
Keesokan harinya.
Syafira tidak menerima satu pesan atau satu panggilan pun dari Victor. Semalam ia sudah memutuskan untuk memblokir nomor pria itu dari ponselnya. Bukan tanpa alasan semua Syafira lakukan karena ia memang tidak bisa melupakan rasa sakitnya begitu saja.
Tidak hanya itu, entah mengapa setiap melihat ponsel, ia hanya terus menunggu pesan dari si om. Maka dari itu Syafira memilih memblokir nomor pria itu.
Ia belum bisa cerita pada Aleta maupun Arsyan. Belum siap, dan masih dibayangi rasa sakit.
Jam mata kuliah terakhir telah usai. Syafira menoleh tepat di mana Arsyan duduk di belakangnya.
“Arsyan, bolehkah aku minta bantuan?” tanya Syafira. Ia masih ingat tawaran Arsyan beberapa waktu lalu mengenai bekerja di Cafe tempatnya bekerja.
“Katakan apa yang bisa aku bantu, aku akan melakukan apapun agar bisa membantumu Sya,” sahut Arsyan sambil tersenyum ramah.
“Apa lowongan kerja di Cafe masih ada. Aku butuh perkerjaan,” ucap Syafira.
“kamu yakin ingin bekerja. Apa Om Victor mengizinkanmu untuk bekerja?” Arsyan mengingat saat bertemu dengan Om Victor dan pria itu tampaknya tidak menyukainya.
“Aku ingin belajar mandiri, tidak selamanya aku mengandalkan Om Victor, jadi apakah kamu bisa membantuku agar bisa diterima kerja di Cafe, katakana apa saja persyaratannya agar aku menyiapkannya besok!” Syafira tampak antusias.
__ADS_1
“Tidak ada syarat Sya, kamu hanya perlu datang setiap hari dan bekerja selama enam jam, sepertiku,” terang Arsyan. Ia yakin Syafira dalam keadaan todak baik-baik saja. Namun, ia tidak berani bertanya lebih jauh.
Tap.
Tap.
Tap.
Ruang kelas sudah mulai kosong. Aleta yang baru saja kembali toilet kembali menghampiri Syafira dan Arsyan.
“Ayo Sya kita pulang, aku akan mengantarmu ke asrama,” ajak Aleta yang sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Syafira mengenai kepindahannya ke asrama.
“Pergi dengan Arsyan?” tanya Aleta sebelah Alisnya terangkat menatap Syafira dan Arsya bergantian.
“Begini Aleta, jadi mulai hari ini Syafira akan bekerja denganku di Cafe,’ jelas Arsyan tidak ingin Aleta salah paham.
“Bekerja di Cafe? Apa pekerjaan yang akan kamu berikan pada Syafira, awas saja kalau dia jadi cleaning service.” Aleta terpaksa mengancam Arsyan. Selain karena Syafira tidak pernah melakukan pekerjaan kasar, selama hidup bersama keluarga Erlangga. Aleta juga tidak ingin Syafira kelelahan dan tidak sempat mengerjakan tugas kuliah.
“Tidak tenang saja, Syafira dan aku ada hanya akan menyiapkan pesanan minuman, jadi kamu tidak perlu khawatir,” terang Arsyan ia tidak ingin membuat Aleta khawatir.
__ADS_1
“Bisakah aku mempercayai ucapanmu Arsyan?” Aleta menatap Arsyan dengan penuh selidik. Di sebelahnya, ada Syafria yang semakin sadar bahwa Aleta benar-benar sahabat yang selalu ada untuknya di saat suka ataupun duka.
“Tentu. Kamu bis bertanya langsung pada Syafira, aku akan bertanggung jawab dan akan menjaga Syafira.” Arsyan mengucapkannya dengan penuh kesungguhan.
Syafira menganggukkan kepala dan langsung berhasil membuat Aleta percaya.
“Bagaimana dengan pulang kerjanya, apa kamu akan membiarkan Syafira naik ojol sendirian?” tanya Aleta. Sekali lagi dia memang selalu teliti, tidak akan membiarkan Syafira kenapa-kenapa.
“Aku yang akan mengantarnya pulang!”
“Deal.”
“Deal.”
Aleta menoleh ke arah sahabat perempuannya. “Sya, aku percaya semua keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang terbaik, jadi jangan ragu.” Aleta meyakinkan Syafira. Mulai sekarang atau nanti, sama saja. Memang tetap harus berusaha untuk mandiri agar tidak bergantung lagi dengan si Om. Tapi kenapa? Ini bahkan sangat mendadak setelah apa yang dibicarakan Syafira tempo hari bahwa Om Victor mengajaknya menikah? Mungkinkah rencana itu gagal?
“Terima kasih Aleta.”
Kemudian Syafira beranjak dari duduknya. Mereka bertiga berjalan menunu area parkir kampus. Aleta pulang ke rumah menggunakan kendaraan roda empatnya. Sementara Syafira naik ke mobil Arsyan, lantas mereka berdua menuju ke Cafe tempat Arsyan bekerja. Yaitu Cafe milik keluarganya.
__ADS_1
To be continue...