Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Tidak Peka.


__ADS_3

Syafira berdiri di depan pintu ruang kerja Victor. Entah apa yang membuat pria itu sepulang kerja pun masih mendekap di ruang kerjanya yang ada di samping kamar. Apa semua pengusaha seperti itu. Pekerja keras dan mengharuskan memiliki tempat kerja di kantor dan juga di rumah.


Cukup lama ia berdiam sebelum akhirnya mengetuk pintu sangat pelan. Seraya memanggil pria di dalam sana.


“Om Victor,” sebut Syafira pelan dengan mengetuk pintu.


“Masuklah!” sahut Victor. Tidak mengalihkan pandangan dari buku besar yang sedang dibacanya.


Pintu terbuka. Meski was-was Syafira tetap berjalan mendekat menghampiri si Om. “Om, bisakah bicara sebentar, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,” ujar Syafira. Berdiri di hadapan si Om. Ya, hanya ada satu kursi di sana.


Benda lain yang ada di sana adalah lemari yang berisi buku-buku. Ini kali pertama Syafira masuk ke dalam ruang kerja Om Victor. Banyak buku-buku besar yang tertata rapi, mungkinkah pria itu sedang pamer. Selain hobi berganti-ganti pacar, ia juga hobi membaca buku.


“Ada apa Syafira.” Victor menaruh buku dan menutupnya. Dipandang si gadis yang berdiri di hadapannya. Suhu panas di kota Jakarta yang mengharuskan menyalakan AC ternyata tak berlaku untuk Syafira. Nyatanya ia mengenakan jaket bulu musim dingin di bogor.


“Bisakah kita bicara di luar?’” Syafira menoleh ke kanan dan kiri. Cuma hanya ada satu kursi di sana. Kursi yang digunakan duduk untuk Victor.

__ADS_1


“Kita bicara di sini saja!” kekeh Victor. Tidak ingin menuruti permintaan Syafira.


“Oh, baiklah Om!” Syafira mengambil posisi berdiri senyaman mungkin.


“Katakan ada apa?’” Victor memandang Syafira dengan tatapan tajam. Sengaja membuatnya kege-eran.


“Begini Om, tadi Nyonya Hani bertanya mengenai hubungan Om Victor dengan Kak Natasha. Beliau berharap mendapat kabar baik mengenai hubungan kalian!” ujar Syafira.


“Lalu apa lagi?” tanya Victor menatap Syafira tanpa berkedip. Senang sekali melihat gadis itu salah tingkah. Mungkin ini akan menjadi hobi barunya.


“Apa yang harus aku katakan pada Nyonya Hani. Sudah tidak sabar ingin mendengar kabar mengenai pertunangan Om Victor dengan Kak Natasha!” terang Syafira berharap si Om akan segera memberikan jawaban dan segera menyampaikannya pada Nyonya Hani.


“Om,” panggil Syafira mulai lelah hanya berdiri di sana tanpa mendapat penjelasan.


“Apa yang harus saya katakan pada Nyonya Hani, apa aku harus mengatakanya dengan jujur apa yang terjadi antara Om Victor dan Kak Natasha?” desak Syafira.

__ADS_1


“Biarkan aku berpikir sebentar Sya!” Victor menutup buku dan hanya memandangi Syafira. Ia mulai menelaah apa yang terjadi pada dirinya. Akhir-akhir ini, Syafira sering hadir saat ia membuka atau menutup mata. Pasti ada yang alah dengan dirinya bukan? Bahkan buku tebal dengan tulisan kecil berisi ilmu astronomi tentang bintang-bintang, tak membuatnya mengenyahkan bayangan Syafira dari pelupuk mata.


Syafira hanya menunggu. Lama-lama kakinya terasa pegal. Tidak terasa sudah dua puluh menit ia berada di dalam ruang kerja Victor dan tidak ada tempat duduk. Ia pun bergeser ke almari dan bersandar di sana. “Apa OM sudah menemukan jawabannya? Kenapa sejak tadi Om melihatku seperti itu?” Syafira kesal, tetapi ia juga suka berada di dekat Victor.


“Aku belum menemukan jawabannya Sya, apa aku harus menjawabnya malam ini juga?” tanya Victor. Ia tidak menyangka Syafira akan menunggunya sampai memberi jawaban.


“Iya Om. Nyonya Hani akan terus menanyaiku dan membuatku tidak nyenyak, kalau Om Victor tidak menjawab malam ini juga!” tegas gadis itu. Mulai gerah karena hanya menjadi tukang pos yang menengahi antara Nyonya Hani dan putranya.


“Tunggu sebentar lagi, aku masih belum selesai berpikir!” ujarnya tanpa merasa bersalah.


“Bisa cepat sedikit enggak Om, aku capek berdiri terus. Lagian ruangan sebesar ini masak enggak ada sofanya. Cuma ada kursi single yang muat hanya untuk satu orang!” gerutu Syafira. Bibirnya manyun satu senti.


“Kalau kamu capek berdiri kamu bisa duduk di pangkuanku,.” Victor menggeser duduknya mempersilakan Syafira untuk duduk.


“Om Victor aku sedang tidak bercanda! Nyonya Hani sedang menunggu jawaban dariku! Kalau Om masih bercanda aku akan keluar dari ruangan ini sekarang juga!” Syafira melontarkan kata-kata itu dengan penekanan. Kesal karena si Om masih saja bercanda dan tidak memahami penderitaannya.

__ADS_1


Dengan emosi yang tertahan, Syafira bergerak melewati Victor. Ia membuka pintu tergesa dan keluar begitu saja. Tidak memberikan kesempatan Victor untuk berkata-kata.


* * *


__ADS_2