
Pagi hari Viktor dan Xander tengah merebah di atas tempat tidur. Keduanya sudah terjaga, tetapi sama-sama belum beranjak dari ranjang empuk yang nyaman.
“Semalam Xander tidur sama Oma kenapa pagi ini papa yang tidur di sini?” tanya Xander menoleh ke arah sang papa. Ia membuka mata lebar-lebar memastikan jika papanya uang tertidur di sampingnya.
“Semalam papa tidak bisa tidur nak, jadi papa memutuskan untuk tidur sama kamu,” jawab Victor. Sepagi ini Syafira sudah memenuhi isi otaknya.
“Memangnya kak Safira ke mana Pa? Xander sudah lama enggak lihat Kak Safira. Setiap Xander minta Oma menelepon kak Safira, Oma juga enggak mau. Kemarin, Oma malah marahin Xander, gara-gara Xander nanyain kak Safira,” keluh anak berumur lima tahun tersebut.
“Kak Safira menginap di asrama. Oh ya papa ingin membawakan Safira kembali ke rumah tidak apa-apa kan?” tanya Victor yang mengalihkan pandangan pada putranya yang masih menatapnya dengan nanar.
__ADS_1
“Iya aku lebih suka kalau kak Safira ada di rumah, aku tidak merasa kesepian karena Kak Syafira, selalu menemaniku,” ujar Xander.
Victor mengangguk semakin yakin akan membawa Syafira pulang ke rumah.
“Pa, kata Oma. Papa dan Mama akan kembali bersama seperti dulu, apa itu artinya Mama akan kembali ke rumah ini dan bisa selalu bersama Xander?” tanya anak laki-laki itu. Ekspresi wajahnya sangat polos dengan sorot mata yang tulus melihat ke arah papanya.
“Xander, papa dan mama itu sudah berpisah. Papa dan mama itu sudah bercerai. Itu artinya papa dan mama sudah tidak bisa kembali bersama lagi. Sudah tidak bisa hidup satu rumah lagi. Tapi, Mama dan papa akan selalu ada buat kamu meski kami tidak bersama lagi,” terang Victor sebisa mungkin Ia menjelaskan dengan kata-kata yang simpel agar Xander memahaminya.
“Bagaimana kalau ibu tiri Xander baik seperti kak Safira, apa Xander mau punya ibu tiri?” tawar Victor. Jujur saja ketika mengingat pertengkarannya semalam dengan Syafira. Victor semakin sadar sadar telah melakukan kesalahan karena sudah mempermainkan hati Syafira yang tulus mencintainya.
__ADS_1
“Memangnya Kak Safira bisa jadi ibu tirinya Xander? Kak Safira kan baik tapi kak Safira kan kakak bukan ibunya Xander?” tanya Xander yang memang tidak tahu menahu masalah orang dewasa.
“Jadi Xander mau kalau Kak Syafira jadi mamanya Xander? Xander enggak menolak kan kalau Kak Syafira jadi ibu tirinya Xander?” tanya Victor memastikan selama ini ia selalu takut untuk mengutarakan dan menyampaikan hal itu pada putranya. Ini adalah kesempatan bagi Victor untuk menjelaskan mengenai dirinya dan Syafira.
“Tentu saja Xander tidak menolak Pa, Kak Syafira baik dia juga mau nemani Xander bermain, baca buku, juga kadang mau menemani standar menonton kartun.” Tidak hadirnya Safira akhir-akhir ini benar membenar membuat Xander merasa kesepian.
“Baiklah Xander ini rahasia kita berdua ya. Papa pastikan akan membawa kak Syafira pulang ke rumah dan menjadikannya ibh untukmu. Sekarang kita berdua mandi dan sebelum mengantarmu ke sekolah kita sama-sama menjemput kak Safira. Xander mau kan?” tawar Vjktor tiba-tiba mendapatkan ide berlian agar Syafira mau pulang ke rumah.
“Ya Papa Xander mau menjemput kak Safira,” teriak Xander tak kalah antusias.
__ADS_1
“Bagus Xander, ayo kita mandi!” ajake Victor lebih bersemangat dari sebelumnya. Pun begitu dengan Xander, ia sudah merindukan Syafira dan berharap memiliki teman bermain agar tidak kesepian ketika di rumah.
To be Cobtinue...