Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Resmi Berpura-pura Pacaran.


__ADS_3

Malam hari suasana kediaman keluarga Erlangga telah sunyi. Ruang tamu telah dirapikan, ditata seperti semula.


Nyonya Hani dan Pak Jaya sudah beristirahat di dalam kamarnya. Pun begitu dengan mbok Atun dan Anik. Mereka tampak lelah, dan beristirahat lebih cepat dari malam sebelumnya.


Elena yang memang berniat menginap dan meminta maaf pada Xander, kini sedang berada di kamar putranya. Ya, Ia menikmati waktu yang berkualitas hanya berdua dengan putranya, yang saat ini tepat berusia 5 tahun. Tidak ada Victor ataupun orang lain di sana. Hanya ada Xander dan Elena.


Berbeda dengan Elena yang sudah hampir terlelap karena lelah. Syafira juga sudah berada di dalam kamar. Namun, ia tidak berniat untuk tidur. Ada hal yang lain yang harus ia lakukan selain harus menagih janji pada Om Victor. Dia juga akan meminta sebuah hadiah atas jasa yang telah ia lakukan, yaitu membuat Elena hadir di pesta ulang tahun Xander.


Safira meraih telepon pintar miliknya. Benda pipih dan canggih itu adalah satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan Victor dengan dirinya, saat ini tanpa harus pindah tempat. Ia bisa saja datang ke kamar si Om yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamarnya, dan berada di lantai yang sama. Hanya saja kakinya masih terasa sakit, jalan satu-satunya adalah komunikasi via pesan.


[ Om ]


Syafira memanggil Victor via pesan singkat melalui salah satu aplikasi pengantar pesan di ponselnya. Malam ini juga, ia harus mendapat kejelasan mengenai apa yang sudah di sepakati malam sebelumnya.


[ Ya ]


Bibir Syafira manyun ke depan. Pesan balasan dari si Om tak kalah singkat dengan pesan yang telah ia kirimkan.


[ Aku ingin bicara, Om ada di mana. Jangan cari cara untuk menghindar, Om bukan orang munafik yang akan mengingkari janji kan! Apa perlu aku menuliskan hadisnya kan!


Rasulullah SAW bersabda: Tanda orang munafik tiga; apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji mengingkari, dan bila dipercaya mengkhianati. ]


Dengan semangat yang menggebu-gebu Syafira mengirim pesan itu pada si Om.


Lama sekali Syafira menunggu pesan dari Victor. Si Om, tak kujung membalas pesan padahal sudah membuka pesan yang telaah ia kirimkan.


Kedua manik mata Syafira melirik jam wukernya yang berada di atas nakas. Baru jam delapan lebih dua belas menit, tapi rasanya sudah malam sekali. Mungkin hari ini, adalah hari yang cukup melelahkan.


Hampir bosan Syafira menunggu balasan pesan dari Si Om. Namun, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu.


“Syafira buka pintunya!” lirih Victor, seraya mengetuk pelan pintu kamar.


Mendadak Syafira mati gaya. Ia kira Victor ingin berkomunikasi via pesan, tapi pria itu malah datang dan memintanya, untuk membuka pintu kamar.

__ADS_1


Tak ada pilihan lai Syafira, membuka pintu dan si Om menerobos masuk ke dalam kamarnya.


“Kenapa Om masuk ke sini? Bagaimana kalau Nyonya Hani atau Tante Elena tahu,” tegas Syafira. Ia tidak ingin mendapat masalah.


“Mama sudah tidur, dan Elena berada di kamar Xander. Aku kesepian, biasanya aku tidur dikamar Xander, dan sekarang aku tidak bisa tidur meski sesudah merasa lelah!” keluh Victor. Tanpa ragu ia merebahkan tubuhnya di samping Syafira, di ranjang single milik gadis itu yang sangat sempit jika digunakan untuk dua orang.


Hening.


Posisi seperti ini membuat Syafira beringsut. Ia hanya bisa diam dan berusaha menikmati jantungnya yang berdebar semakin kencang.


“Aku bukan orang munafik. Aku akan menepati janjiku padamu Sya. Pertama, aku akan berpura-pura menjadi pacarmu. Dan kedua, aku juga akan memberi hadiah karena kamu sudah berhasil membujuk Elena hadir di pesta Xander!” tutur Victor dengan suara berbisik, lantas ia merubah posisi duduknya miring. menghadap ke arak Syafira.


Degh.


Aliran darah Syafira berjalan dengan lebih cepat sejalan dengan debar jantungannya yang berdetak semakin kencang.


“Kalau begitu apa malam ini kita resmi berpura-pura pacaran Om?” tanya Syafira memastikan. Sebelum ia mendengar secara gamblang pernyataan yang keluar dari bibir Victor, Syafira menahan diri untuk bersorak. Tidak, ia tidak ingin merasa kecewa.


“Baik Om, mari kita buat permainannya!” sahut Syafira. Ia lantas, membuka aplikasi Microsoft word di layar ponselnya. Lantas, mengetik poin-poin yang akan ia ajukan selama berpura-pura pacaran dengan si Om.


Victor tidak melakukan apapun. Tidak ada yang ia inginkan. Dan tidak ada untung baginya mengikuti permainan dari gadis itu. Ia hanya menunggu Syafira, yang saat ini sedang sibuk menulis tuntutannya.


Victor masih sabar menunggu apa yang sedang di lakukan Syafira. Lagi pula, sekarang ia tidak khawatir sang mama akan menegurnya masuk ke kama Syafira. Ya, Victor sudah menonaktifkan semua CCTV yang berada di lantai dua. Dengan begitu semua pergerakannya tidak bisa diawasi lagi oleh sang mama.


“Ini Om,” ujar Syafira memberikan ponselnya setelah menunggu cukup lama.


“Apa ini?” Victor membuka kedua matanya lebar. Bersiap membaca hasil ketikan Syafira.


Kesepakatan dan Aturan Pura-pura pacaran.


Pihak ke 1 : Syafira.


Pihak ke 2 : Om Victor.

__ADS_1


Aturan-aturan.



Sandiwara pacaran akan berlangsung selama enam bulan.


Pihak kedua, wajib membantu pihak pertama belajar.


Setidaknya tiga kali dalam satu minggu, pihak kedua akan mengantar pihak pertama berangkat kuliah. Jika, tidak ada pekerjaan di luar kota.


Diusahkan setiap malam minggu pihak kedua akan mengajak pihak pertama. Dinner di tempat romantis. Wajib bergandengan tangan.


Tidak ada cium bibir atau sentuhan bentuk lain yang membuat pihak kedua bergairah!


Kontrak bisa diakhiri jika salah satu, jatuh cinta atau memiliki hubungan spesial dengan orang lain.



“Apa hanya ini?” tanya Victor. Ia menggelengkan kepala dengan semua isi dari aturan yang dibuat Syafira. Semua, terlalu memberatkan dirinya.


“Iya, Om hanya itu.” Syafira melebarkan kedua sudut bibirnya dan tersenyum. Ia belum mau terang-terangan menunjukkan rasa bahagianya.


“Syafira, aku akan membacanya lebih teliti lagi. Sepertinya ada beberapa yang harus aku ubah! lagi pula, di sini kamu yang menawarkan ide ini, jadi akulah yang lebih berhak membuat aturan!" Victor beranjak dari duduk, lalu ia mantap Syafira. Mengamati bekas luka di lututnya.


“Apa Om keberatan dengan peraturannya?” desak Syafira, kecewa. Ia hanya ingin bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Victor. Namun, sepertinya pria itu sudah disibukkan dengan pekerjaannya.


Victor menggelengkan kepal pelan. “Selamat tidur! Aku akan memberikan jawabannya besok!” lirih pria itu. Mencubit pelan pipi Syafira, lalu ia keluar dari kamar gadis belia itu.


To be Continue.


Lunass,


Besok 3 bab lagi.

__ADS_1


__ADS_2