatinya! Kejam!


Sampai di dalam kamar Syafira segera mengemasi bajunya, memasukkan ke dalam koper. Dalam waktu sepuluh menit Syafira sudah selesai mengemasi semua barang-barangnya. Hanya baju yang ia bawa, sementara beberapa benda lain ia biarkan begitu saja di kamarnya. Selanjutnya, Syafira keluar rumah tanpa sepengetahuan siapa pun, kecuali satpam. Ia berhasil kembali ke dalam mobil.


“Apa semuanya sudah kamu bawa?” tanya Aleta. Mengamati koper berukuran sedang berwarna hitam yang di bawa Syafira.

__ADS_1


Syafira diam dan mengingat, baru ia menyadari ia belum membawa satu-satunya foto kedua orang tuanya yang berada di ruang perpustakaan.


“Astaga, tunggu sepertinya ada sesuatu yang aku tinggalkan!”


“Ambillah, kita akan menunggu di sini!”


“Baik!”


Syafira kembali turun dari mobil. Ia berjalan ke rumah Victor. Tujuannya sekarang adalah masuk ke perpustakaan. Semoga saja bisa masuk dan tidak terkunci. Semua berjalan sangat mulus, Syafira berhasil mengambil foto kedua orang tuanya.


Tak lupa ia memasukkan foto ke dalam sling bag warna hitam yang sejak tadi menggantung di lengan kirinya.


Namun, kali ini ada yang berbeda. Ada Om Victor, Nyonya Hani dan Xander yang baru saja turun dari mobil. Sepertinya mereka bertiga baru saja pulang dari suatu tempat.


Tanpa berkata-kata Syafira hanya mengangguk sopan, tanda rasa hormatnya kepada Nyonya Hani dan Victor.


Selamat tinggal Om.


Victor ingin mencegah Syafira, tetapi obrolannya dengan sang mama pagi tadi memaksa Victor acuh. Ia tidak tahu kalau Syafira sudah memutuskan untuk pergi dari rumah.


To be Continue…

__ADS_1


__ADS_2