Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Ke Hotel?


__ADS_3

"Ayo, kita ikuti mereka!" ajak Syafira. Dia tidak rela kalau Victor dan Natasha kembali melakukan hubungan terlarang itu lagi. Syafira merasa cemburu.


"Sya, kamu yakin?" tanya Aleta, bagaimanapun tidak ingin sahabatnya itu. Terluka lebih dari ini.


Alih-alih menjawab pertanyaan. Syafira mengambil kunci motor. Kemudian, menarik tangan Aleta, untuk mengikutinya ke area parkir.


"Aku atau kamu yang di depan?" tanya Syafira. Sudah jelas ia tidak bisa naik motor.


"Sini!" Aleta merebut kembali kunci motornya. "Pakai helm."


"Iya."


Syafira membonceng, dan tak lupa memakai helmnya. Aleta, cukup memahaminya.


"Sebelum aku mengikuti Om Viktor, kamu mau berjanji padaku?" desak Aleta.


"Janji apa?"


"Hanya mengikuti dan jangan sampai membuat keributan!" tegasnya.


"Iya, aku hanya ingin tahu mereka pergi ke mana! Itu saja!" Syafira mengangguk yakin.


"Sungguh?"


"Ya!"


Aleta menyalakan mesin motornya. Lantas, ia mulai menjalankannya mengikuti mobil Om Victor. Tentu saja dengan jarak yang cukup jauh. Tidak ingin pria itu mengetahui ada dua orang yang sedang mengikuti dan memata-matainya.


Degh.


Aleta berdebar, memiliki firasat buruk ketika melihat mobil Victor berbelok, lalu berhenti di area parkir king's Hotel. Ingin rasanya mengalihkan Syafira dengan pura-pura tidak melihat, tetapi itu tidak mungkin.


"Tetap ikuti!" lirih Syafira. Bibirnya mengatup rapat, dadanya terasa sesak.


Aleta mengangguk pelan. Berhenti agak jauh dari mobil Victor. Sehingga ia bisa mengamati pergerakan dua orang yang sedang mereka intai.


Tepat ketika Victor dan Natasha masuk ke dalam hotel. Aleta baru menyuruh Syafira untuk turun dan melepas helmnya.


"Ayo ikuti mereka!" Syafira bergerak cepat. Namun, Aleta menghentikannya.


"Tunggu!" cegahnya memegangi tangan Syafira. Sekuat apapun Syafira berusaha melepaskan diri Aleta tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Hentikan Sya! Kalau kamu masuk ke dalam aku tidak mau menemanimu ke sana!" ancam Aleta. Cukup! Kalau sampai Syafira ke dalam, ia taku gadis itu akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Aku harus ke sana! Jangan melarangku!" Syafira menepis tangan sahabatnya.


Aleta tidak menyerah dan kembali menghentikan langkah kaki, Syafira.


"Kamu mau mengikuti Om Victor masuk ke kamar? Memangnya kamu siapa Sya! Sadar dong!" teriak Aleta sudah merasa kesal. Ia tidak ingin, Syafira bertindak lebih jauh dari ini.


"Tidak aku hanya ingin tahu mereka ngapain di dalam." Syafira kekeh tetap akan masuk, untuk mengikuti Victor.

__ADS_1


"Mereka sudah dewasa Sya! Tidak mungkin mereka tidak memesan kamar!" Aleta berusaha memberi pengertian.


"Aku akan tetap masuk ke sana!" kekeh Syafira.


"Berhenti Syafira!" teriak Aleta. Tidak peduli dengan beberapa orang yang melihat ke arah mereka.


Syafira berbalik melihat ke arah Aleta. Membalas tatapan sahabatnya itu dengan lebih tajam.


"Sadar diri! Kasihani dirimu sendiri! Apa kamu belum sadar juga kalau selama ini perasaanmu hanya sepihak saja! Sampai kapan kamu akan seperti ini! Mengagumi tanpa di cintai. Memperhatikan tanpa dipedulikan! Menangis sendirian setiap malam! Sampai kapan kamu akan membuang waktu demi Om Victor yang tak pernah melihat kamu sekali pun!" terangnya dengan menahan amarah. Begitulah yang Aleta rasakan selama ini. Perasaan itu, hanya Syafira sendiri yang memilikinya, berbeda dengan Victor. Pria itu bahkan tidak pernah melihatnya sama sekali.


"Diam! Tahu apa kamu!" balas Syafira tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Aleta.


"Aku tahu semuanya! Berhentilah bermimpi Syafira! Kalaupun Om Victor perhatian denganmu itu semua karena dia kasihan, bukan karena dia menyukaimu! Sadar! Kamu harus berada di taraf yang sama dengan Natasha! Baru Om Victor mau melirikmu!" cerca Aleta kejam. Ya, itu melukai Syafira tapi ia yakin itu pula yang akan membuat Syafira sadar.


Keduanya saling menatap, sama-sama marah.


"Tunggu aku di sini! Aku mau masuk ke dalam!" lirih gumam Syafira.


Huh!


Aleta bergeming. Hanya menatapnya sebagai respons. Gadis itu memang keras kepala! Sekali dia bilang akan masuk ke dalam, maka Syafira akan benar-benar masuk ke dalam.


"Aku akan menunggumu di sini!" ujar Aleta kemudian. "Lakukan apa maumu!" imbuhnya dengan ekspresi pasrah.


"Percayalah, aku tidak akan kenapa-kenapa! Aku hanya mencintai Om Victor. Aku merasa hidup ketika mengingatnya. Aku hanya--," Syafira menghentikan ucapannya.


Aleta mengangguk, sebagai tanda setuju. Dia hanya memandangi punggung Syafira yang bergerak menjauhinya.


...****************...


Setelah berhasil Check-in. Victor segera masuk ke dalam lift, diikuti Natasha. Alat transportasi dalam gedung itu mengantarkan mereka ke lantai empat di mana mereka memesan kamar.


Saat pintu lift terbuka, Victor menuntun Natasha. Mereka saling berpandangan, tidak sabar ingin segera melepas rindu.


Tangan Victor terulur membuka pintu kamar 406. Ia tak menaruh curiga sama sekali jika Syafira mengikutinya. Kemudian, ia kembali menutup pintu. Dengan pandangan selalu tertuju pada wanita yang ada di hadapannya.


"Mandilah, aku akan menunggu di atas ranjang!" pinta Victor. Tahu kebiasaan Natasha, akan mandi terlebih dahulu setelah foto outdoor.


"Ini masih jam empat, apa kamu sudah tidak sabar menunggu malam. Aku takut ada orang yang memergoki kita lagi," sahut Natasha.


"Tidak akan ada yang tahu, kita di hotel! Tidak di apartemen! Lagi pula, jam delapan aku harus pulang karena Xander pasti menungguku." Victor mengingat putranya yang belum mau tidur sebelum memastikan dia pulang kerja.


"Baik, aku mandi sebentar!" Natasha bergerak menuju kamar mandi.


Menunggu sang kekasih, Victor melepas kemeja. Kemudian, ia bertelanjang dada. Kedua manik matanya tertuju ke pintu kamar mandi.


Cklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Natasha keluar hanya dengan berbalut bathrobe yang memperlihatkan belahan dadanya.


Tanpa menunggu lama. Victor segera menghampirinya.

__ADS_1


***Bagh.


Bugh***.


Suara kemejanya dan bathrobe yang dilempar Victor ke sembarangan arah. Ia segera meraih bibir sang kekasih dan mendaratkan ciuman yang lama di sana.


Natasha membalas ciuman itu. Andai tidak berambisi ingin berkarir di Los Angeles, Natasha pasti akan Seger mengajak Victor menikah. agar bisa bebas bertemu dan bercinta tanpa sembunyi dan main petak. umpet dari Media ataupun keluarga.


Entah bagaimana, kini Natasha sudah berada di atas pangkuan Victor. Pria itu memeluk dan mendominasi setiap gerakan.


"Kau cantik sekali Nat," Victor mulai melakukan aksinya. Dan tidak ada penolakan sedikit pun dari sang kekasih.


Natasha diam, setiap sentuhan dari Victor berhasil membuat otaknya menjadi beku. Suasana semakin memanas.


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat aktivitas mereka terhenti.


"Kamu memesan service room?" tanya Natasha turun dari pangkuan pria itu.


"Tidak, aku akan memesannya nanti!" sahut Victor. Kemarin Syafira, kali ini siapa yang mengganggunya.


***Tok.


Tok.


Tok***.


Suara ketukan pintu lebih keras. Berhasil memancing emosi Victor.


"Lihat siapa yang datang!" pinta Natasha. Bergerak cepat mengambil bathrobe menutupi tubuhnya.


"Baiklah," Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun Victor berjalan ke arah pintu. Ia tidak segera membukanya.


Ia mendekatkan pandangan ke door viewer untuk mengetahui siapa ya ada di depan pintu kamarnya. Betapa terkejut pria itu ketika melihat sosok Syafira yang tengah berdiri dan menunggunya membukakan pintu.


...****************...


......Jangan lupa.......


...Vote....


...Koment....


...Tap Love....


...Jangan lupa follownya...

__ADS_1


__ADS_2