
Pagi harinya Victor menemui sang mama yang biasanya di dapur sekedar menemani kedua pelayannya memasak menyiapkan sarapan.
“Ma,” panggil Victor mengisyaratkan agar mengikutinya berjalan menuju taman belakang.
Nyonya Hani mengambil segelas kopi milik Victor dan mengikuti putranya ke taman belakang.
“Ini minumnya,” tawar sang mama seraya menaruh kopi di depan Victor.
“Terima kasih Ma,” ucapnya. “Mulai sekarang, mama jangan menanyai Syafira lagi. Mama seharusnya bertanya langsung padaku karena akan menjadi beban untuk Syafira jika mama terus menanyai sesuatu yang bukan menjadi ranahnya,” terang Victor. Ya, lebih baik sang mama menanyainya secara langsung.
“Oh, baiklah. Maaf, mama tidak tahu!” sahut Nyonya Hani yang memang tidak pernah mengutamakan Syafira.
“Ya tak apa, jadi aku akan menjawab sendiri mengenai apa yang mama tanyakan pada Syafira,” kata Victor.
Nyonya Hani mengangguk dan bersiap mendengar jawaban dari putranya.
“Jadi begini Ma, hubunganku dengan Natasha sudah berakhir. Mama tahu kenapa aku tidak ingin bertemu dengan Jason. Karena Natasha juga menjalin hubungan dengan Jason di belakangku Ma. Seandainya Natasha meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, aku pasti akan memaafkan dan melanjutkan niatku untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Namun, Natasha tidak minta maaf bahkan terkesan bangga dengan pengkhianatan yang telah ia lakukan!” jelas Victor.
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari bibir Nyonya Hani. Bukan Victor, tetapi ia lebih memikirkan Xander yang butuh sosok seorang mama.
“Maaf Ma, aku tidak bermaksud membuat papa dan mam kecewa, tapi aku sadar tidak bisa menyembunyikan hal itu dari mama dan papa,” ucap Victor. Mau bagaimana pun, meski ia memprioritaskan mencari pasangan hidup. Meikah bukan hal yang bisa di bicarakan sekarang dan dilakukan besok. Terlebih untuk seorang duda seperti Victor yang pernah mengalami kegagalan rumah tangga.
“Iya, tak apa. Tapi mulai sekarang, mama akan mulai memperkenalkanmu dengan anak rekan mama. Kammu tahu Xander butuh sosok mama, dan mama tidak bisa berharap pada Elena yang lebih suka bergumul dengan bakteri!” ujarnya.
Victor tidak merespons. Mencari sendiri saja kandas apalagi kalau sang mama yang mencarinya.
“Bailah, kamu bersiaplah berangkat kerja! Mama tunggu di ruang makan, ingatkan Syafira untuk jangan kelamaan. Bangunkan dia kalau belum bangun!” pinta sang mama.
“Baik Ma!”
Ya, Syafira biasanya akan mandi di kamar mandi lantai bawah. Dan gadis itu belum terlihat sama sekali batang hidungnya pagi ini.
Nyonya Hani kembali ke dapur untuk melihat pelayannya memasak, sementara Victor dengan riang gembira naik ke lantai dua menuju kamar Syafira. Ya, dia memiliki alasan untuk bertemu dengan gadis itu pagi ini.
Tiba di depan pintu kamar Syafira Victor melihat ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan. Setelah di rasa aman, barulah ia mengetuk pintu.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
“Bangun, Sya!” Victor sedikit berteriak.
“Aku sudah bangun kok Om,” sahut Syafira membuka pintu. Aa hanudk dan baju di tangannya bersiap akan ke bawah untuk mandi.
“baguslah mandi yang bersih ya, setelah itu kita makan bersama!” ujar Victor.
“Siap Om.” Syafira yang masih kucel menundukkah wajahnya. Tidak berani memperlihatkannya pada Victor.
Syafira turun k lantai bawah untuk mandi, sedangkan Victor kembal ke kamarnya. Dengan bergegas Syafira memacu kakinya agar segera sampai di lantai bawah tak lupa ia menyapa Nyonya Hani dan Mbok Atun yang sedang memasak.
“Mbak Syafira,” teriak Mbok Ijah dengan suara kerasnya.
“Iya ada apa Mbok,” sahut Syafira menghentikan langkahnya.
“Jangan mandi di sana! Saluran airnya rusak sejak pagi,” kata Mbok Atun yang memang selalu bangun paling pagi.
“Baik Nyonya!” sahut Syafira dengan berat hati ia harus melangkah ke lantai dua. Menuju ke kamar Xander, ia bisa lebih nyaman jika mandi di sana. Dari pada haus mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur si Om.
“Mbak Anik aku mau numpang mandi,” izin Syafira setelah sampai di kamar Xander.
“Maaf Mbak Syafira, sejak tadi Xander masih asyik main air dengan robot-robotnya! Kalau aku paksa dia suka menangis dan tidak mau berangkat sekolah. Bagaimana kalau Mbak Syafira tunggu jam tujuh?” sahut Anik.
Syafira menggeleng pelan. Satu-satunya Solusi agar ia bisa mandi dengan cepat dan tidak terlambat berangkat kuliah adalah mandi di kamar mandi dalam di kamar Victor.
“Om Victor!” panggil Syafira.
“Ya,” sahut Victor yang baru mau mandi. Ia belum mandi karena baru saja selesai melihat jadwal kerjanya hari ini.
Cklek. Pintu kamar terbuka.
“Aku mau numpang mandi Om, kamar mandi di bawah salurannya rusak. Dan Xander ia belum selesai mandi. Maukah Om Victor meminjamkan kamar mandinya, hanya lima menit!” pinta Syafira dengan raut memohon.
“Emm aku mandi dulu ya. Nanti baru kamu!” Victor berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
“Tapi cepat ya Om,” Syafira mrenges hanya untuk mandi pagi saja ia sudah naik turun tangga. Tidak ada bedanya dengan kehidupannya di asrama.
“Enak saja, apa kamu sadang menyuruhku Sya?” ujar Victor menghentikan langkahnya.
“Tidak Om, aku hanya tidak mau terlambat berangka kuliah!” bela Syafira.
“Kan aku yang antar kamu kuliah.” Victor berbalik dan kembali melangkahkan kakinya. “Untuk menghemat waktu bagaimana kalau kita mandi bersama,” tawar Victor menoleh dan menatap Syafira seraya mengerlingkan matanya.
“Tidak perlu Om, mandi saja dulu! Aku terlambat enggak papa!” Syafira menyunggingkan senyum palsunya.
“Kau yakin? Ini kesempatan langka loh! Kapan lagi aku tawarin kamu buat mandi bareng.” Victor masih sempat bercanda padahal jam d dinding sudah hampir menunjukkan pukul tujuh.
“Om Victor!” Suara Syafira penuh penekanan.
“Iya ampun deh, aku mandi sekarang nih!” Victor berlalu ke kamar mandi meninggalkan Syafira di puncak rasa kesalnya.
Syafira duduk di tepi ranjang. melihat ke satu-satunya foto yang masih terpasang dengan rapi di salah satu sisi dinding. Ya, itu adalah fto pernikahan Victor dengan istri pertamanya.
mereka tampak sangat serasi. senyuman mereka menggambarkan perasaan
bahagia. Ya, dua orang yang saling mencitai dan sudah menikah saja bisa bercerai.
Dalam hati Syafira berjanji jika satu hari nanti menikah dengan Victor. tidak akan ada kata cerai atau berpisah di antara mereka. Apa yang terjadi saat ini begitu membahagiakan. Ini adalah suatu perkembangan untuk hubungannya dengan Victor. Disaat mereka lebih sering bertemu dan lebih dekat dari sebelumnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Victor yang bertelanjang dada dan hanya melingkarkan handuk dipinggang keluar dari kamar mandi.
"Kau bisa mandi sekarang, Sya!"
"Iya Om," sahut Syafira menelan ludah melihat roti sobek di hadapannya.
"Biasa saja lihatnya! Apa kamu tidak pernah melihat pria tampan seprtiku?"
"Enak saja!' Syafira melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar mandi. Melewati om tampan begitu saja.
KOMENTRNYA MANA
To be Continue
__ADS_1