
“Kamu sudah bangun?” tanya Victor memecah keheningan di antara mereka.
Ia menatap Syafira dengan lekat mencoba menebak apa arti kerlingan matanya. Jika ada kebencian atau kemarahan Victor akan menerimanya. Ia sadar betul apa yang telah dilakukannya pada Syafira itu keterlaluan. Memberi harapan, tetapi ia begitu pengecut untuk mengambi risiko.
“Kenapa Om Victor ada di sini?” Syafira balik betanya. Tak bisa dipungkiri seberapa besar pun rasa kecewanya terhadap Victor ia masih belum bisa mengenyahkan pria itu dari benaknya walau hanya sejenak.
Syafira berusaha menegakkan tubuhnya. Dengan lutut yang terluka ia merasa kesakitan saat beranjak dari tidur.
Victor melihat luka di bagian pelipis Syafira. Ia marah pada dirinya sendiri. Untung hanya pelipis dan lututnya saja, kalau sampai terjadi hal buruk pada Syafira mungkin ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Lantas, Victor pun membantu gadis itu untuk duduk. Syafira dan Victor kembali saling menatap dari dekat, lebih dekat dari tadi. Cukup dekat dan semakin dekat.
Hening.
Victor tak berani protes ketika Syafira mengacuhkannya. Mengamati lebih dekat dan lebih lama lagi, tetapi Syafira tak kunjung melihat ke arahnya.
"Syafira," panggil Victor lirih seraya meraih tangan kanan gadis bermata biru di hadapannya.
"Iya, Om," sahut Syafira memilih menunduk dari pada membalas tatapan mata pria itu. Dia malu, canggung, dan sakit. Sementara hati dan pikiran masih selalu memuja pria itu. Lebih parahnya lagi, nama pria itu terpatri dalam ingatan. Tidak bisa digantikan dengan mudah begitu saja.
“Aku minta maaf,” ucap Victor. Menggenggam jemari tangan Syafira dengan lebih erat. Memaksa gadis itu melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Aku yang minta maaf,” tukasnya.
“Aku yang salah.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Untuk menutupi rasa marah kepada dirinya sendiri yang terlalu egois. Syafira tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya. Ketika dia marah tidak menanyakan kabar, maka Syafira tidak akan berani menemuinya. Hal itu sungguh tidak terpikirkan oleh Victor sebelumnya.
Syafira memilih diam. Yang ada bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya. Bertepatan dengan pintu terbuka. Aleta dan Arsyan berdiri di ambang pintu. Menatap ke arah Victor penuh selidik.
Apa yang terjadi? Kenapa Syafira menangis? Apa ini karena OM Victor?
Melihat kedatangan kedua temannya. Syafira menutup wajah dengan kedua tangan. Malu, memperlihatkan begitu lemah dirinya saat ini. Ya, ketika ia menangis karena perasaan cintanya tidak terbalas.
Aleta memilih diam tidak berani berkata-kata. Menuduh dan bertanya yang tidak-tidak dengan Victor sama saja bunuh diri mengingau sang kakak yabg bekerja pada pria itu. Ia, tidak memiliki nyali sebesar itu. Berbeda dengan Arsyan yang menganggap Victor adalah rivalnya dalam memenangkan hati Syafira.
Arsyan menatap tajam, ia melangkah tegap menghampiri Victor . Tidak ada rasa takut atau gentar sama sekali.
"Apa yang Om Victor lakukan? Kenapa Syafira menangis? Bisa tidak, Om Victor tidak membuat Syafira menangis? Bukan Cuma sekarang, kemarin aku juga melihat Syafira menangis karena Om Victor" tuduh Arsya dengan tegas di depan mata si Om.
"Cukup Arsyan! Om Victor tidak bersalah!" sela Syafira. Seharusnya, Victor yang marah karena Arsyan sudah membuatnya celaka.
"Apa hati Om Victor terbuat dari batu! Lihat! Saat Om membuatnya menangis dan bersedih berhari-hari Syafira pun masih terus membela Om Victor!" protes Arsyan dengan suara lebih keras dari sebelumnya. Marah sekali dengan Victor yang selalu membuat Syafira sedih.
Dia sendiri, tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Syafira. Kemarin, atau pun sekarang.
__ADS_1
"Diam kamu Arsyan!" Syafira mulai jengah dengan temannya yang bermulut besar itu.
"Kalian berdua pulang sekarang! Biar aku menyelesaikan masalah ini dengan Syafira!" pinta Victor.
Menatap Aleta dan Arsyan bergantian. Ia sudah lelah untuk berdebat hari ini.
Aleta melangkah maju. Menarik paksa lengan Arsyan agar keluar dari ruang perawatan Syafira.
"Lepaskan! Aku Aleta, aku harus memberitahu Om Victor agar dia tidak semaunya sendiri! Siapa yang akan membantu Syafira kalau bukan kita!” kekeh Arsyan.
Lantas, menepis kasar dan kembali berjalan ke arah Victor.
"Sekali lagi, aku melihat Syafira menangis, Om Victor tanggung akibatnya!” ancam Arsyan tanpa rasa takut sedikit pun.
"Bocah, kenapa kamu marah! Yang seharusnya marah itu aku karena kamu sudah membuat Syafira jatuh dan mendapat luka jahit di bagian lutut dan pelipisnya!" tantang Victor tidak terima di ancam pemuda itu.
To be Continue.
komentarnya.
vote
__ADS_1
like.