Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Aturan dari Victor.


__ADS_3

Victor duduk diruang keluarga lantai 2. Ruang itu berada di tengah-tengah ruangan lain dan biasanya menjadi tempat bermain bagi putranya. Ada sofa dan TV, dilengkapi karpet bulu dengan warna abu muda senada dengan warna sofanya.


Pria itu kembali mengamati peraturan yang diberikan Syafira. Ia terkekeh tak bersuara sembari menggelengkan kepala bisa bisanya anak itu membuat peraturan yang memberatkan satu belah pihak.


Victor pun mulai membuka aplikasi Word di tablet miliknya. Lantas, mulai menulis peraturan yang ia inginkan. Peraturan yang tetap bisa menjaga haknya, yang hanya berstatus pura-pura pacaran dengan gadis itu.


Aturan-aturan dari pihak kedua yang harus dipatuhi pihak pertama.


1. Tidak ada orang lain yang boleh mengetahui kejadian ini. Terutama semua anggota keluarga pihak kedua [ Victor ].


2. Status pacaran hanya akan dijalani selama dua bulan. Tidak bisa lebih dari itu. Dan pihak pertama [ Syafira ] tidak bisa melakukan perpanjangan waktu dari waktu yang sudah disetujui pihak kedua [ Victor ].


3. Pihak kedua tidak wajib mengantar pihak pertama berangkat kuliah.


4. Pergi di malam minggu hanya jika pihak kedua sedang tidak ada jadwal kerja. Dan bukan sesuatu kewajiban yang harus dilakukan setiap malam minggu.


5. Tidak ada kontak fisik, hanya ada pegang tangan.


6. Tidak ada acara belajar mengajar. Tapi pihak pertama memiliki akses bebas untuk masuk ke ruang perpustakaan di mana banyak buku yang bisa di baca untuk menambah wawasan.


7. Semua kontak fisik, hanya bisa dilakukan ketika tidak ada orang selain pihak pertama dan pihak kedua.


Victor menatap puas ke arah layar tabletnya. Semua aturan yang ia buat tidak akan bisa membuat Syafira bermacam-macam apalagi sampai mendominasi waktu istirahat yang biasa ia gunakan bersama Xander atau me time.


Victor segera menutup layar tabletnya ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Dan ternyata, itu adalah suara langkah kaki Elena.


“Kamu belum tidur?” tanya wanita itu, tanpa rasa canggung ia mengambil uduk di sebelah mantan suaminya yang mungkin sudah satu tahun lebih tidak ia jumpai.

__ADS_1


“Ia, aku belum bisa tidur,” jawab Victor. Ia menggeser duduk dan menyempatkan untuk mengirim pesan pada Syafira. Mengirim aturan yang baru selesai diketiknya.


“Kalau begitu kita bisa bicara sebentar?” tanya Elena. Ia mengambil posisi duduk yang nyaman dan tidak ingin buru-buru pergi dari sana.


“Katakan,” sahut Victor datar dan tidak terlalu menanggapi mantan istrinya. Apa yang terjadi di masa lalu, cukup membuatnya sangat terluka.


“Tadi aku bicara dengan mama dan mama memintaku untuk memikirkan Xander. Oh iya, dua bulan lagi penelitianku di Afrika berakhir, aku akan kembali ke Jakarta, dan kemungkinan besar aku akan kembali memikirkan untuk hubungan kita ke depannya.” Elena, terpaksa menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Entah mengapa Apa yang di ucapkan mama mertuanya tadi sangat menyentuh hati. Apa lagi ia tidak bisa melihat Xander lebih dekat dengan orang lain. Meski orang itu adalah Syafira.


“Hubungan kita?” tanya Victor sinis. Tak terlintas sama sekali di dalam benaknya ingin kembali membina rumah tangga dengan Elena. pernikahannya dengan Elena yang sudah berakhir, memberikan luka dan meninggalkan trauma.


“Iya—,”


Belum selesai Elena mengatakannya Victor beranjak dari duduk. “Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita, apalagi tentang hubungan kita. Itu suda berakhir!” ujar pria itu. Lalu ia pergi meninggalkan Elena begitu saja. Masuk ke dalam kamar dan memilih untuk tidak peduli padanya.


Elena memilih acuh. Dia belum mengambil keputusan untuk usulan mama mertuanya, untuk kembali rujuk dengan Victor. Dan mengenai mantan suaminya itu, Elena sangat yakin bahwa Victor masih menyimpan rasa padanya.


* * *


Pagi harinya Syafira bangun pukul 06:05 WIB. Sesuai dengan alarm ponselnya. Kemudian, ia tidak segera membaca pesan dari Si Om. Gadis itu memilih untuk segera beranjak dari duduknya dan segera mandi. Ya, hari ini adalah jadwal kontrol luka di lututnya. Dan kemungkinan besar Victor yang akan mengantarnya periksa pagi ini juga.


Seperti sebelumnya, Syafira akan mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar Xander. Bedanya, pagi ini ada Elena yang ada di sana.


“Tante, aku izin mandi sebentar ya.” Syafira masuk ke kamar Xander dengan perlahan.


Elena mengangguk seraya menaruh telunjuknya di bibir. Meminta Syafira agar tidak menimbulkan suara karena Xander masih tertidur nyenyak.


Gadis itu mengangguk, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tak sampai lima belas menit Syafira sudah selesai melakukan semua ritual mandinya. Ia lantas, keluar dari kamar mandi. Sesuai instruksi dari Elena, ia berjalan dengan sangat pelan dan berpamitan hanya dengan isyarat jari telunjuknya.


Tanpa di duga, Elena mengikuti Syafira dan ikut masuk ke dalam kamar gadis itu.


“Ada apa Tante?” tanya Syafira.


“Bisa bicara sebentar Sya?” wanita itu menampakkan wajahnya di balik pintu.


“Oh, tante, iya silakan masuk.” Syafira mempersilakan Tante Elena untuk duduk di atas tempa tidurnya yang sempit.


“Terima kasih. Maaf aku mengganggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” pita wanita itu. Ia tersenyum ramah dan tahu cara mengambil hari wanita muda yang saat ini ada di hadapannya.


“Ada apa tante,” ujar Syafira ramah. Kali ini, ia tidak menaruh rasa cemburu pada wanita itu sedikit pun. Ia paham jika nama Elena sudah tidak ada di dalam hati Si Om.


“Ini mengenai Xander, emm— aku harus kembali ke Afrika. Aku harus menyelesaikan kontrak kerjaku yang masih dua bulan lagi, baru aku bisa kembali ke Jakarta.” Elena mengambil jeda sejenak, dan menatap Syafira sehingga pandangan mata mereka bertemu.


Syafira tidak memberikan tanggapan. Ia masih menunggu apa yang akan diucapkan wanita itu selanjutnya.


“Selama, aku belum pulang maukah kamu menjaga Xander Sya, aku tidak ingin di kesepian. Dengan adanya kam di rumah ini setidaknya ia memiliki teman bicara sebelum papanya ulang kerja. Kamu tahu sendirikan, mama tidak telaten merawat Xander?” pinta Elena. Ia menganggap ini adalah pilihan yang tepat, ia bisa menilai Syafira dari apa yang diucapkan gadis itu saat membujuknya untuk menghadiri pesta kemarin. Itu artinya, Syafira memang memiliki rasa peduli terhadap putranya.


“Iya tante, aku akan di sini selama dua bulan ke depan.” Dalam hati Syafira merasa bahagia, ia jadi memiliki alasan untuk tetap tinggal di rumah ini dan setidaknya bisa melihat Om Victor setiap malam.


“Aku percaya padamu Sya,” ungkap Elena. Ia tersenyum ramah.


“Sama-sama Tante.” Syafira membalas senyuman dari wanita yang merupakan mantan istri dari pria yang disukainya.


Tiba-tiba pintu terbuka. “Selamat pagi Sa—,” Victor tidak melanjutkan ucapannya. Terkejut melihat Elena yang berada di dalam kamar Syafira.

__ADS_1


to be continue.


__ADS_2