Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Berdua di Kamar si Om.


__ADS_3

Setelah Syafira masuk ke dalam kamar. Victor tak lupa mengunci pintu. Kemudian, ia menuntun gadis itu untuk bergerak ke balkon kamarnya.


Syafira berusaha santai, meski dalam hatinya ia takut jika tiba-tiba seseorang datang dan memergopinya masuk ke dalam ke kamar Victor.


“Om apa tidak apa-apa kalau aku di sini?” tanya Syafira menghentikan langkah. Melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang lain selain mereka berdua di kamar yang luas itu.


“Iya tidak apa-apa. Memangnya ada siapa! Xander sudah pasti, akan segera tidur setelah makan malam. Elena, dia juga tidak mungkin datang ke kamar ini. Apalagi Papa dan Mama, mereka akan langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat!” sahut Victor . Ia kembali meraih jemari tangan Syafira, lalu menuntunnya untuk duduk di dua Kursi besi yang ada di balkon kamarnya.


“Tapi Om, aku takut!” keluh Syafira tidak bisa duduk dengan nyaman.


“Kamu sendiri kan yang memintaku, untuk berpura-pura pacaran. Ya seperti ini orang pacaran tiap malam berduaan!” ujar Victor santai. Melingkarkan tangan kanannya ke pundak Syafira.


Syafira tidak berani menyangkal. Kemudian ia berusaha duduk senyaman mungkin. Kalau dipikir-pikir memang neginilah orang pacaran yang selalu berduaan. Hanya, saja ia merasa takut jika tiba-tiba ada orang yang datang ke kamar Victor. Apa yang harus ia lakukan jika hal itu terjadi?


“Seharian ini apa yang kamu lakukan?” tanya Victor ia menggeser duduk, lalu menuntun kepala gadis itu agar merebah di dadanya.


“Aku tidak sibuk, aku hanya berkirim pesan dengan Aleta, membaca buku, dan menonton drama Korea, jawab Syafira mengingat apa yang ia lakukan seharian ini.


“Bagaimana dengan kakimu, apa bekas luka jahitnya masih sakit?” Pria itu menunjukkan perhatian pada Syafira.


“Sudah tidak sakit Om. Aku sudah bisa jalan seperti biasa.” Jarak mereka yang sangat dekat membuat Syafira mati gaya. Nyaman sekali bersandar di dada bidang pria itu.

__ADS_1


“Apa kamu siap berangkat kuliah besok?” selidik Victor.


“Tentu Om, aku besok harus berangkat kuliah. Rasanya sudah rindu dengan Aleta dan juga rindu dengan ruang kelasku,” jawab Syafira. Berdiam diri di rumah, membuatnya merindukan suasana kampus.


“Kamu tidak merindukan temanmu itu kan, siapa itu.” Victor pura-pura lupa menyebutkan nama teman pria Syafira yang selalu ia ingat yaitu ‘Arsyan’


“Siapa Om? Arsyan? Tidak aku tidak rindu dengan Arsya. Tapi sepertinya, dia merasa bersalah karena membuat aku terjatuh kemarin,” jelasnya. Ya, setiap berbalas pesan Arsya selalu meminta maaf padanya.


“Iya.” Hanya itu yang keluar dari bibir Victor. Perlahan ia meraih jemari tangan Syafira dan menggenggamnya. “Maaf ya ,tadi aku tidak bisa membalas pesan darimu. Dan untuk besok mungkin aku hanya bisa mengantarmu berangkat kuliah. Aku tidak bisa menjemputmu! Besok aku harus mengantar Elena ke bandara!” jelas Victor. Ia sedang mendalami perannya sebagai pacar yang baik. Ia menyukai Syafira, hanya saja ia belum mengetahui sebesar apa kadar rasa sukanya terhadap gadis itu.


“Ya Om, tidak apa-apa. Bagaimana pekerjaan Om di kantor?” tanya Syafira mencoba basa-basi. Bukankah perhatian termasuk ciri-ciri pacar yang baik. Ia mencoba menunjukkan perhatiannya pada si om.


“Om,” panggil Syafira. Tangan kekar pria itu yang terus melingkar di pundak membuat Syafira berdegup kencang.


“Iya sayang,” sahut Victor Ia menunduk menatap Syafira yang mendongak ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, dengan jarak yang dekat.


“Bolehkah aku meminta sesuatu Om,” tanya Safira. Pembicaraannya dengan Nyonya Hani, membuat ia merasa takut ketika waktu 2 bulan berakhir dan Victor menyudahi hubungan mereka begitu saja.


“Katakan saja apa yang kamu inginkan, Sya.” Victor dan juga Syafira sama-sama belum terbiasa dengan panggilan sayang yang baru saja mereka sepakati dua hari yang lalu.


“Aku ingin sebelum sandiwara ini berakhir, kita akan pergi berkencan. Kita jalan berdua begitu, Om. Hanya kita berdua dan kalau bisa aku ingin lebih dari satu kali. Kita bisa pergi ke pantai atau ke taman kota, bagaimana?” Syafira sangat antusias. Ya, hanya dengan itu mereka berdua akan mengukir kenangan. Ia bukan Natasha, yang bisa di ajak booking hotel.

__ADS_1


“Baiklah aku akan berusaha untuk mewujudkan keinginanmu itu, tapi aku tidak bisa berjanji. Sulit sekali pergi malam hari dan hanya berdua. Papa dan Mama akan curiga. Pun begitu dengan Xander yang kemungkinan besar akan ikut kalau aku keluar malam.” Victor mengutarakan hal yang sebenarnya, tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Syafira.


Gadis itu tidak menyahut. Ia sedikit kecewa dengan jawaban si Om.


“Baiklah om kalau begitu. Ya sudah aku ingin kembali ke kamarku. Aku takut ada orang yang melihat aku di sini.” Syafira yang merasa kecewa dengan jawaban Si okOm memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Baru saja ia berpura-pura pacaran. Namun ia sudah merasa benar-benar menjadi pacar Victor. Itu adalah harapannya.


“Tidak kamu harus di sini,” Victor menggenggam tangan Safira dan menahan gadis itu tetap duduk di tempatnya. Ia masih ingin ditemani Syafira.


“Tidak Om, aku harus segera kembali ke kamarku atau kalau Tante Elena tahu aku datang ke sini, semua akan menjadi kacau,” jelas Syafira.


“Tetap duduk di sini. Jangan Pergi kemana-mana, kalau kamu keluar begitu saja kamu tidak tahu siapa yang ada di luar kamar, kamu bisa ketahuan!” Victor menahan jemari tangan gadis itu.


Syafira tidak menyerah. Ia tetap berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Victor. Namun, pria itu tidak membiarkan Gadis itu lepas dari tangannya begitu saja. Dengan kedua tangan ia meraih kedua sisi pundak Syafira lalu memeluk gadis itu. “Jangan marah. Baiklah aku akan usahakan agar kita berdua bisa pergi bersama. Jangan marah ya,” bujuk Victor berbisik di indra pendengar gadis itu.


Syafira tetap berusaha melepaskan diri dari Victor. Namun, pria itu kembali meraih tubuh Syafira dan memeluk Gadis itu dari belakang. “Kamu mau pergi ke mana Sya. Apa kamu lupa kalau aku ini pacar kamu?” lirihnya dan menggoda Syafira dengan menghembuskan nafas di dekat telinga kanannya.


Bukan cuma Syafira yang merasa tegang dan jantungnya berdegup kencang. Victor juga merasakannya, apalagi ketika dua tangan kekarnya memeluk gadis itu dan tidak sengaja menekan area sensitif di dada Syafira. Victor sampai menelan ludah. Lantas, dengan lincah bibirnya mengecup belakang telinga Syafira. Turun ke lehernya lalu berakhir di bibir gadis itu, cukup lama dan dalam.


Bintang gemintang malam ini menjadi saksi bahwa Victor diam-diam menyukai Syafira. Diam-diam dia tertarik dengan Syafira dan dengan diam-diam pula perasaan cinta untuk Syafira mulai tumbuh di hati si Om.


To be Continue.

__ADS_1


__ADS_2