Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Petir Di Pagi Hari.


__ADS_3

Victor bangun pagi. Ia turun ke bawah dan berharap Syafira ada di dapur, seperti sebelum-sebelumnya. Namun, bukan Syafira yang ia temui melainkan mamanya yang sudah menunggunya di ruang tengah dengan ekspresi mengerikan.


“Selamat pagi Ma, sudah bangun?” sapa Victor.


“Duduklah!” titah sang mama masih menatapnya dengan tajam.


Victor yang semula ingin ke dapur, segera duduk di hadapan sang mama.


“Ada apa Ma?” selidik Victor, firasat buruk melintas dalam benaknya.


“Apa maksudnya ini!” Nyonya Hani memberikan ponselnya pada Victor.


Victor meraih benda pipih nan canggih milik sang mama. Kemudian, ia melihat apa yang terpapar di layar.


“Buka galeri dan lihat apa yang mama temukan!” Bibirnya mengatup rapat, tidak menunjukkan kehangatan sama sekali.


Victor menggeser layar ponsel sesuai petunjuk. Ia membuka Galeri dan melihat apa yang sudah ditemukan oleh sang mama hingga menunggunya sepagi ini.


Pria itu berusaha tenang mengamati apa yang dilihatnya. Ternyata selama ini sang mama diam-diam telah memata-matainya. Mengawasinya secara sembunyi-sembunyi.


Degh.

__ADS_1


Victor terdiam, menunggu apa yang akan di katakana sang mama selanjutnya, sementara kedua manik matanya masih awas mengamati foto dan video. Dan terakhir kali adalah video yang baru saja terjadi semalam. Yaitu video saat Victor keluar dari kamar Syafira tengah malam.


“Katakan! Apa kamu ada hubungan dengan Syafira!” lirih Nyonya Hani dengan penekanan. Kelopak matanya membesar memaksa pengakuan dari sang putra.


Bibir sang putra terkatup rapat. Semua foto dan Video yang dilihatnya memang tidak bisa di sangkal. Banyak sekali adegan mesra yang tercapture. Siapa pun yang melihatnya akan mengira bahwa dirinya dan Syafira adalah sepasang kekasih.


“Ya Ma, aku suka dengan Syafira!” ucapan Victor terhenti. Menahan diri untuk tidak memberitahu sang mama kalau dirinya telah meminta gadis itu agar menjadi istrinya.


“kamu jangan gila, Syafira dia lebih cocok menjadi adik daripada menjadi istrimu! Apa kamu tidak memiliki selera, dari ilmuwan, model , dan kamu menjatuhkan pilihanmu pada bocah! Pikirkan Xander!” titah Nyonya Hani.


“Apa salahnya Ma, pelan-pelan aku inginkan menjelaskan dengan Xander,” jelas Victor.


“Ma, aku—,” ucapan Victor terhenti.


“Pokonya mama tidak mau tahu, kalau kamu tidak segera mengakhiri hubunganmu dengan Syafira mama akan mengusirnya dari sini. Mama menerima dan membesarkannya sebagai keluarga, bukan sebagai calon menantu! Paham kamu!” nyonya Hani beranjak dari duduknya.


“Ma, tunggu!”


“Apalagi?” Sang mama menepis tangan Victor yang berusaha meraih tangannya.


“kalau papamu sampai tahu, kamu harus bersiap melepas jabatan pimpinan dari ARRA Mall,” ancam Nyonya Hani yang merasa sangat marah dengan Victor. Bagaimana bisa, putra yang selalu dibangga-banggakan bisa terjerat dengan pesona bocah kecil itu.

__ADS_1


“Ma,” teriak Victor tetapi wanita paruh baya itu terus berjalan tanpa menghiraukan putranya.


Victor terduduk lemas. Ada rasa sesak di ulu hatinya. Bagaimana bisa? ARRA mall, ia tidak mungkin melepaskan? Lalu bagaimana dengan Syafira/ apakah ia harus melepaskannya? Meninggalkan Syafira bisa ia lakukan, tetapi membuatnya kecewa dan menangis sungguh Victor tidak bisa.


Tap.


Tap.


Tap.


Terdengar suara langkah kaki mendekat.


“Om Victor sudah bangun?” tanya Syafira dengan kedua sudut bibir melebar membentuk senyuman. Menyapa pujaan hatinya.


“Iya, Sya, sejak kapan kamu berdiri di sini?” selidik Victor takut jika Syafira mendengar percakapannya dengan sang mama.


“Aku baru saja bangun Om, Om mau coklat hangat atau kopi?” tawar Syafira seperti pagi-pagi sebelumnya.


“Tidak, aku tidak mau minum, aku harus kembali ke kamar, sepertinya ada sesuatu yang aku lupakan,” dalih Victor dengan perasaan yang masih tidak karuan.


To be Continue..

__ADS_1


__ADS_2