Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Rapuh.


__ADS_3

Victor sedang berada di ruang kerjanya. Sebuah ruangan di lantai sembilan yaitu lantai tertinggi bangunan bertingkat ARRA mall. Ruangan dimana ia membuat keputusan-keputusan penting dalam membangun usahanya itu.


Pria itu tengah berdiri melihat keluar kaca. Sudah dua hari ia tidak berkirim pesa dengan sang kekasih. Beberapa panggilan telefon dan Chat dari Natasha pun ia acuhkan.


“Tuan, saya mendapat pesan dari Natasha, dia bertanya mengapa Anda tidak menerima panggilan telefon dan tidak pernah membalas pesan darinya, apa jawaban yang harus saya berikan?” tanya Juna. Sejenak mengalihkan pandangannya dari grafik di layar laptopnya.


“Tidak perlu di balas!” jawab Victor. Pria itu bergerak menuju telefon yang berdering. Ada panggilan telefon dari salah satu bawahannya.


“Halo,” sapa Victor. Sudah sejak pagi tadi ia menunggu telefon dari pria di seberang telefon. Ya, dia adalah Jodi. Tangan kanan yang ia suruh untuk mencari tahu siapa pria yang malam itu berada di kamar hotel yang sama dengan Natasha.


“Tuan, saya sudah mengirim semua bukti. Sebentar lagi, akan sampai ke ruangan Anda!”


“Baik, terima kasih.”


Victor mengakhiri panggilan telefon. Dan pintu ruang kantornya terbuka. Devi salah satu karyawan masuk dengan membawa sebuah map. “Tuan, seseorang mengirim map ini, dan meminta saya untuk mengantarnya.” Ucapnya.


“Taruh saja di meja!” Victor kembali berdiri di dekat jendel. Melihat pemandangan di bawah dari tempat berpijaknya saat ini.


“Ada lagi yang bisa saya kerjakan, Tuan?” Devi memang menaruh perhatian terhadap Victor. Hanya saja Victor selalu mengacuhkan. Bahkan ia memilih Juna sebagai sekretaris karena tidak ingin memberi kesempatan wanita itu untuk mendekatinya.


‘Tidak, kembali bekerja!” saut Victor tanpa melihatnya.


“Baik!” Devi kembali menelan pahit. Diacuhkan oleh Victor menjadi hal yang biasa baginya. Namun, sampai detik ini dia belum menyerah dan masih akan menunggu pria itu.


Tanpa menunggu lama setelah kepergian Devi dari ruangannya. Victor meraih map yang berada d atas meja kerjanya. I membukanya perlahan dan bersiap, siapa kiranya pria yang bermain api dengan calon kekasihnya.


Degh!


Victor terpaku. Pria di dalam selembar foto yang sedang ia genggam adalah pria yang ia kenal. Ya, pria itu adalah Jason yang merupakan sepupu jauhnya.


“Bedebah!”


“Sialan!”


“Ada apa Tuan?” tanya Juna.


“Tidak ada, kosongkan jadwalku untuk siang hingga sore ini!” titah Victor. Kemudian, ia menerima panggilan telefon dari Natasha yang berisik dari tadi pagi.


“Halo,” sapa Victor. Berusaha tenang dan meredam amarah.


“Sayang, kenapa kamu tidak menerima telefonku?” tanya suara di seberang yang lebih mirip dengan suara rengekkan.


“Aku sibuk bekerja,” sahut Victor.


“Kalau begitu, kapan kita bisa bertemu?” tanya Natasha. Merasa ada yang aneh dengan Victor. Tak biasanya pria itu hilang kabar apalagi sampai tak menghubunginya dalam waktu dua hari.


“Sekarang, temui aku di apartemen, ada sesuatu yang ingin aku konfirmasi padamu,” terangnya.


“Aku pergi sekarang Jun. Tunda semua pertemuan dengan klien, dan untuk masalah lain aku percayakan padamu,” titah Victor seraya meraih map berisi foto yang menghancurkan hatinya.

__ADS_1


“Baik Tuan. Emm— apa Tuan Victor baik-baik saja?” ekspresi wajah pria itu dapat terbaca oleh Juna.


“Ya, aku baik-baik saja.” Kemudian, Victor keluar dari ruang kantornya dan pergi menuju apartemen.


****************


Victor merasa bersyukur hari itu ia tidak masuk ke kamar Natasha. Dari luar ia memang terlihat kuat dan selalu berusaha seperti semuanya baik-baik saja. Namun, tidak seperti itu. Perceraian dengan istri pertama meninggalkan luka baginya.


Kehadiran Natasha membuatnya kembali percaya dengan cinta dan wanita. Dan kejadian ini sungguh tidak pernah terlintas di kepalanya.


Kalau bisa ia berharap Natasha akan meminta maaf dan memohon ampunannya. Dengan begitu dia akan memberikan maaf.


Bel pintu berbunyi. Victor berjalan dan membukanya. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Natasha. Wanita itu mencium pipi dan memeluk seperti tidak terjadi apa-apa.


“Sayang, kenapa kamu menghilang dan tidak ada kabar?” tanya Natasha. Ia berjalan dan menuntun Victor duduk di sofa.


Victor masih diam, dan belum menunjukkan foto sialan itu.


“Kenapa kamu diam saja, dua hari ini kamu pergi ke mana?” desak sang model.


“Kamu bisa menjelaskan ini?” tanya Victor ia memberikan beberapa foto Natasha dengan Jason saat mereka di Anyer dua hari yang lalu.


Degh.


Natasha meraih foto itu. Victor sungguh berharap, wanita itu akan bersujud dan memohon maaf kepadanya. Namun, reaksi Natasha sungguh di luar dugaan.


“Aku memang menjalin hubungan dengan Jason. Baiklah, kita sudahi saja semuanya sekarang!” ucap Natasha tanpa permintaan maaf dan segera pergi dari apartemen Victor begitu saja.


*****************


Syafira melihat isi dompetnya. Sudah menipis hanya tinggal satu lembar uang lima puluh ribuan. Ini sudah lebih dari satu hari. Seharusnya, kemarin Victor mengirim pesan atau mentransfer uang ke nomor rekeningnya. Namun, pria itu tak ada kabar bahkan tak membalas pesan darinya.


Pertama, Syafira mengirim pesan ke Nyonya Hani. Dan beliau memberitahu bahwa Victor tengah berada di tempat kerjanya. Alhasil, Syafira menelefon ke kantor, dan Juna mengatakan bahwa Victor sedang berada di apartemennya.


Awalnya, Syafira ragu. Namun, demi menyambung hidup ia tetap harus ke sana untuk mengambil uang bulanan. Dengan catatan jika di sana sedang ada Natasha, ia akan segera pulang.


Jam empat, Syafira memesan ojek online untuk mengantarnya ke apartemen Victor.


Seampainya di area parkir. Ia turun dan menggunakan selembar uang lima puluh ribuan, yang merupakan uang terakhir yang ia miliki untuk membayar ongkos ojek online.


Syafira masuk ke dalam lift. Alat transportasi dalam gedung itu mengantarnya menuju unit apartemen milik Victor.


Sebelum masuk Syafira menelefon Si Om. Dan tanpa di duga pria itu menerima panggilan telefon.


“Halo,” ucap Syafira. Namun, tidak ada sahutan. “Halo, Om Viktor di mana?” tanya Syafira.


Tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya Syafira menekan sandi dan tetap masuk ke dalam tempat tinggal milik Victor itu.


Degh.

__ADS_1


Keadaan ruang tamu apartemen tidak seperti biasanya. Berantakan! Ada beberapa foto yang tersebar di lantai. Bukan hanya itu, tirai dibiarkan tertutup sehingga tidak ada pencahayaan.


Syafira meraih satu foto. Wanita di dalam foto itu adalah Natasha, sementara pria yang bertelanjang dada dan memeluknya bukan Victor. Terjawab sudah mengapa ada botol-botol air haram itu di meja ruang tamu.


Dari botol alkohol dan gelas yang berada di meja terlihat masih baru. Syafira mencoba memeriksa kamar demi kamar.


Pertama ia membuka pintu kamar utama, yaitu ruang kamar Victor. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Syafira pergi ke kamar sebelahnya, dan ia mendapati si Om tengah duduk di lantai.


Penampilannya, tidak seperti yang ia lihat selama ini. Pria itu berantakan. Sudah pasti dalam keadaan mabuk.


“Untuk apa kamu ke sini!” teriaknya. Tidak, diantara banyak orang ia paling tidak ingin terlihat lemah di hadapan Syafira.


“Tidak Om, aku kan ke sini lain kali!” jawab Syafira berjalan mundur.


“Jangan takut, katakan ada apa?” Victor mengusap matanya dan berdiri dari duduknya. Membuat foto yang berada di pangkuannya terjatuh.


Syafira melirik ke foto itu. Foto yang sama dengan foto yang ia lihat di ruang tamu. Sudah bisa dipastikan jika Natasha benar-benar menghianati Victor.


“Aku bisa datang besok Om!” Ia tidak tega melihat Victor. Pasti pria itu sedang merasa hancur sehancurnya.


“Apa kamu sedang mengasihaniku Syafira?” suara Victor meninggi.


“Tidak, Om. Aku hanya tidak ingin mengganggu Om saja!” jelas Syafira. Tidak ingin memancing emosi si Om.


“Jangan menatapku seperti itu! Aku bukan pria malang yang perlu dikasihani!” Berdiri, seolah tidak terjadi apa-apa. Di depan Syafira ia selalu menunjukkan sisi terbaiknya.


“Tidak, Om! Aku—,” ucapan Syafira terhenti. Bibirnya bergetar.


“Iya, Natasha membuangku! Kamu benar Syafira! Dia bukan wanita yang baik untukku!” ungkapnya dengan suara yang diperjelas.


Syafira bergeming. Tidak tahu harus menjawab apa.


“Om sedang mabuk, aku ke sini besok saja!” Syafira berbalik dan berniat meninggalkan Victor.


“Apakah sudah tidak ada wanita waras di dunia ini! Elena lebih menyukai kuman dari pada hidup denganku! Dan Natasha, aku rasa ia hanya menginginkan uangku!” keluhnya, lalu meraih Syafira dalam pelukan.


“Om Victor, aku yakin suatu hari nanti Om Victor akan bertemu dengan wanita yang baik, wanita yang akan menerima Om Victor, akan memilih hidup bersama Om Victor. Dan menjadikan Om Victor prioritas dalam hidupnya.” Syafira memberi nasihat pada Victor yang masih memeluknya dengan erat.


Aku Om, aku wanita yang akan mencintai Om Victor dengan tulus. Tunggu aku Om. Tunggu aku tumbuh dewasa. Aku akan menjadi wanita cantik yang akan mencintai Om Victor.


Syafira berusaha mengurai pelukan Victor. Alih-alih melepaskan pelukannya, Victor semakin mempererat pelukannya.


****************


...Kalau bulan depan aku adakan Give Away...


...[ G A ] dengan hadiah pulsa atau saldo. ...


...Ada yang mau enggak. ...

__ADS_1


...Syaratnya Follow author dulu. ...


__ADS_2